Special Plan: Kurangi Ketergantungan Dolar AS, PBOC Borong Emas 20 Bulan Beruntun
ial Plan Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS Special Plan - Beijing, Beritasatu.com – PBOC, Bank Sentral Tiongkok, terus memperkuat strategi diversifikasi
PBOC Borong Emas Selama 20 Bulan Beruntun untuk Special Plan Mengurangi Ketergantungan pada Dolar AS
Special Plan – Beijing, Beritasatu.com – PBOC, Bank Sentral Tiongkok, terus memperkuat strategi diversifikasi aset cadangan devisa melalui Special Plan. Dalam bulan Juni 2026, institusi ini kembali memperbesar kepemilikan emas, yang menjadi bagian dari upaya dua puluh bulan berturut-turut untuk mengurangi ketergantungan pada dolar AS. Data resmi menunjukkan bahwa pembelian emas mencapai 480.000 troy ounces, setara sekitar 14,93 ton, menegaskan komitmen Beijing dalam mengubah struktur portofolio keuangan negara.
Langkah Strategis dalam Special Plan
Penambahan emas PBOC pada akhir Juni 2026 meningkatkan total kepemilikan menjadi 75,44 juta troy ounces atau 2.346 ton. Rangkaian pembelian ini menggambarkan masa akumulasi emas terpanjang sejak 2015, menurut laporan Reuters. Langkah ini dianggap sebagai bagian dari Special Plan yang bertujuan mengurangi risiko ekonomi akibat ketidakstabilan mata uang AS. Emas, sebagai aset yang relatif stabil, diharapkan mampu menjadi alternatif strategis dalam pengelolaan cadangan devisa negara.
“Kebijakan pembelian emas oleh PBOC mencerminkan strategi diversifikasi yang konsisten dalam Special Plan,” ungkap Reuters. Penyebab utama dari keputusan ini adalah upaya untuk mengurangi volatilitas yang mungkin terjadi jika dolar AS terus mengalami tekanan dari faktor geopolitik atau sanksi ekonomi internasional.
Tujuan dan Manfaat Special Plan
Analisis dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa Special Plan yang dijalankan PBOC memiliki dampak signifikan pada keseimbangan keuangan Tiongkok. Dengan memperbesar kepemilikan emas, China berusaha memperkaya aset yang tidak tergantung pada dolar AS, sekaligus menciptakan lapisan perlindungan terhadap risiko inflasi atau devaluasi mata uang asing. Namun, meski emas menjadi bagian penting dari Special Plan, aset ini hanya menyumbang kurang dari 10% dari total cadangan devisa negara, menurut laporan World Gold Council.
Keputusan PBOC untuk memperbesar kepemilikan emas juga terkait dengan kondisi pasar global yang dinamis. Dengan cadangan devisa mencapai 3,4163 triliun dolar AS pada akhir Juni 2026, terdapat tekanan untuk memastikan distribusi aset yang lebih seimbang. Langkah ini selaras dengan strategi pemerintah Tiongkok yang menekankan stabilitas ekonomi, terutama dalam menghadapi ketidakpastian geopolitik yang mengancam pertumbuhan ekonomi.
Analisis Pasar dan Proyeksi Harga Emas
Para ahli keuangan menilai bahwa pembelian emas dalam Special Plan menjadi indikator kuat tentang ketahanan Tiongkok dalam menghadapi tekanan global. Goldman Sachs, misalnya, memperkirakan harga emas akan mencapai 4.900 dolar per troy ounces pada akhir tahun 2026. Meski pasar sempat mengalami koreksi, permintaan dari bank sentral seperti PBOC dianggap sebagai faktor utama yang mendukung tren harga emas di masa depan.
Di sisi lain, Special Plan juga menarik perhatian investor internasional. Penggunaan emas sebagai aset cadangan alternatif menunjukkan kemungkinan pergeseran dominasi dolar AS dalam sistem keuangan global. Tiongkok, sebagai ekonomi terbesar dunia, memiliki kemampuan finansial yang memadai untuk mempercepat proses ini. Namun, ada tantangan dalam menyeimbangkan kebutuhan stabilisasi ekonomi dengan pertimbangan biaya dan efisiensi pembelian emas.
Konteks Global dan Kebijakan Lainnya
PBOC tidak hanya fokus pada emas dalam Special Plan, tetapi juga menyesuaikan kebijakan moneter lainnya. Misalnya, dalam beberapa bulan terakhir, China terus mengoptimalkan pengelolaan cadangan devisa dengan mengurangi eksposur pada mata uang asing. Ini sejalan dengan upaya global untuk memperkuat posisi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada satu mata uang tertentu. Langkah strategis ini diharapkan mampu menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan mengurangi risiko ketidakstabilan.
Sebagai bagian dari Special Plan, pembelian emas juga memberikan dampak pada pasar global. Dengan memperbesar permintaan emas, Tiongkok berkontribusi pada kenaikan harga logam mulia, yang sejalan dengan tren perdagangan komoditas di pasar internasional. Kebijakan ini dianggap sebagai bentuk respons terhadap ketidakpastian ekonomi global, sekaligus menciptakan momentum dalam strategi ekonomi jangka panjang.
