Lonjakan Pasien Anak Penuhi Layanan IGD RSUD Gunung Jati
Tajuknusa.com – Instalasi Gawat Darurat RSUD Gunung Jati di Kota Cirebon mengalami kenaikan jumlah pasien dalam satu hingga dua pekan terakhir. Anak-anak menjadi kelompok yang paling banyak datang dengan keluhan batuk, pilek, serta demam, sementara pasien dewasa turut menambah kepadatan layanan dengan berbagai kasus penyakit dalam.
Situasi tersebut tampak dari penggunaan brankar di area lobi IGD. Dari sekitar 15 unit yang lazim tersedia, hanya dua sampai tiga brankar yang masih siap digunakan. Kendati area IGD terlihat ramai, rumah sakit menyatakan ketersediaan tempat tidur rawat inap secara umum masih dapat memenuhi kebutuhan pasien.
Keluhan Pernapasan dan Demam Paling Sering Ditemui
Kepala Bidang Keperawatan RSUD Gunung Jati Cirebon, Yogi Yana, membenarkan adanya peningkatan kunjungan selama beberapa minggu terakhir. Kenaikan ini terutama terjadi pada pasien anak, bersamaan dengan bertambahnya pasien dewasa yang membutuhkan penanganan penyakit dalam.
“Untuk akhir-akhir ini, interval satu sampai dua minggu ke belakang, memang jumlah kunjungan pasien di IGD mengalami peningkatan. Khususnya peningkatan pasien anak, ditambah pasien dewasa, khususnya dengan penyakit dalam,” kata Yogi Yana kepada wartawan, Senin (28/9/2026).
Pada kelompok anak, keluhan batuk, pilek, panas, dan hipertermi masih menjadi alasan utama kunjungan ke IGD. Gejala-gejala tersebut memerlukan pemeriksaan tenaga medis, terutama ketika kondisi anak memburuk, demam berlanjut, atau terdapat kebutuhan observasi sebelum dokter menentukan tindak lanjut perawatan.
“Batuk, pilek, panas, itu masih mendominasi,” ujarnya.
Arus pasien tidak hanya berasal dari keluarga yang datang langsung ke IGD. Sejumlah pasien juga dikirim dari rumah sakit lain di sekitar Cirebon, khususnya ketika kapasitas pelayanan anak di fasilitas pengirim terbatas. Pasien rujukan pada umumnya telah memiliki indikasi untuk memperoleh perawatan lanjutan.
Observasi Dilakukan Sebelum Keputusan Rawat Inap
Setiap pasien yang tiba di IGD tetap melalui proses penanganan awal dan observasi. Tahap ini biasanya berlangsung sekitar dua hingga empat jam. Dalam rentang tersebut, dokter menilai perkembangan kondisi pasien untuk menentukan apakah pasien dapat melanjutkan pemulihan di rumah atau perlu dirawat di ruang perawatan.
Kasus pada pasien dewasa lebih beragam. Rumah sakit menangani pasien dengan hipertensi, demam, serta berbagai keluhan penyakit dalam lainnya. Perbedaan kebutuhan pelayanan antara pasien anak dan dewasa menjadi bagian dari pengaturan kapasitas yang dilakukan rumah sakit selama kunjungan meningkat.
Kepadatan yang terlihat di IGD juga tidak selalu mencerminkan seluruh kamar rawat inap telah penuh. Pasien dapat datang hampir bersamaan sehingga antrean penanganan dan penggunaan brankar tampak meningkat dalam waktu tertentu.
“Kadang pasien ini datang berbarengan. Jadi terlihatnya menumpuk. Namun, untuk tingkat keterisian kami masih tersedia,” jelasnya.
Keterisian Ruang Anak Meningkat
Peningkatan kunjungan turut memengaruhi bed occupancy rate atau BOR di ruang perawatan anak. Tingkat keterisian yang sebelumnya berada pada kisaran 60 hingga 65 persen kini naik menjadi sekitar 70 hingga 80 persen. Ruang Kemuning, yang digunakan untuk perawatan bayi, bahkan telah mencatat keterisian sekitar 91 persen.
Untuk menjaga pelayanan tetap berjalan, RSUD Gunung Jati telah menyiapkan tambahan area perawatan di lantai dua gedung IGD. Area tersebut dapat menampung kurang lebih 20 pasien dan dapat dipakai bagi pasien anak ataupun dewasa, mengikuti kebutuhan yang berkembang.
Fasilitas perawatan anak dan neonatal di rumah sakit ini mencakup PICU dengan 13 tempat tidur, NICU berkapasitas 18 tempat tidur, serta HCU Neonatal sebanyak 22 tempat tidur. Tersedia pula ruang PS1 dengan 23 tempat tidur, PS2 sebanyak 22 tempat tidur, PS3 berkapasitas 23 tempat tidur, dan PS4 dengan 19 tempat tidur.
Selain itu, Ruang Kemuning memiliki 34 tempat tidur, sedangkan Saripamudai menyediakan 14 tempat tidur. Ketersediaan ruang tersebut menjadi bagian dari kapasitas yang terus dipantau ketika angka kunjungan pasien mengalami perubahan.
Ruang Berokupansi Rendah Bisa Dialihfungsikan
Manajemen rumah sakit telah menyiapkan pilihan tambahan jika lonjakan pasien berlanjut. Salah satunya adalah penyesuaian fungsi sementara pada ruang yang tingkat keterisiannya lebih rendah, sehingga dapat digunakan untuk perawatan anak atau dewasa sesuai kebutuhan paling mendesak.
Langkah pengalihan fungsi itu belum diterapkan karena kapasitas saat ini masih dinilai cukup. Namun, opsi tersebut tetap tersedia sebagai bentuk antisipasi apabila ruang perawatan tertentu membutuhkan tambahan tempat tidur.
“Kami tidak menutup kemungkinan merubah fungsi kalau memang dibutuhkan. Salah satu indikatornya ruang perawatan yang BOR-nya rendah bisa dialihfungsikan menjadi ruang perawatan khusus, apakah yang dibutuhkan anak atau dewasa,” katanya.
Perhatian pada Penyakit yang Menular Lewat Udara
Di tengah peningkatan pasien anak, RSUD Gunung Jati juga melihat bertambahnya kasus penyakit yang penularannya melalui udara. Ketua Tim Kerja Evaluasi Pelayanan dan Sarana Prasarana Medis RSUD Gunung Jati, dr Ika Komala, menyebut keluhan batuk, pilek, dan influenza cukup sering ditemui dalam beberapa waktu terakhir.
“Betul terjadi. Peningkatan itu terutama sekali pada penyakit-penyakit yang menularnya lewat udara. Jadi banyaknya batuk, pilek, influenza,” ujarnya.
Kondisi ini patut diperhatikan keluarga, terutama karena anak-anak aktif berinteraksi di rumah, sekolah, dan lingkungan sekitar. Orang tua dapat memperhatikan perubahan kondisi anak, mencukupi kebutuhan istirahat serta cairan, dan segera mencari pertolongan medis ketika muncul tanda yang mengkhawatirkan atau keluhan tidak membaik.
Lonjakan layanan IGD menunjukkan pentingnya kesiapan fasilitas kesehatan dalam menangani pasien dengan kebutuhan yang beragam. Dengan penambahan area perawatan dan pemantauan keterisian tempat tidur, RSUD Gunung Jati berupaya menjaga akses pelayanan bagi pasien anak maupun dewasa selama periode peningkatan kunjungan ini.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Batuk hingga Demam Mendominasi Pasien Anak?
Batuk hingga Demam Mendominasi Pasien Anak is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Batuk hingga Demam Mendominasi Pasien Anak matter?
Batuk hingga Demam Mendominasi Pasien Anak matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

