Skip to content
After Dark
Agustus 3, 2026
Ekonomi

Latest Program: Demutualisasi BEI Harus Diikuti KPI Berbasis Kualitas Emiten

David Hernandez - tajuknusa.com 3 mins read

Latest Program: Demutualisasi BEI dan Penyempurnaan KPI Berbasis Kualitas Emiten Latest Program - Pada program terbaru ini, demutualisasi Bursa Efek Indonesia

Latest Program: Demutualisasi BEI Harus Diikuti KPI Berbasis Kualitas Emiten

Latest Program: Demutualisasi BEI dan Penyempurnaan KPI Berbasis Kualitas Emiten

Latest Program – Pada program terbaru ini, demutualisasi Bursa Efek Indonesia (BEI) dianggap sebagai langkah krusial dalam meningkatkan efisiensi dan transparansi pasar modal nasional. Keberhasilan reformasi ini tidak hanya bergantung pada perubahan struktur kepemilikan, tetapi juga pada pengembangan indikator kinerja (KPI) yang lebih mengukur kualitas emiten, likuiditas pasar, dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi. Dalam konteks Latest Program, pendekatan baru ini bertujuan memastikan BEI tidak hanya menjadi tempat transaksi efek, tetapi juga pusat pengambilan keputusan berbasis data yang objektif.

Transparansi dan Akuntabilitas sebagai Fokus Utama

Dalam wawancara dengan Beritasatu.com, Senin (29/6/2026), David Sutyanto, pengamat pasar modal, menegaskan bahwa kepemilikan BEI yang lebih terbuka melalui demutualisasi memerlukan penyesuaian KPI yang lebih terukur. Ia mengingatkan bahwa metrik tradisional, seperti jumlah emiten baru atau volume transaksi, tidak cukup mewakili kualitas pasar yang sebenarnya. “Dalam Latest Program, BEI harus menjadi wadah yang mampu menilai pertumbuhan ekonomi secara holistik, bukan hanya dari output jangka pendek,” ujar David.

“Karena peran bursa semakin strategis, maka tata kelolanya juga harus lebih kuat, transparan, dan akuntabel,” tambahnya.

KPI yang berbasis kualitas emiten akan memungkinkan evaluator pasar modal mengukur keberhasilan BEI melalui aspek seperti keberlanjutan bisnis emiten, kepuasan investor, dan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi. David menyatakan bahwa penyesuaian KPI ini penting untuk mencegah dominasi kepentingan pihak tertentu dan menghindari risiko manipulasi data yang dapat merusak kepercayaan publik. Dengan demikian, Latest Program menjadi pilar utama dalam menegaskan komitmen BEI terhadap standar internasional.

David juga menekankan bahwa demutualisasi seharusnya diiringi kebijakan yang memperkuat struktur tata kelola bursa. Ia mencontohkan perlu adanya pemisahan fungsi kepemilikan, regulasi, dan operasional yang jelas. “Saat ini, banyak kebijakan bursa yang dipengaruhi oleh kepentingan pemegang saham, sehingga perlu adanya firewall governance untuk menjaga independensi,” jelasnya. Dengan mekanisme ini, Latest Program diharapkan mampu menciptakan sistem yang lebih adil dan terbuka bagi seluruh pemangku kepentingan.

KPI berbasis kualitas emiten juga memiliki dampak signifikan terhadap daya saing pasar modal Indonesia di tingkat internasional. Menurut David, sistem penilaian yang lebih ketat akan mendorong emiten berkualitas tinggi untuk terus meningkatkan transparansi dan akuntabilitasnya. “Ini bisa menjadi magnet bagi investor asing yang mencari pasar yang stabil dan berpotensi,” tegasnya. Selain itu, KPI yang relevan juga akan memudahkan regulator dalam mengevaluasi kinerja BEI secara berkala dan berkelanjutan.

Kepemilikan BEI: Perubahan Struktur dalam Latest Program

Sebagai bagian dari Latest Program, reformasi kepemilikan BEI diatur dalam Pasal 9A Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK) yang disahkan DPR pada 4 Juni 2026. Perubahan ini membuka peluang bagi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Bank Indonesia (BI), dan Kementerian Keuangan (Kemenkeu) untuk menjadi pemegang saham bursa. David menilai bahwa skema kepemilikan baru ini berpotensi memperkuat keberlanjutan pasar modal, asalkan didukung KPI yang tepat.

KPI berbasis kualitas emiten juga bisa menjadi alat untuk mendorong emiten menilai diri sendiri dan meningkatkan kinerja. Dengan metrik seperti rasio utang, kejelasan laporan keuangan, dan manajemen risiko, emiten diharapkan dapat memperbaiki praktek bisnis mereka. David menyampaikan bahwa Latest Program ini adalah kesempatan untuk menegaskan bahwa BEI bukan hanya menjadi tempat pertemuan pelaku pasar, tetapi juga menjadi penilai yang independen dan objektif.

Dalam jangka panjang, KPI yang berbasis kualitas emiten diharapkan mampu memperkuat daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor domestik dan asing. “Dengan Latest Program, BEI bisa menjadi contoh terbaik dalam penerapan standar tata kelola yang modern,” ujar David. Ia juga menyoroti bahwa penerapan KPI ini memerlukan koordinasi erat dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi yang berlaku.

Join the discussion