7 Pilihan Wisata Palembang untuk Agenda Libur Dua hingga Tiga Hari
Tajuknusa.com – Palembang cocok menjadi tujuan perjalanan singkat bagi wisatawan yang ingin mengisi libur dua atau tiga hari dengan perpaduan sejarah, budaya, kuliner, dan suasana Sungai Musi. Dari bandara menuju pusat kota, jaraknya hanya sekitar 12 kilometer sehingga waktu kedatangan dapat dimanfaatkan lebih efisien untuk mulai menjelajahi kota.
Perjalanan dari bandara dapat ditempuh menggunakan taksi dalam kisaran 20–40 menit. Pilihan lainnya adalah LRT Palembang, dengan durasi perjalanan sekitar 45 menit hingga satu jam. Jadwal penerbangan dari Jakarta ke Palembang yang tersedia hampir sepanjang hari juga memungkinkan wisatawan berangkat pagi dan memaksimalkan hari pertama.
Sejumlah tempat menarik berada cukup berdekatan, khususnya di kawasan Sungai Musi dan pusat kota. Berikut tujuh destinasi yang dapat dirangkai dalam rencana kunjungan singkat di Palembang dan sekitarnya.
1. Jembatan Ampera
Jembatan Ampera merupakan penanda paling dikenal dari Kota Palembang. Infrastruktur ini menghubungkan wilayah Seberang Ulu dan Seberang Ilir yang dipisahkan oleh Sungai Musi. Pembangunannya dimulai pada April 1962, lalu jembatan tersebut diresmikan pada 1965.
Dengan panjang total 1.117 meter dan lebar 22 meter, Jembatan Ampera memiliki menara setinggi 63 meter dari permukaan tanah. Pada masa awal operasionalnya, bagian tengah jembatan sepanjang 71,90 meter dirancang untuk dapat terangkat agar kapal berukuran besar bisa melintas. Mekanisme itu tidak lagi berfungsi sejak 1970, sementara bandul pemberatnya dilepas pada 1990.
Kunjungan ke kawasan ini menarik dilakukan menjelang sore atau malam hari, ketika pemandangan Sungai Musi dan area kota di sekelilingnya terasa lebih hidup.
2. Benteng Kuto Besak
Tidak jauh dari Jembatan Ampera terdapat Benteng Kuto Besak, bangunan bersejarah yang menghadap langsung ke Sungai Musi. Proses pembangunannya dimulai pada 1780 dan memakan waktu sekitar 17 tahun. Benteng ini kemudian resmi ditempati pada 21 Februari 1792.
Ukuran Benteng Kuto Besak mencerminkan perannya pada masanya. Bangunan tersebut memiliki panjang 288,75 meter, lebar 183,75 meter, serta dinding yang hampir mencapai 10 meter dengan ketebalan hampir 2 meter. Letaknya yang sentral membuat kawasan ini mudah dipadukan dengan agenda mengunjungi Jembatan Ampera.
Pada malam hari, Plaza Benteng Kuto Besak ramai oleh pedagang kaki lima dan kerap menjadi tempat penyelenggaraan acara berskala besar. Karena itu, kawasan ini dapat menjadi pilihan untuk menutup agenda wisata setelah berkeliling pada siang hari.
3. Pulau Kemaro
Pengalaman wisata Sungai Musi dapat dilanjutkan ke Pulau Kemaro, pulau yang berada di tengah aliran sungai sekitar 6 kilometer dari pusat Kota Palembang. Perjalanan menuju pulau menjadi bagian penting dari kunjungan, karena wisatawan perlu menyeberang menggunakan kapal atau perahu.
Dari Dermaga Benteng Kuto Besak, perjalanan kapal menuju Pulau Kemaro memerlukan waktu sekitar 25–35 menit. Tarif pulang-pergi berada pada kisaran Rp50.000 hingga Rp100.000 per orang. Wisatawan juga dapat memilih perahu ketek dari Pasar 16 Ilir dengan tarif sekitar Rp20.000 per orang.
Di pulau ini terdapat Pagoda Sembilan Lantai yang dibangun pada 2006, Klenteng Hok Tjing Rio yang telah berdiri sejak 1962, Makam Siti Fatimah, serta Pohon Cinta. Beragam unsur tersebut menjadikan Pulau Kemaro sebagai tujuan yang mempertemukan sejarah, budaya, dan suasana khas tepian sungai.
4. Bukit Siguntang
Bukit Siguntang menawarkan sisi lain Palembang yang lebih tenang dan sarat jejak masa lalu. Lokasinya berada di Kelurahan Bukit Lama, sekitar 5 kilometer dari pusat kota. Kawasan ini diyakini berkaitan dengan perkembangan agama Buddha pada abad ke-7, ketika Sriwijaya berjaya.
Sejumlah peninggalan memperkuat nilai historis tempat ini, antara lain arca Buddha setinggi 2,77 meter, pecahan tembikar, dan keramik dari Dinasti Tang. Pengunjung tidak hanya datang untuk menikmati suasana kawasan yang lebih tinggi, tetapi juga untuk mengenal salah satu bagian penting dari sejarah Palembang.
Bukit Siguntang dibuka setiap hari pukul 08.00–17.00 WIB. Harga tiket masuknya Rp3.000 untuk anak-anak dan Rp5.000 bagi pengunjung dewasa. Menara pandang, gazebo, serta relief sejarah tersedia untuk menunjang kenyamanan sekaligus menambah unsur edukasi selama berkunjung.
5. Masjid Agung Palembang
Masjid Agung Palembang layak dimasukkan dalam rute wisata pusat kota karena lokasinya mudah dijangkau dari kawasan Ampera. Masjid ini dibangun pada abad ke-18 oleh Sultan Mahmud Badaruddin I dan tercatat sebagai masjid tertua sekaligus terbesar di Sumatera Selatan.
Keunikan utama bangunan ini terletak pada percampuran unsur Melayu, Cina, dan Eropa dalam arsitekturnya. Kubah besar serta ornamen khas memberi karakter visual yang kuat, menjadikannya tempat yang menarik bagi wisatawan yang ingin melihat warisan budaya Palembang dari dekat.
Saat berkunjung, pengunjung perlu menjaga ketertiban dan menghormati fungsi utama masjid sebagai tempat ibadah. Penempatan destinasi ini dalam perjalanan dari Ampera menuju pusat kota dapat membuat waktu kunjungan lebih efisien.
6. Bayt Al-Qur’an Al-Akbar
Destinasi lain yang memiliki daya tarik berbeda adalah Bayt Al-Qur’an Al-Akbar di Pondok Pesantren Al-Ihsaniyah, Kelurahan Gandus, Palembang. Tempat ini dikenal melalui koleksi Al-Qur’an raksasa yang dibuat dari kayu tembesu.
Karya tersebut berisi 630 halaman lengkap dengan 30 juz. Ketebalannya, termasuk sampul, mencapai 9 meter, sedangkan tinggi pajangannya mencapai 15 meter. Al-Qur’an raksasa ini diresmikan pada 2012 dan ditempatkan di museum seluas 5.520 meter persegi.
Bayt Al-Qur’an Al-Akbar dapat menjadi pilihan bagi wisatawan yang ingin menambahkan tujuan wisata religi dan kerajinan bernilai seni dalam jadwal perjalanan. Skala karya yang besar membuat kunjungan terasa berbeda dari wisata sejarah di kawasan Sungai Musi.
7. Kampung Kapitan
Kampung Kapitan berada di Seberang Ulu, di tepi Sungai Musi dan dekat dengan Jembatan Ampera. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya sejak 2011. Dengan tiket masuk sekitar Rp5.000, pengunjung dapat menyusuri lingkungan yang menyimpan jejak komunitas Tionghoa di Palembang.
Rumah-rumah di Kampung Kapitan menampilkan perpaduan gaya Palembang dan Tionghoa. Nilai historisnya juga berkaitan dengan keluarga Kapitan. Tjoa Kie Tjuan pernah memimpin kawasan tersebut pada 1830 hingga 1855, sebelum gelar Kapitan diteruskan kepada putranya, Tjoa Han Him.
Untuk libur singkat, Kampung Kapitan dapat dikunjungi dalam rangkaian perjalanan bersama Jembatan Ampera dan Benteng Kuto Besak. Dengan menyusun rute berdasarkan lokasi, wisatawan dapat menikmati sisi modern, religius, historis, hingga budaya Palembang tanpa menghabiskan banyak waktu di perjalanan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is 7 Destinasi Wisata di Palembang dan Sekitarnya?
7 Destinasi Wisata di Palembang dan Sekitarnya is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does 7 Destinasi Wisata di Palembang dan Sekitarnya matter?
7 Destinasi Wisata di Palembang dan Sekitarnya matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

