Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Nusantara

Krisis Air di Gunungkidul, Warga Tempuh 5 Km demi Setetes Air

Joseph Wilson - tajuknusa.com 3 mins read

Krisis Air di Gunungkidul Warga Tempuh 5 Km demi Setetes Air. Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta kini menghadapi kemarau berkepanjangan yang

Krisis Air di Gunungkidul, Warga Tempuh 5 Km demi Setetes Air

Krisis Air di Gunungkidul Warga Tempuh 5 Km demi Setetes Air

Tajuknusa.com – Krisis Air di Gunungkidul Warga Tempuh 5 Km demi Setetes Air. Kabupaten Gunungkidul di Daerah Istimewa Yogyakarta kini menghadapi kemarau berkepanjangan yang memengaruhi kehidupan ratusan penduduk. Krisis Air di Gunungkidul Warga menjadi sorotan utama karena kondisi kekeringan yang semakin parah. Warga Padukuhan Duwet, yang terletak di Kalurahan Purwodadi dan Kapanewon Tepus, harus bekerja ekstra keras untuk mendapatkan sumber air bersih. Setiap pagi, mereka melangkah sejauh lima kilometer menuju satu-satunya mata air yang masih mengalirkan air.

Kurang lebih 250 keluarga atau lebih dari 500 jiwa bergantung pada Kali Wonosari sebagai sumber utama air mereka. Meskipun air tersebut terlihat keruh, masyarakat tetap mengandalkan sumber ini untuk berbagai keperluan sehari-hari. Mulai dari minum, memasak, mandi, mencuci pakaian, hingga memberi minum hewan ternak semuanya dilakukan dengan air dari mata air ini. Krisis Air di Gunungkidul Warga semakin terasa ketika debit air mulai menyusut drastis akibat kemarau panjang yang melanda kawasan ini.

Antrean Panjang di Tepi Mata Air

Diantara lahan pertanian yang mulai mengering, warga datang bergantian membawa galon bekas air mineral. Mereka membentuk antrean panjang sebelum mengambil air dan membawanya pulang. Tidak jarang seorang warga harus bolak-balik sebanyak tiga hingga empat kali dalam satu hari demi memenuhi kebutuhan keluarga. Beberapa warga lainnya lebih memilih untuk mandi langsung di lokasi dengan memanfaatkan fasilitas sederhana yang dibangun secara gotong royong. Krisis Air di Gunungkidul Warga telah mengubah rutinitas harian mereka secara signifikan.

Untuk kebutuhan minum, masak, mandi, semuanya dari sini. Sehari bisa tiga sampai empat kali mengambil air karena memang tidak ada pilihan lain, ujar Wiwin Nurhayati, warga Padukuhan Duwet, Kamis (23/7/2026).

Bantuan Mobil Tangki Masih Diperlukan

Mulyono merasakan kondisi yang sama dengan warga lainnya. Ia menjelaskan bahwa debit air dari mata air tersebut tidak pernah cukup untuk menampung seluruh kebutuhan penduduk setempat. Oleh karena itu, bantuan air bersih melalui mobil tangki dari pemerintah menjadi sangat penting. Ia menambahkan bahwa mulai bulan ini situasi semakin sulit, terutama bagi keluarga tanpa penampungan air atau yang memiliki anak kecil. Krisis Air di Gunungkidul Warga memerlukan solusi jangka panjang untuk mengatasi masalah ini.

Sementara itu, Sutrianti menceritakan bahwa ia harus menempuh perjalanan sekitar empat kilometer setiap harinya. Kebutuhan air keluarganya mencapai enam galon per hari, sehingga ia membawa puluhan galon kosong menggunakan kendaraan agar proses pengambilan air lebih efisien. Ia berharap suatu hari nanti akan ada pompa air yang dapat mengurangi jarak tempuh warga. Kondisi ini menunjukkan betapa beratnya beban yang harus ditanggung oleh masyarakat lokal.

Kesulitan ini telah dirasakan selama dua bulan terakhir. Sebelumnya, kawasan ini memiliki jaringan air bersih yang dibangun secara swadaya oleh karang taruna. Sayangnya, fasilitas tersebut tidak berfungsi lagi setelah pompa air mengalami kerusakan. Keterbatasan dana menyebabkan perbaikan tertunda, sehingga jaringan air tersebut mati selama lebih dari dua tahun. Selain itu, jaringan air bersih bantuan pemerintah yang sempat dibangun juga hanya beroperasi satu kali sebelum akhirnya berhenti berfungsi sepenuhnya.

Bagi warga Padukuhan Duwet, kemarau bukan hanya mengeringkan sawah dan ladang. Setiap tetes air kini harus diperjuangkan dengan perjalanan panjang, menguras tenaga dan waktu demi memastikan kebutuhan dasar keluarga tetap terpenuhi. Krisis Air di Gunungkidul Warga menjadi bukti nyata ketangguhan masyarakat dalam menghadapi tantangan alam yang semakin sulit.

Join the discussion