Skip to content
After Dark
Juni 18, 2026
Nusantara

New Policy: Polda DIY Akui Intel yang Diamankan Mahasiswa UMY Bertugas Kawal Demo

Robert Moore 4 mins read

Polda DIY Terapkan New Policy dalam Pengawalan Demonstrasi Mahasiswa UMY New Policy - Dalam rangka menghadapi aksi demonstrasi yang berlangsung di Titik Nol

New Policy: Polda DIY Akui Intel yang Diamankan Mahasiswa UMY Bertugas Kawal Demo

Polda DIY Terapkan New Policy dalam Pengawalan Demonstrasi Mahasiswa UMY

New Policy – Dalam rangka menghadapi aksi demonstrasi yang berlangsung di Titik Nol Kilometer, Rabu (17/6/2026), Polda Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) memperkenalkan New Policy yang mendorong anggota intelijen kepolisian bekerja sama dengan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Kemahasiswaan UMY, Zuly Qodir, mengonfirmasi bahwa para petugas intelijen tersebut turut serta dalam upaya mengawal dan memastikan keamanan aksi. New Policy ini diharapkan bisa menjadi solusi untuk mengurangi ketegangan antara pihak kepolisian dan mahasiswa, serta meningkatkan transparansi dalam operasi pengawalan.

Strategi Pengawalan dengan Pendekatan Humanis

Polda DIY mengambil langkah baru dengan mengizinkan anggota intelijen bertugas di kawasan kampus sambil tetap menjaga keterlibatan aktif dengan peserta aksi. Dalam keterangan persnya, Kabidhumas Polda DIY, Kombes Pol Ihsan, menjelaskan bahwa kebijakan ini memberikan ruang bagi mahasiswa untuk berpartisipasi dalam proses pengawalan. “New Policy ini dirancang untuk menciptakan kesetaraan antara polisi dan peserta aksi, serta memungkinkan dialog yang lebih terbuka,” ujarnya, Kamis (18/6/2026).

“Kami memberikan kepercayaan kepada mahasiswa untuk mengamankan anggota intelijen, sehingga mereka bisa berinteraksi langsung dengan peserta aksi tanpa merasa diperlakukan secara pasif,” kata Ihsan dalam wawancara terpisah. Tugas intelijen dalam New Policy mencakup pemantauan situasi, mengatur lalu lintas, dan menjadi mediator antara peserta aksi dan pihak keamanan.

Langkah ini menggambarkan perubahan paradigma dalam hubungan kepolisian-masyarakat, terutama dalam menghadapi aksi massa. Dengan New Policy, para petugas tidak hanya bertindak sebagai pengawal, tetapi juga sebagai pendamping yang berupaya membangun kepercayaan bersama. Pihak kepolisian menegaskan bahwa kehadiran intelijen di kampus bertujuan untuk memastikan kegiatan demonstrasi tetap berjalan aman dan terkendali.

Koordinasi dan Klarifikasi terkait Tugas Intel

Aksi yang diikuti sekitar 470 peserta ini mencakup berbagai isu seperti ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan reforma agraria. Seorang pria berpakaian sipil, yang dikenal sebagai anggota intelijen Polda DIY, menjadi sorotan publik setelah video viral menunjukkan dirinya diikuti oleh ratusan mahasiswa. Setelah diidentifikasi, petugas tersebut dibawa ke Gedung Rektorat untuk klarifikasi. Pimpinan universitas langsung memperkenalkan diri dan menawarkan dialog sebagai upaya menyelesaikan kesalahpahaman.

“New Policy ini mengharuskan intelijen kepolisian menjalin komunikasi aktif dengan mahasiswa, bukan hanya memantau dari belakang,” jelas Zuly Qodir dalam siaran persnya. Ia menegaskan bahwa kampus menjadi tempat penting untuk pencegahan konflik melalui dialog terbuka. Polda DIY juga memberikan penjelasan resmi bahwa para intelijen yang diamankan mahasiswa sedang menjalankan tugas sesuai perintah dalam rangka mengawal aksi dengan cara yang lebih inklusif.

Dengan pendekatan New Policy, situasi demonstrasi berjalan lancar hingga pukul 17.30 WIB. Kehadiran anggota intelijen di kampus membantu mengurangi ketegangan, karena mereka bisa menjelaskan tujuan operasi secara langsung. Selain itu, kebijakan ini juga memberikan kesempatan bagi mahasiswa untuk terlibat lebih aktif dalam proses pengawalan, sehingga mengurangi kesan kaku dari institusi kepolisian.

Implikasi New Policy bagi Hubungan Kampus dan Polda DIY

Kebijakan Polda DIY ini mendapat respons positif dari sejumlah kalangan akademik. Wakil Rektor UMY mengapresiasi upaya koordinasi antara pihak kepolisian dan mahasiswa, yang menurutnya membuka ruang dialog untuk memahami dinamika aksi demonstrasi. “New Policy ini adalah langkah penting dalam membangun hubungan yang lebih harmonis antara kampus dan institusi keamanan,” katanya. Pihak kepolisian juga berharap kebijakan ini bisa menjadi contoh bagi unit lainnya dalam meningkatkan transparansi dan partisipasi masyarakat.

“Kami berkomitmen untuk memperkuat koordinasi antara Polda DIY dan komunitas kampus, agar setiap aksi bisa diatur dengan lebih baik,” terang Kombes Pol Ihsan. Ia menambahkan bahwa New Policy ini akan diuji coba dalam beberapa aksi besar di Yogyakarta, termasuk rencana demonstrasi terkait isu pendidikan yang akan berlangsung bulan depan. Langkah ini diharapkan bisa meminimalkan konflik dan mempercepat penyelesaian sengketa melalui komunikasi yang lebih efektif.

Dengan New Policy, kepolisian juga memberikan pelatihan khusus kepada anggota intelijen untuk meningkatkan kemampuan komunikasi dan pemahaman terhadap aspirasi mahasiswa. Langkah ini menunjukkan upaya untuk mengubah citra kepolisian sebagai pihak yang hanya memaksa, tetapi lebih sebagai mitra dalam menyelesaikan masalah sosial. Kehadiran intelijen di kampus menjadi bukti bahwa kebijakan baru ini tidak hanya berfokus pada penegakan hukum, tetapi juga pada pencegahan konflik sejak dini.

Sebagai hasil dari koordinasi yang intens, aksi demonstrasi berjalan tanpa hambatan besar. Mahasiswa UMY dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta merasa lebih nyaman karena ada kehadiran petugas kepolisian yang menjadi pendamping langsung. New Policy ini menjadi perhatian utama dalam diskusi tentang hubungan kepolisian dan masyarakat, terutama dalam konteks aksi massa yang sering menimbulkan kesalahpahaman. Dengan pendekatan yang lebih humanis, Polda DIY berharap bisa menjadi model kebijakan baru yang mengedepankan keadilan dan dialog.

Join the discussion