Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Ekonomi

Bank Emas Berpotensi Tambah PDB Rp 22,9 Triliun

Richard Wilson - tajuknusa.com 3 mins read

Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengungkapkan bahwa keberadaan bank emas memberikan

Bank Emas Berpotensi Tambah PDB Rp 22,9 Triliun

Ekosistem Bank Emas Diduga Mampu Dorong Pertumbuhan Ekonomi Nasional

Tajuknusa.com – Esther Sri Astuti, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), mengungkapkan bahwa keberadaan bank emas memberikan kontribusi strategis bagi kondisi perekonomian Indonesia. Melalui berbagai mekanisme seperti pembiayaan berbasis emas, pinjaman logam mulia, serta skema dore, estimasi menunjukkan peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) mencapai Rp 22,9 triliun. Selain itu, layanan ini juga dinilai dapat memperkuat rantai pasok emas nasional, memperluas akses investasi bagi masyarakat, serta berfungsi sebagai instrumen perlindungan nilai terhadap kenaikan inflasi.

Menurut Esther, yang menyampaikan pandangannya di Jakarta pada Rabu (22/7/2026) sebagaimana dikutip dari Antara, bank emas memegang peranan krusial baik dalam konteks ekonomi global maupun lokal. Hal ini terutama terkait dengan efektivitas ekosistem emas yang berjalan optimal serta peningkatan kapasitas produksi emas dalam negeri. Dengan adanya infrastruktur yang memadai, sektor ini diharapkan dapat menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi jangka panjang.

Proyeksi Dampak Ekonomi dan Lapangan Kerja

Berdasarkan kajian yang dilakukan pemerintah pada tahun 2025, kehadiran bank emas diproyeksikan mampu menambah nilai dalam rantai pasok emas serta mendorong produksi emas nasional dengan estimasi mencapai Rp 201 triliun. Pengembangan industri ini juga diperkirakan akan menyerap tenaga kerja baru sebanyak 801.000 orang. Di sisi lain, layanan bank emas berpotensi meningkatkan jumlah uang beredar hingga Rp 53 triliun.

Pembiayaan yang didukung oleh emas juga diyakini dapat mendorong konsumsi ritel senilai Rp 22,8 triliun serta meningkatkan investasi sektor usaha kecil dan menengah (UKM) hingga Rp 16,2 triliun. Esther menambahkan bahwa bank emas membuka peluang lebih luas bagi masyarakat untuk berinvestasi pada instrumen yang relatif stabil. Selain memperluas akses investasi, emas juga berfungsi sebagai aset safe haven yang mampu menjaga nilai kekayaan saat inflasi meningkat.

Emas dikenal sebagai pelindung nilai terhadap inflasi. Bank emas memungkinkan masyarakat untuk menyimpan kekayaan mereka dalam bentuk emas, yang memiliki daya tahan lebih baik dibandingkan dengan mata uang fiat yang dapat terdevaluasi akibat inflasi.

Peluang dalam Perbankan Syariah dan Tantangan yang Ada

Menurut Esther, kehadiran bank emas juga dapat meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap sistem keuangan dengan menyediakan alternatif investasi yang lebih stabil di tengah ketidakpastian ekonomi. Ia menilai layanan bank emas memiliki peluang besar untuk dikembangkan dalam ekosistem perbankan syariah karena sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Meski demikian, Esther mengingatkan pengembangan bank emas tetap menghadapi sejumlah tantangan. Tantangan tersebut antara lain fluktuasi harga emas, biaya layanan, serta masih rendahnya tingkat literasi dan inklusi keuangan masyarakat.

Sebelumnya, Presiden Prabowo Subianto mengungkapkan layanan bank emas nasional atau bullion bank telah mengelola 153 ton emas dengan nilai sekitar US$ 20 miliar sejak diluncurkan pada 2025. Saat memberikan taklimat dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, Senin (20/7/2026), Prabowo menyebut pendirian bank emas menjadi salah satu capaian penting pemerintah selama 20 bulan terakhir. Layanan tersebut dikelola oleh Pegadaian dan Bank Syariah Indonesia (BSI).

Untuk pertama kali dalam sejarah Republik Indonesia, Indonesia punya bank emas, bullion, yang sekarang sudah mengelola 153 ton emas.

Join the discussion