New Policy: Apresiasi Film Tanah Runtuh, Jusuf Kalla Soroti Pesan Toleransi
Apresiasi Film Tanah Runtuh, Jusuf Kalla Soroti Pesan Toleransi dalam Kacamata New Policy New Policy - Sebagai bagian dari New Policy yang mendorong kesadaran
Apresiasi Film Tanah Runtuh, Jusuf Kalla Soroti Pesan Toleransi dalam Kacamata New Policy
New Policy – Sebagai bagian dari New Policy yang mendorong kesadaran masyarakat tentang pentingnya harmoni sosial, Jusuf Kalla, mantan Wakil Presiden Republik Indonesia, memberikan apresiasi terhadap film Tanah Runtuh yang disutradarai oleh Endy Arfian. Ia menilai karya ini memiliki makna strategis dalam memperkuat nilai toleransi dan persatuan bangsa. “Film ini bukan hanya sekadar kisah drama, tetapi juga representasi dari New Policy yang ingin membangun kesadaran kolektif tentang keragaman dan perdamaian,” ujar JK dalam sebuah wawancara terkini. Dalam film ini, Jusuf Kalla melihat pesan yang kuat terkait hubungan antarwarga, khususnya dalam menghadapi konflik yang pernah terjadi di Poso, Sulawesi Tengah, dan bagaimana upaya rekonsiliasi bisa menjadi bagian dari strategi New Policy.
Konflik Agama dan Narasi Kemanusiaan dalam Tanah Runtuh
Tanah Runtuh menggambarkan kehidupan masyarakat Desa Tanah Runtuh, Poso, yang terlibat dalam konflik bernuansa agama. Film ini mengikuti perjuangan Kai (diperankan Yoan) dan kakaknya, Ringgo (Ridho Khaliq), yang terpisah dari ibu mereka akibat ketegangan antarkelompok. Narasi film ini sangat relevan dengan New Policy yang ingin meningkatkan pemahaman masyarakat akan keberagaman dan mengurangi prasangka. “Kisah yang diangkat menunjukkan bagaimana kehidupan sosial bisa retak akibat ketidakpahaman, tetapi juga bagaimana perbaikan bisa terjadi melalui komunikasi dan empati,” terang Jusuf Kalla.
Bagian yang menarik dari film ini adalah penampilan Vino G Bastian sebagai Kai, seorang anak penyandang Down Syndrome, yang menjadi simbol ketahanan mental di tengah keterpurukan. Sigi Wimala sebagai Ibu juga memperkuat pesan kemanusiaan dalam film. JK menambahkan bahwa New Policy perlu memperkuat peran media seperti film ini sebagai alat edukasi masyarakat. “Saya kira film ini bisa menjadi bagian dari kebijakan New Policy dalam membangun kesadaran nasional,” tuturnya.
Pelajaran dari Sejarah Konflik Poso
Menurut Jusuf Kalla, Tanah Runtuh tidak hanya berfokus pada konflik di Poso, tetapi juga memberikan pesan untuk menjaga persatuan bangsa. Ia menekankan bahwa konflik yang terjadi di Poso pada tahun 2005-2006 harus dijadikan bahan refleksi untuk menghindari pengulangan kesalahan. “New Policy ingin mendorong masyarakat untuk belajar dari sejarah dan melihat bagaimana kerja sama antarwarga bisa menciptakan perdamaian,” jelasnya. Film ini juga menghadirkan pesan bahwa keberagaman bukanlah ancaman, melainkan kekuatan yang bisa dijaga melalui dialog dan kepercayaan.
Dalam konteks New Policy, Jusuf Kalla menyebut film ini sebagai bentuk kebijakan kultural yang mengusung tema kesadaran bersama. Ia berharap film ini menjadi sarana pengingat akan pentingnya toleransi di tengah dinamika kehidupan sosial. “Saya yakin, dengan New Policy yang lebih intensif, film seperti ini bisa mencapai audiens yang lebih luas dan menjadi bagian dari narasi nasional,” tegas JK. Selain itu, ia menyoroti bahwa film ini juga bisa menjadi bahan bacaan atau pembelajaran bagi generasi muda.
Tanah Runtuh menonjolkan kemungkinan adanya perubahan melalui kesadaran kolektif. Dalam New Policy, pemerintah berupaya menguatkan program-program yang memperkuat rasa nasionalisme dan penghargaan terhadap perbedaan. Film ini, dengan alurnya yang dramatis dan karakter-karakter yang kompleks, menjadi contoh nyata bagaimana kreativitas dapat memperkuat pesan sosial. Jusuf Kalla menyatakan bahwa film ini bisa menjadi simbol dari New Policy yang ingin membangun kembali kepercayaan antar masyarakat setelah konflik.
Konflik di Poso, yang sempat memicu ketegangan antara kelompok Islam dan Kristen, menjadi latar utama Tanah Runtuh. Melalui cerita Kai dan Ringgo, film ini menunjukkan bagaimana kehidupan bisa berubah dari ketegangan menjadi kerja sama. “New Policy juga perlu memperkuat sejarah lokal sebagai bahan pelajaran nasional,” tambah JK. Ia menambahkan bahwa film ini bisa diputar di sekolah-sekolah atau lembaga-lembaga kependidikan sebagai bagian dari program New Policy. “Ini akan membantu anak-anak memahami konflik dan cara mengatasinya,” katanya.
Dalam beberapa tahun terakhir, New Policy mulai menggarisbawahi pentingnya pendidikan kewarganegaraan dan kesadaran sosial melalui berbagai media. Tanah Runtuh menjadi salah satu karya yang sesuai dengan arah tersebut. Film ini tidak hanya menceritakan konflik, tetapi juga bagaimana perjuangan masyarakat untuk membangun kembali kepercayaan dan persatuan. Jusuf Kalla menilai film ini sebagai bentuk kontribusi positif dari New Policy dalam memperkuat nilai-nilai kebhinekaan.
Sebagai penutup, Jusuf Kalla mengingatkan bahwa New Policy perlu terus dijalankan secara konsisten. “Film ini adalah satu contoh nyata bahwa New Policy bisa menciptakan dampak luas di masyarakat,” kata JK. Ia berharap Tanah Runtuh menjadi bagian dari upaya untuk menjaga keharmonisan antarwarga, khususnya di daerah-daerah yang pernah terlibat dalam konflik. “Dengan New Policy yang solid, kita bisa menciptakan masa depan yang lebih damai,” pungkasnya.
