Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Internasional

Suhu Panas Capai 40 Derajat Celcius, Jepang Catat ‘Kokushobi’ Pertama

Richard Wilson - tajuknusa.com 3 mins read

Tokyo, Beritasatu.com – Jepang resmi memasuki babak baru dalam sejarah cuaca negaranya. Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada April 2026 memperkenalkan istilah

Suhu Panas Capai 40 Derajat Celcius, Jepang Catat ‘Kokushobi’ Pertama

Jepang Catat Momen Bersejarah Saat Suhu Panas Capai 40 Derajat Celcius

Tajuknusa.com – Tokyo, Beritasatu.com – Jepang resmi memasuki babak baru dalam sejarah cuaca negaranya. Badan Meteorologi Jepang (JMA) pada April 2026 memperkenalkan istilah kokushobi sebagai penanda resmi hari-hari dengan suhu ekstrem. Istilah ini digunakan ketika termometer menunjukkan angka 40 derajat celsius atau lebih tinggi. Fenomena ini menandai pertama kalinya suhu panas capai 40 derajat secara resmi dicatat dengan kategori baru tersebut, sekaligus menjadi peringatan penting bagi masyarakat akan potensi bahaya cuaca panas yang semakin meningkat.

Pada Selasa, 21 Juli 2026, tiga wilayah di Jepang berhasil menembus batas suhu 40 derajat celsius. Gujo dan Tajimi yang berada di Prefektur Gifu, serta Toyota di Prefektur Aichi, semuanya mencatatkan angka yang sama atau bahkan melampauinya. Lebih menarik lagi, Gujo dan Toyota berhasil memecahkan rekor suhu tertinggi sepanjang sejarah stasiun cuaca masing-masing. Gujo mencapai 40 derajat celsius, sementara Toyota mencatatkan 40,1 derajat celsius. Informasi ini dilaporkan oleh The Guardian pada Rabu, 22 Juli 2026.

Dari total 914 stasiun cuaca yang tersebar di seluruh Jepang, sebanyak 278 stasiun berhasil mencatat suhu di atas 35 derajat celsius.

Sejarah dan Makna Kokushobi dalam Sistem Peringatan Cuaca

Sebelum adanya istilah kokushobi, kondisi serupa telah dikategorikan sebagai moshibi atau hari yang sangat panas. Sebelumnya, moshibi merupakan tingkat peringatan tertinggi yang dikeluarkan oleh Badan Meteorologi Jepang. Dengan diperkenalkannya kokushobi, sistem peringatan cuaca Jepang kini memiliki lapisan tambahan untuk mengidentifikasi hari-hari dengan suhu yang benar-benar ekstrem. Gelombang panas yang melanda negara tersebut juga telah menyebabkan korban jiwa. Pada Senin, 20 Juli 2026, seorang pria berusia 40-an ditemukan meninggal dunia di sebuah jalan di Kota Sanjo, Prefektur Niigata. Di hari yang sama, seorang pria berusia 70-an di Prefektur Kanagawa, yang terletak di sebelah barat daya Tokyo, juga dilaporkan meninggal. Kedua korban tersebut diduga tewas akibat paparan suhu panas yang ekstrem.

Data dari Badan Manajemen Kebakaran dan Penanggulangan Bencana Jepang menunjukkan bahwa jumlah kematian akibat serangan panas untuk pertama kalinya melampaui 2.000 kasus pada tahun 2024. Sementara itu, lebih dari 100.000 orang harus menjalani perawatan di rumah sakit akibat dampak panas selama periode awal Mei hingga akhir September 2025. Angka-angka ini menunjukkan bahwa fenomena suhu panas capai 40 derajat bukan hanya kejadian langka, melainkan tren yang semakin mengkhawatirkan.

Dampak pada Sektor Pertanian dan Upaya Adaptasi

Kenaikan suhu yang terus terjadi juga memberikan dampak signifikan pada berbagai sektor kehidupan di Jepang, termasuk pertanian. Produksi dan kualitas beras sebagai makanan pokok mengalami tekanan akibat cuaca yang semakin panas. Sebagai langkah adaptasi, para petani mulai memperluas penanaman varietas padi yang lebih tahan terhadap suhu tinggi. Sebagian lainnya beralih membudidayakan tanaman seperti alpukat, yang sebelumnya tidak banyak ditanam di Jepang. Perubahan pola tanam ini merupakan respons nyata terhadap tantangan iklim yang dihadapi negara tersebut.

Selain sektor pertanian, kehidupan sehari-hari masyarakat Jepang juga terpengaruh. Banyak sekolah dan kantor yang menyesuaikan jadwal aktivitas mereka untuk menghindari jam-jam terpanas. Program edukasi publik juga gencar dilakukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang bahaya dehidrasi dan heatstroke. Dengan sistem peringatan kokushobi yang baru, diharapkan masyarakat dapat lebih siap menghadapi gelombang panas di masa depan.

Join the discussion