Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Internasional

Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya Sendiri, Kenapa?

Mark Anderson - tajuknusa.com 3 mins read

Ketegangan antara Teheran dan Washington terus memanas di tengah berbagai skenario militer yang sedang dibahas. Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya

Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya Sendiri, Kenapa?

Iran Siap Mengebom Wilayah Sendiri Jika AS Melancarkan Invasi Darat

Tajuknusa.com – Ketegangan antara Teheran dan Washington terus memanas di tengah berbagai skenario militer yang sedang dibahas. Militer Iran Ancam Bombardir Wilayahnya Sendiri – pernyataan tegas ini muncul ketika pasukan Amerika Serikat mempertimbangkan opsi invasi darat ke wilayah Iran. Ancaman tersebut menjadi sorotan utama dalam diskusi mengenai kemungkinan eskalasi konflik di kawasan Teluk Persia. Kekhawatiran akan meluasnya pertempuran semakin nyata seiring dengan meningkatnya intensitas serangan udara.

Brigadir Jenderal Mohammad Akrami-Nia, sebagai Juru Bicara Militer Iran, menegaskan bahwa negaranya tidak akan membiarkan wilayahnya diduduki oleh pasukan asing. Dalam siaran televisi pemerintah pada Selasa (21/7/2026), ia menyampaikan pernyataan tegas yang mengejutkan banyak pihak:

“Jika Amerika menduduki wilayah kami, kami bahkan akan membom wilayah kami sendiri. Inilah logika perang,”

Pernyataan tersebut disampaikan tepat ketika Komando Pusat AS memasuki hari ke-10 serangan terhadap berbagai sasaran di Iran. Sementara itu, Presiden Donald Trump dikabarkan akan menentukan langkah lanjutan dalam beberapa hari ke depan. Salah satu opsi yang kini mulai dibahas secara terbuka adalah kemungkinan operasi darat yang melibatkan ribuan personel militer.

Opsi Operasi Darat Pentagon

Laporan dari The Washington Post mengungkap bahwa Pentagon sedang menyiapkan sejumlah opsi operasi darat di Iran. Langkah ini tidak mengarah pada invasi penuh, namun berpotensi melibatkan ribuan personel militer selama berminggu-minggu hingga berbulan-bulan. Gedung Putih menyatakan bahwa Pentagon hanya diminta menyiapkan berbagai alternatif dan belum ada keputusan akhir dari Presiden Trump mengenai langkah konkret yang akan diambil.

Di sisi lain, Manouchehr Mottaki, mantan menteri luar negeri Iran yang kini menjadi anggota parlemen, mendorong pemerintah mengambil langkah lebih agresif terhadap AS. Ia menyoroti intensifikasi ancaman dari Washington yang semakin hari semakin nyata:

“Ancaman AS semakin intensif, dan mereka mengatakan akan merebut Pulau Kharg dan mengambil alih fasilitas minyak Iran,”

Mottaki bahkan mengusulkan agar Iran tidak hanya menyerang pangkalan militer AS di kawasan, tetapi juga menangkap prajurit Amerika. Ia menjelaskan bahwa strategi ini bisa menjadi cara efektif untuk menekan Washington:

“Saya sudah lama menganjurkan perang darat. Kita harus merebut salah satu pangkalan AS di wilayah tersebut, menangkap pasukannya, dan membawa mereka kembali ke negara kita,”

Respons Militer Iran terhadap Invasi AS

Ahmad Bakhshayesh Ardestani, anggota parlemen Iran, juga menyebut bahwa Iran dapat mempertimbangkan operasi darat ke Kuwait dan Bahrain apabila AS benar-benar menginvasi wilayah Iran. Menurutnya, apabila AS berhasil menguasai Pulau Kharg, penguasaan tersebut hanya akan berlangsung sementara karena pulau itu tetap berada dalam jangkauan rudal Iran.

“Rudal Iran dari Semnan, Zahedan, Isfahan, dan tempat lain dapat mencapainya. Menduduki Pulau Kharg akan mengubahnya menjadi target bagi Iran,”

Di tengah meningkatnya ketegangan, muncul pula spekulasi mengenai kemungkinan operasi Iran ke Pulau Bubiyan, Kuwait. Sejumlah tokoh politik Iran dan akun media sosial membahas skenario penggunaan pasukan elite Saberin dari Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) melalui wilayah Irak selatan apabila AS melakukan operasi di Iran. Meski demikian, laporan mengenai pergerakan militer Iran menuju perbatasan Kuwait belum dapat diverifikasi secara independen.

Sebelumnya, pada 1 Mei 2026, otoritas Kuwait mengeklaim telah menangkap empat orang yang mengaku anggota IRGC setelah mendarat di Pulau Bubiyan menggunakan kapal nelayan. Pemerintah Iran membantah tuduhan tersebut dan menyatakan para perwira memasuki perairan Kuwait akibat gangguan sistem navigasi.

Trump sebelumnya juga memperingatkan bahwa Iran akan menghadapi konsekuensi lebih besar apabila terus menyerang kepentingan AS di kawasan. Ia menulis melalui media sosial Truth Social:

“Setiap kali Iran membunuh seorang tentara AS, mereka akan membayar pembunuhan itu berkali-kali lipat,”

Join the discussion