Special Plan: Permintaan Emas di India dan China Masih Lesu meski Harga Turun
Permintaan Emas di India dan China Masih Lesu Dalam Special Plan Special Plan - Permintaan emas fisik di India dan China tetap mengalami penurunan dalam
Permintaan Emas di India dan China Masih Lesu Dalam Special Plan
Special Plan – Permintaan emas fisik di India dan China tetap mengalami penurunan dalam kerangka Special Plan yang sedang berlangsung, meski harga emas global sempat turun hingga mencapai level terendah dalam dua setengah bulan terakhir. Dalam situasi ini, konsumen di kedua negara cenderung mempertahankan sikap hati-hati, mengingat fluktuasi harga yang terus berlangsung dan ketidakpastian ekonomi global yang memengaruhi keputusan beli mereka.
Special Plan yang berlaku saat ini menyoroti peran emas sebagai aset perlindungan dalam lingkungan keuangan yang tidak stabil. Namun, di India, harga emas domestik turun hingga 146.252 rupee per 10 gram, menandai level terendah sejak 2 April 2026. Diskon yang ditawarkan oleh dealer mencapai hingga US$ 54 per ons dibandingkan harga resmi, dengan peningkatan dari sebelumnya US$ 35 per ons. Meski penurunan ini memberi peluang untuk menarik pembeli kembali, volatilitas harga masih membuat konsumen mempercepat keputusan pembelian.
Kondisi Pasar Emas di India: Kenaikan Diskon dan Penundaan Konsumen
Dalam Special Plan, emas fisik di India mengalami penawaran diskon yang lebih besar, mencerminkan kebutuhan peritel untuk menarik pembeli. Namun, tren ini belum mampu mengubah keadaan permintaan yang lesu, terutama di tengah penyesuaian konsumen terhadap kondisi ekonomi dan inflasi. Analisis Reuters menyebutkan bahwa minat investor terhadap emas investasi juga terus berada di bawah tekanan, dengan aliran dana ke ETF emas mengalami penurunan signifikan.
Kebijakan Special Plan di India berfokus pada stabilitas pasar logam mulia, tetapi kenaikan diskon harga emas belum mampu mengembalikan momentum. Pelaku pasar mengungkapkan bahwa keputusan beli di kawasan tersebut masih tergantung pada arah harga emas di masa depan, yang dipengaruhi oleh kebijakan moneter global dan permintaan internasional. Meski beberapa peritel mulai menambah stok, peningkatan volume transaksi masih belum signifikan.
Di sisi lain, China juga terlihat mengalami tren permintaan emas yang lesu dalam konteks Special Plan. Emas diperdagangkan dengan diskon US$ 4 hingga US$ 8 per ons dibandingkan harga spot internasional, berbeda dari premi yang sempat diterapkan sebelumnya. Investor di sini memprioritaskan penundaan pembelian karena ketidakpastian kenaikan suku bunga AS dan persaingan harga dari aset lain seperti obligasi.
Special Plan terus memantau dinamika pasar emas sebagai indikator kepercayaan konsumen. Dalam beberapa pekan terakhir, data menunjukkan bahwa permintaan emas fisik di India dan China tetap di bawah level normal, meski harga emas membaik. Para ahli mengingatkan bahwa dampak dari Special Plan terhadap kebutuhan masyarakat akan terlihat lebih jelas setelah krisis politik dan ekonomi global berakhir.
Seorang analis pasar logam mulia di Beijing mengatakan, “Special Plan berperan sebagai bingkai kebijakan yang membantu memperkuat peran emas sebagai alat investasi, tetapi kebutuhan beli masih terhambat oleh ketidakpastian dari pertemuan AS-Iran.” Di Hong Kong, pasar emas tutup selama Festival Perahu Naga, yang memberi ruang bagi pelaku bisnis untuk mengevaluasi strategi penjualan selama libur. Di Jepang dan Singapura, emas berada dalam kisaran diskon atau premi kecil, menggambarkan dinamika pasaran yang stabil.
Permintaan emas di India dan China, meski lesu, tetap menjadi fokus utama dalam Special Plan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi. Kebijakan ini menekankan kebutuhan diversifikasi portofolio investor, terutama dalam menghadapi fluktuasi pasar dan risiko inflasi. Sebagai hasilnya, meski harga emas turun, keberlanjutan permintaan di kedua negara akan menjadi pertanda penting bagi kestabilan ekonomi regional.
