16 Gelar Diborong Spanyol dalam 5 Tahun Terakhir, Apa Saja?
La Furia Roja kembali membuktikan dominasinya di kancah sepak bola global. Setelah meraih trofi Euro 2024, tim nasional Spanyol melanjutkan momentum gemilang
Spanyol Raih 16 Trofi dalam Lima Tahun Terakhir: Rincian Pencapaian Bersejarah
Tajuknusa.com – La Furia Roja kembali membuktikan dominasinya di kancah sepak bola global. Setelah meraih trofi Euro 2024, tim nasional Spanyol melanjutkan momentum gemilang dengan menjadi juara Piala Dunia 2026. Kemenangan atas Argentina dengan skor 1-0 di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, menjadi puncak dari perjalanan panjang tersebut. Prestasi ini mengingatkan kembali pada tahun 2010 ketika Spanyol juga berhasil menjuarai Piala Dunia tepat dua tahun setelah Euro 2008.
Periode emas ini bukan hanya tentang satu generasi pemain. Menurut laporan BBC, Spanyol telah mengumpulkan total 16 gelar internasional antara tahun 2022 hingga 2026. Pencapaian ini mencakup hampir seluruh kategori usia, mulai dari tim U-17 hingga skuad senior putra maupun putri.
Sejarah Baru: Juara Dunia Putra dan Putri Bersamaan
Spanyol mencatatkan diri sebagai negara pertama yang berhasil menjadi juara dunia sepak bola putra dan putri secara bersamaan. Tim putri membuka jalan dengan mengalahkan Inggris di final Piala Dunia 2023 yang digelar di Sydney. Tak lama kemudian, tim putra menyusul dengan meraih trofi serupa pada edisi 2026.
Selain Piala Dunia, berbagai kompetisi lain juga dikuasai oleh Spanyol. Tim putra berhasil menjuarai UEFA Nations League 2023, Euro 2024, serta membawa pulang medali emas Olimpiade Paris 2024. Di sisi lain, tim putri tidak kalah gemilang dengan memenangkan UEFA Women’s Nations League pada tahun 2024 dan 2025.
Ini adalah dominasi. Ini seperti badai yang sempurna. Secara budaya, kita melakukan sesuatu dengan cara tertentu. Semua orang mempercayainya. Yang penting adalah kita tidak berhenti.
Pernyataan tersebut diucapkan oleh pakar sepak bola Spanyol, Guillem Balague, yang menilai pencapaian ini sebagai bentuk dominasi yang sangat sulit ditandingi oleh negara lain.
Peran Kritis Luis de la Fuente dalam Regenerasi
Kesuksesan besar ini tidak lepas dari peran pelatih Luis de la Fuente. Keputusan Federasi Sepak Bola Spanyol menunjuknya sebagai pelatih kepala pada Desember 2022 untuk menggantikan Luis Enrique sempat menuai keraguan. De la Fuente memang belum memiliki rekam jejak menangani klub-klub besar sebelumnya.
Keputusan ini terasa lebih berani mengingat Spanyol baru saja tersingkir dari Piala Dunia Qatar 2022 setelah kalah dari Maroko di babak 16 besar. Balague menilai penunjukan tersebut sebagai langkah berisiko tinggi.
Mereka memilih orang ini yang memahami gaya dan sistemnya. Itu adalah keputusan yang sangat berisiko. Saya rasa tidak ada yang menyangka dia akan sesukses itu.
Meski minim pengalaman di level klub elite, De la Fuente memiliki perjalanan panjang membina pemain muda Spanyol. Setelah pensiun sebagai pemain pada tahun 1994, ia menghabiskan sekitar 15 tahun melatih di berbagai tingkatan. Mulai dari klub divisi bawah, menjadi asisten pelatih, hingga menangani tim nasional kelompok umur sebelum akhirnya dipercaya memimpin tim senior.
Pengalaman tersebut memungkinkan proses regenerasi berjalan dengan lancar. Banyak pemain senior sudah mengenal filosofi permainan yang diterapkan De la Fuente sejak mereka masih berusia muda.
Statistik Gelar dan Kontribusi Akademi
Kesuksesan Spanyol tidak hanya datang dari tim senior. Akademi dan pembinaan usia muda menjadi fondasi kuat yang menghasilkan gelar secara konsisten. Berikut rincian kontribusi masing-masing tim:
Tim Putri (11 gelar, periode 2022-2026):
Tim putri menyumbang sebagian besar trofi dengan total 11 gelar sepanjang periode tersebut. Pencapaian ini mencakup berbagai kategori usia mulai dari U-17 hingga tim senior.
Tim Putra (5 gelar):
Sementara itu, tim putra mengoleksi lima trofi internasional yang meliputi Piala Dunia 2026, Euro 2024, UEFA Nations League 2023, medali emas Olimpiade Paris 2024, serta gelar dari kategori usia muda.
Mantan gelandang Spanyol, Juan Mata, menilai hubungan antara pelatih dan pemain sebagai salah satu kunci keberhasilan tim nasional.
De la Fuente mengenal sebagian besar pemain ini dari akademi dan mereka berkembang sebagai sebuah tim. Ini bukan hanya tim untuk saat ini, tetapi juga tim untuk masa depan.
Sejak menangani tim nasional, De la Fuente menerapkan budaya yang menekankan penghormatan kepada lawan, menghargai proses, serta pentingnya kesabaran dan ketenangan. Menjelang final Piala Dunia 2026, pelatih berusia 65 tahun itu menjelaskan pola pikir yang terus ditanamkan kepada para pemain.
Sebagian besar dari Anda lebih muda dari saya dan Anda perlu menghormati pengalaman.
Ia juga mengungkap percakapannya bersama skuad setelah berbagai gelar berhasil diraih. Beberapa pemain bahkan bertanya, “Pelatih, apa lagi yang bisa dimenangkan karena kita sudah memenangkannya semua?” Pertanyaan tersebut mencerminkan betapa tingginya ekspektasi dan kepercayaan terhadap kemampuan tim Spanyol saat ini.
