Special Plan: Karyawan Starbucks Korea Bentuk Serikat Seusai Promo Kontroversial
Starbucks Korea Bentuk Serikat Usai Kontroversi Promosi Special Plan - Kontroversi promosi "Tank Day" yang diadakan Starbucks Korea pada 18 Mei 2026 memicu
Special Plan: Karyawan Starbucks Korea Bentuk Serikat Usai Kontroversi Promosi
Special Plan – Kontroversi promosi “Tank Day” yang diadakan Starbucks Korea pada 18 Mei 2026 memicu aksi besar-besaran dari karyawan perusahaan. Sebagai respons atas kekecewaan publik, para pekerja memutuskan untuk membentuk serikat pertama mereka sejak 1999, ketika Starbucks mulai beroperasi di Korea Selatan. Serikat ini diumumkan melalui Federasi Serikat Pekerja Kimia, Tekstil, dan Pangan Korea pada 16 Juli 2026, menandai langkah signifikan dalam perjuangan karyawan untuk hak dan perlindungan kerja mereka. “Special Plan” juga menjadi bagian dari upaya ini, dengan tujuan memperkuat posisi pekerja dalam perusahaan.
Backgroud Kontroversi “Tank Day”
Promo “Tank Day” yang memperkuat konsep “Special Plan” Starbucks Korea menuai kritik tajam karena dianggap menggambarkan hubungan tak seimbang antara manajemen dan karyawan. Acara ini dilakukan di tengah peringatan ke-46 tahun Pemberontakan Gwangju, yang memperingati tragedi represi pemerintah terhadap gerakan demokrasi pada 1980. Dalam kejadian itu, sekitar 165 warga sipil tewas, dan tindakan Starbucks menyerupakan hari tersebut dengan promosi “Tank Day” memicu kemarahan publik. Banyak orang menganggap ini sebagai upaya memanipulasi sejarah untuk mempromosikan produk perusahaan.
Formasi Serikat dan Tujuannya
Karyawan Starbucks Korea akhirnya membentuk serikat pekerja mereka sebagai tanggapan atas kekecewaan terhadap pola kerja yang dianggap terlalu keras. Serikat ini bertujuan untuk memperjuangkan hak-hak pekerja, meningkatkan kondisi kerja, dan menciptakan keseimbangan dalam hubungan antara karyawan dan manajemen. Dalam pernyataan resmi, mereka menegaskan bahwa “Special Plan” sebelumnya tidak memberikan peningkatan nyata bagi para pekerja, bahkan justru memperparah beban kerja mereka. Mereka juga mengungkapkan bahwa perusahaan sering kali mengadakan promosi yang memaksa karyawan memenuhi target penjualan, meskipun sebagian besar berada di luar kapasitas normal.
“Kami percaya bahwa ‘Special Plan’ harus menjadi alat untuk meningkatkan kesejahteraan karyawan, bukan hanya untuk mengoptimalkan keuntungan perusahaan,” kata perwakilan serikat dalam pernyataannya. “Pada saat yang sama, promo ‘Tank Day’ yang dilakukan sebelumnya menunjukkan sikap perusahaan yang tidak peduli dengan perasaan pekerja.”
Selain itu, serikat ini juga menyoroti penutupan lebih dari 2.000 cabang Starbucks di seluruh Korea Selatan sebagai upaya pendidikan terhadap sejarah Pemberontakan Gwangju. Aksi ini memperlihatkan dampak nyata dari kekecewaan publik, termasuk penurunan penjualan Starbucks dalam beberapa hari setelah kejadian tersebut viral. Kebijakan “Special Plan” dianggap sebagai bukti perusahaan belum sepenuhnya memahami pentingnya nilai-nilai sosial dalam bisnis mereka.
CEO Starbucks Korea yang sebelumnya mengundurkan diri setelah kontroversi “Tank Day” telah menandatangani kesepakatan dengan serikat untuk terus berkomunikasi. Meski perusahaan belum merinci jumlah anggota serikat, langkah ini menunjukkan upaya untuk memperbaiki hubungan dengan pekerja. “Special Plan” kini dianggap sebagai bukti komitmen Starbucks Korea untuk menyesuaikan kebijakan mereka sesuai dengan harapan karyawan. Namun, serikat tetap mengingatkan perusahaan agar tidak hanya fokus pada profit, tetapi juga pada keadilan dalam lingkungan kerja.
