Skip to content
After Dark
Agustus 3, 2026
Ekonomi

Special Plan: Tanker Tinggalkan Selat Hormuz, Harga Minyak Turun dari US$ 70

Mary Brown - tajuknusa.com 3 mins read

yak Turun dari US$ 70 Special Plan - **Special Plan** menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global pada Rabu (24/6/2026), dengan harga

Special Plan: Tanker Tinggalkan Selat Hormuz, Harga Minyak Turun dari US$ 70

Tanker Tinggalkan Selat Hormuz, Harga Minyak Turun dari US$ 70

Special Plan – **Special Plan** menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak global pada Rabu (24/6/2026), dengan harga bergerak turun lebih dari US$ 3 per barel. Penurunan ini menandai level terendah sejak sebelum perang Iran pecah, menunjukkan perubahan signifikan dalam dinamika pasar energi. Peristiwa ini terjadi setelah banyak kapal tanker yang sempat terjebak di Selat Hormuz mulai bergerak kembali, sebagai respons terhadap kebijakan **Special Plan** yang memberikan pelonggaran sementara terhadap sanksi AS.

Penurunan Harga Minyak: Indikasi Kembalinya Stabilitas

Kontrak minyak Brent, standar global, turun US$ 3,42 atau 4,4% menjadi US$ 73,65 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melemah US$ 3,32 atau 4,6% ke US$ 69,87 per barel. Harga Brent sempat menyentuh titik terendah US$ 73,22 per barel, yaitu sejak 27 Februari 2026, satu hari sebelum serangan AS dan Israel terhadap Iran. Penurunan harga ini menunjukkan bahwa pasar mulai mempercayai perjanjian sementara antara Iran dan AS, yang diharapkan menjadi penggerak kebijakan **Special Plan** untuk normalisasi ekspor minyak.

Data pelayaran mencatat tiga kapal tanker yang membawa sekitar 5 juta barel minyak mentah meninggalkan Selat Hormuz pada hari tersebut. Dua di antaranya bergerak menuju kawasan Asia, sementara satu lainnya mengarah ke Eropa. Perpindahan ini muncul setelah kesepakatan sementara antara Iran dan AS membuka kembali distribusi minyak yang sebelumnya tertahan di wilayah Teluk. **Special Plan** berperan penting dalam membuka jalan bagi kapal-kapal tersebut, yang sebelumnya terdampak oleh ketegangan geopolitik.

Konteks Geopolitik dan Strategi Pemulihan Pasar

Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa Iran telah menyetujui inspeksi nuklir tanpa batas waktu sebagai bagian dari **Special Plan**. Meski Iran membantah memberikan konsesi tersebut, langkah ini diyakini menjadi penyeimbang untuk mengurangi premi risiko di pasar energi. **Special Plan** memberikan peluang bagi Iran untuk kembali menjual minyak ke pasar internasional, yang sebelumnya terhambat oleh sanksi ekonomi.

Menurut Tim Waterer, Kepala Analis Pasar KCM Trade, **Special Plan** memungkinkan kembalinya arus minyak Iran ke global. “Kami melihat tanda-tanda awal peningkatan aktivitas kapal tanker, tetapi pasar saat ini lebih memperhitungkan skenario yang lebih luas, yakni kembalinya minyak Iran ke pasar global dan normalisasi lalu lintas di Selat Hormuz,” ujar Waterer. Keberhasilan **Special Plan** dalam membuka akses minyak Iran akan memberi dampak jangka panjang pada harga energi internasional.

Di sisi lain, keterlibatan Oman dalam menyediakan jalur sementara untuk kapal tanker di Selat Hormuz memperkuat harapan normalisasi distribusi. Negara tersebut menetapkan dua jalur alternatif di sebelah utara dan selatan jalur utama, sebagai langkah untuk memastikan aliran minyak tetap lancar. **Special Plan** diharapkan akan mempercepat proses ini, seiring peningkatan pasokan dari Timur Tengah.

Oman mengklaim akan tetap menjaga Selat Hormuz terbuka untuk kapal internasional tanpa tambahan tarif. Langkah ini memperlihatkan komitmen regional dalam memperkuat ketersediaan minyak mentah. **Special Plan** juga menjadi faktor yang mendukung kebijakan ini, karena memungkinkan Iran mengirimkan minyak lebih cepat ke luar negeri. Kebijakan tersebut membuka jalan bagi keseimbangan pasokan dan permintaan yang lebih baik.

“Pasar belum sepenuhnya memperhitungkan risiko yang masih ada terkait isu nuklir dan sengketa inspeksi,” kata Malek, Kepala Investasi Siebert Financial Mark. Meski begitu, **Special Plan** berpotensi mengurangi ketakutan investor terhadap gejolak geopolitik, yang sebelumnya menyebabkan premi risiko meningkat signifikan.

Join the discussion