Gegara Serang Iran AS Tekor Rp 675 T, Pentagon Minta Dana Darurat
Washington — Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan pembengkakan biaya perang yang signifikan
Pentagon Mengajukan Dana Darurat Seiring Biaya Perang Iran Melonjak
Tajuknusa.com – Washington — Konflik yang kembali memanas antara Amerika Serikat dan Iran dalam beberapa bulan terakhir menyebabkan pembengkakan biaya perang yang signifikan. Menteri Pertahanan Pete Hegseth melaporkan bahwa total pengeluaran militer telah menyentuh angka US$ 37,5 miliar atau setara Rp 675 triliun, dengan asumsi kurs Rp 18.000 per dolar AS. Angka ini mencakup seluruh pengeluaran hingga tanggal 30 September 2026.
Pernyataan tersebut disampaikan Hegseth pada sidang Komite Alokasi Senat AS yang berlangsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Ini merupakan kali pertama pejabat pertahanan tersebut memberikan kesaksian di hadapan anggota parlemen sejak Pentagon mengajukan permintaan tambahan anggaran untuk mendukung operasi di wilayah Timur Tengah.
Konteks Politik dan Tekanan Pemilu
Pengumuman ini muncul di tengah tekanan politik yang dihadapi pemerintahan Presiden Donald Trump. Dengan pemilu paruh waktu yang diperkirakan akan digelar dalam waktu enam bulan ke depan, Partai Republik diprediksi akan menghadapi persaingan ketat guna mempertahankan kursi mayoritas di DPR maupun Senat. Di sisi lain, Partai Demokrat memanfaatkan isu perang Iran serta kenaikan biaya hidup sebagai bahan kritik terhadap kebijakan pemerintahan saat ini.
Hegseth menjelaskan bahwa nilai US$ 37,5 miliar tersebut mencakup berbagai kebutuhan operasional perang serta proyeksi biaya hingga akhir tahun anggaran. Namun, Pentagon belum memberikan penjelasan mendetail mengenai metode perhitungan yang digunakan untuk mencapai angka tersebut.
Permintaan Anggaran Tambahan ke Kongres
Sebelumnya, sumber internal pemerintah menyampaikan kepada Reuters pada bulan Maret bahwa hanya enam hari pertama operasi militer saja telah menghabiskan minimal US$ 11,3 miliar atau Rp 203,4 triliun. Kenaikan drastis biaya ini menjadi salah satu pendorong utama pemerintahan Trump untuk kembali mengajukan tambahan anggaran kepada Kongres.
Presiden Trump sebelumnya telah mengajukan permintaan dana tambahan sebesar hampir US$ 90 miliar atau Rp 1,62 kuadriliun. Sebagian besar dari jumlah tersebut dialokasikan untuk mendukung operasi militer di Iran serta mengisi kembali persediaan Pentagon yang terkuras akibat konflik berkepanjangan. Dalam sidang Senat, Hegseth juga mengajukan tambahan pendanaan sebesar US$ 87,6 miliar atau Rp 1,58 kuadriliun sebagai bagian dari permohonan Gedung Putih. Dana ini sebagian besar akan digunakan untuk memulihkan kemampuan tempur militer AS.
Sementara itu, Partai Republik mendorong paket anggaran sekitar US$ 95 miliar atau Rp 1,71 kuadriliun yang mencakup pendanaan militer, bantuan bagi sektor pertanian, serta sejumlah prioritas kebijakan pemerintahan Trump.
Kritik dari Partai Demokrat
Permintaan tambahan anggaran tersebut mendapat penolakan dari anggota parlemen Partai Demokrat. Mereka menilai pemerintahan Trump terus meminta dana besar meskipun sebelumnya mengklaim operasi militer telah mencapai tujuannya.
Alasan mengapa rakyat sangat kecewa dengan Anda dan pemerintahan ini adalah karena kata-kata yang Anda gunakan di masa lalu tidak sesuai. Hal ini sudah berakhir, atau belum berakhir. Ini dalam waktu dua minggu, atau bukan dua minggu, itu rudal atau bukan rudal, ujar Senator Kirsten Gillibrand.
Gillibrand juga mempertanyakan permintaan anggaran pertahanan sebesar US$ 1,5 triliun atau Rp 27 kuadriliun untuk tahun anggaran 2027, ketika pemerintah sebelumnya menyatakan militer Iran telah berhasil dilemahkan.
Anda meminta dana sebesar US$ 1,5 triliun atau sekitar Rp 27 kuadriliun untuk perang yang menurut Presiden Trump telah dimenangkannya. Anda meminta uang tak terbatas sebesar US$ 1,5 triliun atau sekitar Rp 27 kuadriliun untuk bom, tetapi uang yang tidak mencukupi untuk rakyat Amerika, layanan kesehatan, makanan, perumahan, dan petani kita, ungkap Gillibrand.
Kritik serupa disampaikan Senator Jon Ossoff yang mengingatkan pernyataan Hegseth beberapa bulan lalu mengenai kemampuan tempur Iran yang disebut telah lumpuh. Namun, Hegseth menegaskan pernyataannya tidak pernah berarti Iran kehilangan seluruh kemampuan militernya.
Perdebatan paling sengit terjadi ketika Senator Partai Demokrat Ga…
