Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Ototekno

Astronom Temukan Bulan Raksasa Sebesar Jupiter di Luar Tata Surya

Jennifer Lopez - tajuknusa.com 3 mins read

Jakarta, Beritasatu.com – Selama berabad-abad, umat manusia telah menatap langit malam untuk mengamati Bulan, bintang, dan planet. Namun, terobosan besar

Astronom Temukan Bulan Raksasa Sebesar Jupiter di Luar Tata Surya

Penemuan Eksosatelit Pertama yang Mengorbit Katai Cokelat

Tajuknusa.com – Jakarta, Beritasatu.com – Selama berabad-abad, umat manusia telah menatap langit malam untuk mengamati Bulan, bintang, dan planet. Namun, terobosan besar terjadi pada tahun 1992 ketika para astronom berhasil mengidentifikasi planet pertama di luar tata surya kita. Sejak momen bersejarah itu, jumlah eksoplanet yang telah dikonfirmasi terus meningkat dan kini telah melampaui angka 6.000. Angka ini mendorong para ilmuwan untuk meyakini bahwa hampir setiap bintang di alam semesta memiliki planet yang mengorbitnya.

Meski demikian, ada satu jenis objek langit yang keberadaannya selama puluhan tahun belum dapat dipastikan, yaitu exomoon atau bulan yang mengorbit planet maupun objek lain di luar tata surya. Kini, penantian panjang tersebut tampaknya telah berakhir. Tim astronom telah melaporkan penemuan objek yang diyakini sebagai eksosatelit atau exomoon pertama yang pernah terdeteksi. Temuan ini bukan hanya menjadi tonggak penting dalam astronomi, tetapi juga memunculkan pertanyaan baru mengenai batas antara planet, bulan, dan bintang.

Deteksi Menggunakan Teleskop VLT di Chile

Dikutip dari laman Time, penemuan tersebut dilakukan menggunakan Very Large Telescope (VLT) milik European Southern Observatory (ESO) di Chile. Objek itu ditemukan di sistem CD-35 2722, yang berada sekitar 73 tahun cahaya dari Bumi. Dalam skala kosmik, jarak tersebut tergolong cukup dekat sehingga memungkinkan pengamatan lebih terperinci.

Hal yang membuat penemuan ini unik adalah objek tersebut tidak mengorbit sebuah planet seperti Bulan mengelilingi Bumi. Sebaliknya, benda itu mengorbit katai cokelat (brown dwarf), yakni objek yang berada di antara planet raksasa dan bintang. Katai cokelat sering disebut sebagai bintang gagal karena terbentuk seperti bintang, tetapi tidak memiliki massa yang cukup untuk memulai reaksi fusi hidrogen di intinya.

Dalam sistem ini, katai cokelat tersebut memiliki massa sekitar 33 kali massa Jupiter, sementara objek yang mengitarinya diperkirakan memiliki massa setidaknya setara dengan Jupiter, planet terbesar di tata surya. Keunikan sistem CD-35 2722 membuat para astronom kesulitan mengelompokkan objek yang baru ditemukan tersebut.

Batas Antara Planet, Bulan, dan Bintang Menjadi Kabur

Pada satu sisi, massanya cukup besar sehingga lebih menyerupai sebuah planet gas raksasa. Pada sisi lain, objek tersebut mengorbit katai cokelat, bukan bintang secara langsung. Karena itulah para peneliti memilih menyebutnya sebagai eksosatelit, sementara statusnya sebagai exomoon masih menjadi bahan diskusi.

Penulis utama penelitian dari Universidad Diego Portales dan European Southern Observatory (ESO) Kevin Hoy, menjelaskan sistem tersebut sulit dijelaskan menggunakan istilah yang selama ini digunakan dalam tata surya.

Menurutnya objek itu memiliki massa yang cukup besar untuk dianggap sebagai planet. Namun, karena mengorbit katai cokelat yang juga mengelilingi sebuah bintang, klasifikasinya menjadi jauh lebih rumit.

Anggota tim peneliti dari Universidad Diego Portales Alice Zurlo juga menyatakan selama ini batas antara planet, bulan, dan bintang relatif mudah dibedakan di tata surya. Akan tetapi, sistem seperti CD-35 2722 justru mengaburkan batas-batas tersebut sehingga kemungkinan diperlukan definisi baru mengenai apa yang dimaksud dengan sebuah bulan.

Metode Deteksi yang Berbeda

Hasil penelitian tersebut telah dipublikasikan dalam jurnal Nature. Selama ini para astronom telah berhasil menemukan ribuan eksoplanet, tetapi belum pernah mengonfirmasi keberadaan exomoon. Kesulitan utamanya terletak pada ukuran objek yang jauh lebih kecil dibandingkan planet maupun bintang. Sebagian besar eksoplanet ditemukan menggunakan metode transit, yaitu ketika sebuah planet melintas di depan bintang induknya sehingga menyebabkan cahaya bintang meredup dalam jumlah yang sangat kecil.

Metode lainnya adalah kecepatan radial, yaitu dengan mengamati goyangan kecil pada sebuah bintang akibat tarikan gravitasi planet yang mengorbitnya. Dalam kasus sistem CD-35 2722, pendekatan yang digunakan berbeda. Katai cokelat di sistem tersebut pertama kali ditemukan pada 2011 karena ukurannya cukup besar sehingga dapat diamati menggunakan teleskop optik. Namun, objek yang diduga sebagai exomoon terlalu kecil untuk dilihat secara langsung dari jarak puluhan tahun cahaya.

Oleh karena itu, tim astronom menggunakan metode kecepatan radial untuk mendeteksi perubahan kecil pada gerakan katai cokelat akibat pengaruh gravitasi objek yang mengorbitnya. Dari besarnya perubahan tersebut, para peneliti kemudian menghitung massa objek yang diduga sebagai exomoon. Penemuan ini menjadi langkah penting dalam upaya memahami bagaimana sistem planet terbentuk di alam semesta.

Join the discussion