Skip to content
After Dark
Agustus 3, 2026
Ekonomi

Special Plan: Neraca Dagang Indonesia Defisit US$ 1,61 Miliar pada Mei 2026

Sarah Smith - tajuknusa.com 3 mins read

a Defisit US$ 1,61 Miliar pada Mei 2026 Special Plan - Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit

Special Plan: Neraca Dagang Indonesia Defisit US$ 1,61 Miliar pada Mei 2026

Neraca Dagang Indonesia Defisit US$ 1,61 Miliar pada Mei 2026

Special Plan – Dalam laporan terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), neraca perdagangan Indonesia mencatat defisit sebesar US$ 1,61 miliar pada bulan Mei 2026. Meski defisit ini menunjukkan kinerja negatif pada bulan tersebut, secara kumulatif Januari hingga Mei 2026, neraca dagang negara ini tetap mencatat surplus sejumlah US$ 4,03 miliar. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun terdapat tantangan di sektor tertentu, kebijakan Special Plan masih berkontribusi pada stabilitas dan pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.

Analisis Perbedaan Sektor Migas dan Nonmigas

Neraca perdagangan Indonesia pada Mei 2026 bergerak di bawah tekanan defisit, terutama karena kinerja sektor migas yang masih menunjukkan angka negatif. Namun, sektor nonmigas menjadi penyangga utama yang mendorong surplus secara tahunan. Surplus sektor nonmigas mencapai US$ 16,31 miliar, sementara sektor migas terus defisit dengan angka US$ 12,28 miliar. Di tengah perubahan dinamika pasar global, Special Plan berperan penting dalam mengatur aliran impor dan ekspor nonmigas agar tetap seimbang.

“Defisit neraca perdagangan Mei 2026 tidak mengubah fakta bahwa surplus Januari–Mei 2026 mencerminkan keberhasilan kebijakan Special Plan dalam menjaga keseimbangan sektor nonmigas,” jelas Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Dalam rangkaian upaya pengelolaan neraca dagang, Special Plan terus diterapkan sebagai strategi untuk memperkuat daya saing produk lokal. Penurunan ekspor nonmigas di Mei, yang tercatat sebesar 4,50% menjadi US$ 22,45 miliar, dinilai sebagai bentuk tekanan dari persaingan global. Namun, kebijakan ini telah berhasil mempertahankan surplus total selama lima bulan pertama tahun ini, yang menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengoptimalkan potensi sektor ekspor nonmigas.

Pola Ekspor dan Impor di Tengah Tantangan Ekonomi

Nilai ekspor Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar US$ 23,20 miliar, turun 5,73% dibandingkan Mei 2025. Penurunan ini mencerminkan tantangan dalam mempertahankan volume ekspor, terutama pada komoditas strategis. Sementara itu, impor meningkat 22,16% menjadi US$ 24,81 miliar, yang memperbesar defisit bulanan. Meski begitu, Special Plan berperan dalam mengarahkan impor ke sektor-sektor yang berdampak positif pada pertumbuhan ekonomi, seperti industri manufaktur dan pertanian.

“Penurunan ekspor dan kenaikan impor di Mei 2026 merupakan fenomena sementara, yang akan diperbaiki melalui kebijakan Special Plan dalam meningkatkan produktivitas dan efisiensi sektor ekspor,” tulis Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (IDEF) dalam analisis terpisah.

Dari segi komoditas, nikel dan produk turunannya menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor nonmigas. Kontribusi sektor ini tercatat sebesar US$ 2,05 miliar, dengan kenaikan 60,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Sebaliknya, ekspor logam mulia dan perhiasan menurun tajam, mencapai US$ 1,01 miliar atau penurunan 23,73%. Kenaikan impor nonmigas, khususnya mesin dan peralatan mekanis, mencapai US$ 2,34 miliar atau 16,92%, menunjukkan kebutuhan industri dalam peralatan modern.

Special Plan juga mendorong pengembangan infrastruktur dan ketersediaan sumber daya manusia di sektor produksi, sehingga dapat meningkatkan daya tarik produk Indonesia di pasar internasional. Meski defisit Mei menjadi sorotan, data kumulatif menunjukkan bahwa kebijakan ini masih berjalan sesuai target, dengan pertumbuhan ekspor nonmigas secara tahunan mencapai 3,89%. Hal ini menjadi dasar untuk optimisme mengenai perbaikan neraca dagang di bulan-bulan mendatang.

Kenaikan impor logam mulia serta perhiasan di Mei 2026, yang tercatat sebesar 10,99% ke level US$ 0,35 miliar, mengisyaratkan pergeseran preferensi pasar. Namun, kebijakan Special Plan berfokus pada pengurangan ketergantungan pada impor untuk kebutuhan bahan baku strategis. Peningkatan produksi dalam negeri, seperti produk pertanian dan manufaktur, menjadi poin kunci dalam upaya mengurangi defisit.

BPS mengakui bahwa perubahan pola perdagangan global dan fluktuasi harga komoditas memengaruhi neraca dagang. Meski defisit Mei 2026 terjadi, kebijakan Special Plan dinilai cukup efektif dalam mengantisipasi perubahan tersebut. Data kumulatif menunjukkan bahwa pertumbuhan ekspor nonmigas secara tahunan mencapai 3,02% hingga US$ 115,36 miliar, sementara impor bertumbuh 15,24% menjadi US$ 111,33 miliar. Perbedaan ini menjadi indikator bahwa strategi Special Plan sedang berjalan sesuai rencana.

Join the discussion