Facing Challenges: ITS Luncurkan Mobil Formula Sapuangin Speed 8, Ini Keunggulannya
ITS Luncurkan Mobil Formula Sapuangin Speed 8: Menghadapi Tantangan dengan Inovasi Facing Challenges - Proyek "Facing Challenges" kembali menjadi fokus utama
ITS Luncurkan Mobil Formula Sapuangin Speed 8: Menghadapi Tantangan dengan Inovasi
Facing Challenges – Proyek “Facing Challenges” kembali menjadi fokus utama Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam menghadapi ajang Formula Society of Automotive Engineers (SAE) Japan 2026. Mobil Formula Sapuangin Speed 8, generasi kedelapan dari tim ITS, dirancang untuk menghadapi tantangan teknis dan kompetitif di panggung internasional. Dengan kombinasi desain aerodinamika terkini, struktur sasis canggih, serta penerapan material ringan berbasis serat karbon, Sapuangin Speed 8 menawarkan kinerja yang lebih optimal dibandingkan mobil sebelumnya. Tim Sapuangin berkomitmen untuk menghadapi tantangan ini dengan strategi inovatif dan pengalaman akademik yang memperkaya kemampuan mahasiswa.
Pengembangan Tim dan Penguasaan Teknis
Mobil Formula Sapuangin Speed 8 bukan hanya produk teknologi, tetapi juga hasil dari proses pembelajaran yang intensif. Rektor ITS, Prof Bambang Pramujati, menegaskan bahwa tantangan dalam proyek ini menjadi pembelajaran berharga bagi mahasiswa. “Kami menghadapi tantangan dengan merancang mobil yang bisa mengimbangi keterbatasan mesin berkapasitas 250 cc, sambil tetap memenuhi standar keselamatan dan performa,” jelasnya. Selain itu, mahasiswa juga diberikan kesempatan untuk mengelola riset, desain, dan pengujian mobil secara mandiri, sehingga mampu mengembangkan keterampilan teknis dan manajerial secara seimbang.
“Keikutsertaan di Formula SAE Japan 2026 adalah ujian nyata bagi kami. Kami harus menghadapi tantangan dari segi desain, kecepatan, dan kekompakan tim,” ujar Prof Pramujati.
Desain Aerodinamis dan Material Ringan
Sapuangin Speed 8 mengalami perubahan signifikan dibandingkan generasi sebelumnya. Desain aerodinamika baru mengadopsi sistem downforce yang lebih efisien, dengan front wing dan rear wing yang mengoptimalkan aliran udara untuk meningkatkan stabilitas saat berbelok. Struktur sasis juga dirancang ulang dengan material komposit serat karbon, yang memungkinkan pengurangan berat secara signifikan tanpa mengorbankan kekuatan. Pembaruan ini merupakan respons terhadap tantangan balapan di Jepang yang memiliki lintasan kompleks dan kebutuhan performa tinggi.
Kelompok dosen dan mahasiswa yang terlibat dalam pengembangan Sapuangin Speed 8 mengungkapkan bahwa inovasi ini dihasilkan dari evaluasi mendalam terhadap kelemahan mobil generasi sebelumnya. “Kami ingin menghadapi tantangan dengan persiapan yang lebih matang, mulai dari desain hingga pengujian,” tambah Dosen Pembimbing Tim Sapuangin, Dr Ir Witantyo. Proses pengembangan melibatkan kolaborasi antar anggota tim dan masukan dari alumni yang berpengalaman dalam industri otomotif.
Strategi Teknis untuk Kompetisi Internasional
Formula SAE Japan 2026 menjadi target utama Sapuangin Speed 8. Dengan keikutsertaan tim sejak 2019, ajang ini menjadi momentum penting untuk menunjukkan kemajuan riset otomotif ITS. Pembaruan teknis seperti penyesuaian geometri suspensi dan sistem pengereman berbasis teknologi modern diharapkan mampu mengatasi tantangan dari persaingan tim luar negeri. “Mobil ini dirancang untuk menghadapi tantangan lintasan yang berliku, dengan fokus pada responsivitas dan efisiensi tenaga,” jelas Chandra Iksan Suryana, General Manager ITS Team Sapuangin.
“Kami percaya bahwa menghadapi tantangan adalah cara terbaik untuk menguji kemampuan teknis dan kreativitas kami. Ini bukan hanya kompetisi, tetapi juga proses pembelajaran yang dinamis,” tutur Chandra.
Proses Pengujian dan Adaptasi Desain
Sebelum lomba, tim Sapuangin melakukan pengujian menyeluruh di berbagai kondisi trek untuk memastikan kinerja mobil optimal. Proses ini melibatkan simulasi aerodinamika, pengukuran efisiensi bahan bakar, dan analisis keandalan mesin. “Kami terus menyesuaikan desain berdasarkan hasil pengujian, agar Sapuangin Speed 8 bisa bersaing secara global,” kata Witantyo. Adaptasi ini juga mencakup perubahan pada sistem elektronik dan sensor yang dipasang untuk mendukung pengendalian lebih presisi.
Dengan menghadapi tantangan pengujian di luar negeri, tim ITS bertujuan untuk meningkatkan daya saing riset otomotif nasional. Proyek ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan inovasi teknologi dari Indonesia ke panggung internasional, sekaligus membuktikan bahwa mahasiswa lokal mampu bersaing dengan tim internasional. “Ini adalah kesempatan untuk menunjukkan bahwa kami tidak kalah dalam menghadapi tantangan teknis,” pungkas Prof Pramujati.
