Eks Mahid dan Jalan Panjang Kehidupan di Pengasingan
Tajuknusa.com – Pergantian politik yang menyusul peristiwa Gerakan 30 September 1965 tidak hanya mengubah kehidupan warga di dalam Indonesia. Dampaknya juga menjangkau orang-orang Indonesia yang ketika itu berada jauh dari Tanah Air, termasuk para pelajar, diplomat, utusan negara, dan anggota delegasi resmi. Sebagian di antaranya kemudian kehilangan kesempatan untuk pulang serta menjalani hidup sebagai eksil selama puluhan tahun.
Salah satu kelompok yang mengalami keadaan tersebut adalah Mahasiswa Ikatan Dinas atau Mahid. Mereka merupakan pelajar Indonesia yang dikirim ke luar negeri pada masa Presiden Ir Soekarno untuk menimba ilmu. Rencana awalnya jelas: menyelesaikan pendidikan, kembali ke Indonesia, lalu menggunakan keahlian mereka untuk berkontribusi bagi negara.
Namun, situasi politik pada 1965-1966 mengubah arah hidup sebagian dari mereka. Paspor dicabut, status kewarganegaraan dipersoalkan, dan akses untuk kembali ke Indonesia tertutup. Kondisi itu membuat sejumlah Mahid bertahan di negara tempat mereka sedang belajar atau bertugas, membangun keluarga, bekerja, dan menjalani kehidupan baru di luar negeri.
Pendidikan untuk Menyiapkan Tenaga Terampil
Program pengiriman Mahid menjadi bagian dari upaya Indonesia membentuk tenaga terdidik di berbagai bidang. Negara-negara tujuan umumnya memiliki hubungan yang dekat dengan Indonesia pada periode tersebut. Para mahasiswa tidak hanya mengambil satu jenis disiplin ilmu, melainkan belajar dalam bidang yang sangat beragam.
Peneliti Ari Junaedi menyebut pilihan studi para peserta mencakup broadcasting, farmasi, ilmu persenjataan, koreografi, ilmu dasar, seni, hingga akupunktur. Tingkat pendidikan yang mereka tempuh pun tidak seragam, dari jenjang sarjana hingga program magister dan doktoral.
Keberagaman keahlian itu menunjukkan bahwa para mahasiswa tersebut dipersiapkan untuk mengisi banyak kebutuhan pembangunan. Akan tetapi, perubahan kekuasaan di Indonesia membuat sebagian lulusan maupun mahasiswa yang masih menempuh studi tidak dapat menjalankan tujuan awal keberangkatan mereka.
Ultimatum dan Pencabutan Dokumen Perjalanan
Persoalan eksil tidak hanya dialami oleh mahasiswa ikatan dinas. Warga Indonesia yang berada di luar negeri sebagai perwakilan pemerintah, anggota delegasi resmi, ataupun dalam penugasan lain juga menghadapi konsekuensi dari perubahan politik setelah 1965.
Ari Junaedi menjelaskan bahwa pemerintahan Orde Baru pernah memberikan ultimatum kepada warga Indonesia di luar negeri agar melapor dan menyatakan kesetiaan kepada pemerintahan Soeharto. Tidak semua orang bersedia memenuhi tuntutan tersebut. Penolakan itu kemudian berkaitan dengan pencabutan paspor mereka.
“Proses keberangkatan para eksil selain melalui proses pengiriman mahasiswa ikatan dinas, juga ada yang menjadi utusan atau anggota resmi delegasi pemerintah ketika peristiwa 1965 meletus,” kata Ari Junaedi.
Bagi seseorang yang berada di negara lain, paspor bukan sekadar dokumen perjalanan. Dokumen tersebut berkaitan dengan identitas, perlindungan konsuler, serta kemampuan untuk melintasi perbatasan secara sah. Ketika paspor dicabut, pilihan hidup mereka menjadi sangat terbatas, terutama bagi orang-orang yang berharap pulang setelah studi atau tugasnya selesai.
Sejumlah warga Indonesia ketika itu kehilangan paspor karena tidak bersedia menandatangani pernyataan loyalitas kepada pemerintahan baru dan tidak menyetujui pandangan Orde Baru terkait G30S serta PKI. Akibatnya, sebagian tidak lagi dapat kembali ke Indonesia dan harus mencari jalan untuk menetap di negara tempat mereka berada.
Status Kewarganegaraan yang Tidak Pasti
Kehilangan dokumen perjalanan juga membawa persoalan yang lebih mendasar, yakni status kewarganegaraan. Ari Junaedi menyatakan sebagian orang yang terdampak akhirnya menjadi stateless, atau tidak memiliki kewarganegaraan. Situasi tanpa status kewarganegaraan dapat mempersulit banyak aspek kehidupan, termasuk urusan administrasi, pekerjaan, pendidikan, perjalanan, dan kepastian hukum.
Dalam perjalanan waktu, sebagian eks Mahid memperoleh kewarganegaraan negara tempat tinggal mereka. Ada yang menikah, membesarkan anak, serta berakar dalam kehidupan sosial di negara baru. Meski demikian, proses tersebut tidak menghapus sepenuhnya ikatan emosional mereka dengan Indonesia.
Keinginan untuk kembali tetap hidup pada sebagian eksil. Bahkan, ada yang berharap kelak dapat dimakamkan di Tanah Air. Harapan semacam itu menggambarkan bahwa pengasingan tidak selalu berarti putusnya hubungan batin dengan negeri asal, meskipun jarak dan persoalan dokumen telah memisahkan mereka selama bertahun-tahun.
Data Eks Mahid yang Masih Hidup
Pendataan Kementerian Luar Negeri yang tercatat dalam laporan kinerja Kementerian Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan tahun 2023 mencantumkan 139 eks Mahid yang masih hidup pada saat pendataan dilakukan. Angka itu merupakan catatan tahun 2023 dan tidak dapat diperlakukan sebagai jumlah terkini pada 2026.
Data tersebut penting untuk memahami skala manusiawi dari peristiwa politik masa lalu. Di balik angka tersebut terdapat individu-individu dengan jalur pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan pengalaman hidup yang berbeda-beda. Mereka berangkat sebagai mahasiswa atau utusan negara, tetapi sebagian kemudian menghadapi kenyataan hidup yang sama sekali tidak mereka rencanakan.
Kisah eks Mahid juga memperlihatkan dampak panjang suatu kebijakan negara terhadap generasi terdidik. Pendidikan yang semula dimaksudkan untuk memperkuat kapasitas bangsa justru tidak seluruhnya dapat kembali memberi manfaat langsung di Indonesia karena perubahan situasi politik.
“Kita telah membuang sebuah generasi terdidik akibat kebijakan pemerintah masa lalu,” ungkap Ari Junaedi.
Pengalaman para eksil menjadi bagian dari sejarah Indonesia yang memuat persoalan pendidikan, kewarganegaraan, identitas, dan hak untuk pulang. Perjalanan mereka menegaskan bahwa dampak pergolakan politik dapat bertahan jauh melampaui masa peristiwanya, bahkan membentuk kehidupan beberapa generasi berikutnya.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kisah Eks Mahid G30S?
Kisah Eks Mahid G30S is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kisah Eks Mahid G30S matter?
Kisah Eks Mahid G30S matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

