Ekonomi Syariah Indonesia Dinilai Siap Menjadi Sumber Pertumbuhan Baru
Tajuknusa.com – Indonesia memiliki fondasi yang semakin kokoh untuk menjadikan ekonomi dan keuangan syariah sebagai salah satu penggerak pertumbuhan nasional. Potensi tersebut terlihat dari perkembangan industri halal, peningkatan aset keuangan syariah, hingga bertambahnya pemahaman masyarakat terhadap prinsip ekonomi syariah.
Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menegaskan, kekuatan yang telah terbentuk perlu diarahkan menjadi manfaat ekonomi yang lebih luas, merata, dan berkelanjutan. Pesan itu disampaikan saat pembukaan Festival Ekonomi Syariah Regional Jawa 2026 di Surabaya pada Sabtu, 26 Juni 2026.
“Berbagai capaian tersebut patut disyukuri, namun harus terus ditransformasikan menjadi kekuatan ekonomi yang nyata. Ketiganya diarahkan agar semakin terintegrasi, berdampak nyata, dan inklusif. Kunci mewujudkannya adalah sinergi,” ungkap Destry Damayanti, Gubernur Bank Indonesia.
Peringkat Global dan Pertumbuhan Industri Halal
Posisi Indonesia dalam ekonomi Islam dunia memperlihatkan daya saing yang terus menguat. State of the Global Islamic Economy Report 2025/2026 menempatkan Indonesia pada urutan keempat dunia. Capaian tersebut mencerminkan besarnya ruang pengembangan yang tersedia, sekaligus menunjukkan bahwa sektor halal tidak lagi sekadar pasar khusus.
Pada triwulan II 2026, sektor-sektor unggulan dalam rantai nilai halal nasional tumbuh 5,5% secara tahunan atau year on year. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh makanan halal, fesyen muslim, dan pariwisata ramah muslim. Ketiga bidang tersebut memiliki kedekatan dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, sehingga pengembangannya dapat menciptakan dampak yang menjangkau pelaku usaha dari berbagai skala.
Industri makanan halal, misalnya, membuka peluang bagi produsen pangan, usaha mikro dan kecil, pengolah bahan baku, hingga jaringan distribusi. Di sisi lain, perkembangan fesyen muslim memberi ruang bagi kreativitas desainer, pengrajin, serta merek lokal. Pariwisata ramah muslim juga dapat memperluas pilihan layanan bagi wisatawan dengan kebutuhan yang beragam.
Aset Keuangan Syariah Terus Bertambah
Penguatan ekonomi syariah juga berlangsung di sektor keuangan. Nilai aset keuangan syariah meningkat menjadi Rp 3.131 triliun. Kenaikan tersebut berjalan seiring dengan pertumbuhan pembiayaan syariah, yang menandakan peran lembaga keuangan syariah semakin penting dalam mendukung kegiatan ekonomi.
Pembiayaan syariah memiliki arti strategis karena dapat membantu kebutuhan modal usaha, ekspansi kegiatan produktif, serta pengembangan sektor-sektor yang berkaitan dengan rantai nilai halal. Agar dampaknya semakin terasa, pertumbuhan pembiayaan perlu tersambung dengan kebutuhan nyata dunia usaha dan masyarakat.
Integrasi antara sektor riil dan sektor keuangan menjadi salah satu faktor penting. Produk, jasa, serta pembiayaan syariah akan memiliki manfaat yang lebih besar apabila bergerak dalam ekosistem yang saling mendukung, dari proses produksi sampai akses pasar dan pendanaan.
Literasi Masyarakat Menjadi Modal Penting
Selain indikator industri dan keuangan, peningkatan literasi menjadi perkembangan yang menonjol. Tingkat literasi ekonomi syariah naik dari 16,30% pada 2019 menjadi 50,18% pada 2025. Artinya, sekitar satu dari dua penduduk Muslim Indonesia telah memiliki pemahaman yang baik mengenai ekonomi syariah.
Peningkatan pemahaman publik penting bagi perluasan inklusi. Masyarakat yang mengenal prinsip, produk, dan manfaat ekonomi syariah akan lebih mampu menentukan pilihan keuangan maupun konsumsi yang sesuai dengan kebutuhannya. Literasi juga dapat memperkuat kepercayaan terhadap layanan dan produk yang dikembangkan dalam ekosistem syariah.
Namun, pemahaman yang meningkat perlu diikuti dengan ketersediaan layanan yang mudah diakses. Pelaku industri perlu memastikan bahwa masyarakat dapat menemukan produk halal, layanan pembiayaan, serta fasilitas keuangan syariah yang relevan dalam kehidupan sehari-hari.
Sinergi sebagai Kunci Penguatan Ekosistem
Destry menyampaikan bahwa ekonomi dan keuangan syariah memiliki posisi strategis dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan, sekaligus mendukung transformasi ekonomi nasional. Penguatan peran tersebut bertumpu pada tiga arah utama: pengembangan rantai nilai halal yang terintegrasi dan kompetitif, perluasan pembiayaan syariah, serta peningkatan literasi dan inklusi.
Ketiga unsur itu tidak dapat berjalan sendiri-sendiri. Rantai nilai halal membutuhkan pelaku usaha yang kuat, akses pendanaan yang sesuai, dan konsumen yang memahami nilai produk maupun layanan syariah. Dalam praktiknya, hubungan antarelemen tersebut menentukan apakah pertumbuhan yang tercatat dalam angka benar-benar menciptakan peluang ekonomi bagi masyarakat.
Karena itu, keterlibatan berbagai pihak menjadi sangat penting. Pelaku usaha, lembaga keuangan syariah, pemerintah, pesantren, dan pemangku kepentingan lain perlu bergerak dalam arah yang sama. Kolaborasi dapat membantu memperluas akses pasar, meningkatkan kapasitas usaha, dan mempercepat pemanfaatan pembiayaan syariah.
Dengan modal peringkat global, pertumbuhan sektor halal, aset keuangan yang meningkat, serta literasi masyarakat yang lebih baik, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat ekonomi syariahnya. Tantangan berikutnya adalah memastikan setiap capaian tersebut terhubung menjadi ekosistem yang produktif, kompetitif, dan memberikan nilai nyata bagi masyarakat luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is BI Nilai Indonesia Punya Modal Kuat?
BI Nilai Indonesia Punya Modal Kuat is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does BI Nilai Indonesia Punya Modal Kuat matter?
BI Nilai Indonesia Punya Modal Kuat matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

