Topics Covered: Pratikno Ajak Orang Tua Kurangi Screen Time dan Stop Kekerasan Anak
Pratikno: Orang Tua Harus Kurangi Screen Time dan Stop Kekerasan Anak Topics Covered dalam upaya memperkuat perlindungan anak, Menteri Koordinator Bidang
Pratikno: Orang Tua Harus Kurangi Screen Time dan Stop Kekerasan Anak
Topics Covered dalam upaya memperkuat perlindungan anak, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, mengajak para orang tua untuk mengurangi waktu layar (screen time) dan menghentikan kekerasan terhadap anak. Gerakan ini menjadi bagian dari kampanye nasional yang bertujuan menciptakan lingkungan aman dan nyaman bagi generasi muda. Acara “Gerak Bersama Anak Indonesia 2026” yang diadakan di Jakarta, 19 Juli 2026, menjadi platform untuk menggambarkan langkah strategis pemerintah dalam mengatasi tantangan zaman digital.
Pilar Utama Perlindungan Anak
Pratikno menekankan bahwa perlindungan anak mendasari empat aspek kritis: keluarga, pendidikan, ruang publik, dan digital. “Anak-anak berhak tumbuh dalam lingkungan yang aman, baik di rumah, sekolah, maupun di mana pun mereka berada,” jelasnya. Dalam Topics Covered, ia menyoroti bahwa lingkungan digital perlu diperhatikan secara khusus karena menjadi salah satu sumber penyebaran kekerasan yang tidak terlihat. Pemerintah, lanjut Pratikno, berkomitmen menciptakan ruang yang mendukung pertumbuhan anak secara optimal.
Salah satu langkah penting dalam Topics Covered adalah pengurangan screen time. Menurut data yang diungkapkan, rata-rata waktu layar anak Indonesia mencapai lebih dari 7,5 jam per hari. Hal ini berpotensi mengganggu kemampuan berpikir kritis, kreativitas, dan interaksi sosial. Pratikno menyarankan orang tua membatasi penggunaan perangkat gawai, terutama saat anak sedang belajar atau bermain di luar rumah.
Strategi Berkelanjutan untuk Perlindungan Anak
Di samping mengurangi screen time, Pratikno juga menekankan pentingnya membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari. “Kita perlu menciptakan pola hidup yang sehat, baik melalui keluarga maupun institusi pendidikan,” tegasnya. Topics Covered menunjukkan bahwa kekerasan anak tidak hanya berupa fisik, tetapi juga bisa melalui sikap atau perilaku yang tidak mendukung perkembangan mental mereka. Pemerintah telah mengeluarkan Peraturan Pemerintah tentang Tunas sebagai alat untuk mengarahkan anak-anak ke jalur yang positif.
Pratikno menyarankan beberapa langkah praktis yang bisa diterapkan oleh orang tua. Pertama, memberikan contoh yang baik dengan mengurangi penggunaan gawai di depan anak. Kedua, mendorong anak untuk berpartisipasi dalam kegiatan keluarga yang tidak melibatkan layar. Ketiga, memastikan penggunaan teknologi berbasis nilai-nilai kebajikan dan tanggung jawab. “Dengan Topics Covered ini, kita bisa membangun generasi muda yang sehat dan tangguh,” imbuhnya.
Kampanye Nasional untuk Perubahan Sosial
Kampanye “Gerak Bersama Anak Indonesia 2026” menampilkan berbagai kegiatan yang mencerminkan komitmen bersama untuk melindungi anak. Acara tersebut dilengkapi dengan jalan santai di hari Car Free Day, senam sehat, dan pertunjukan seni yang menarik perhatian publik. Hadir dalam acara ini Menteri Hak Asasi Manusia Natalius Pigai, Menteri Komunikasi dan Informatika Meutya Hafid, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Arifah Fauzi. Mereka bersama-sama mendukung pendekatan holistik dalam memberikan perlindungan untuk anak-anak Indonesia.
Pratikno menegaskan bahwa Topics Covered dalam kampanye ini bukan sekadar mengurangi waktu layar, tetapi juga meningkatkan kesadaran akan kekerasan anak. “Anak-anak perlu merasa aman di mana pun mereka berada, termasuk di ruang digital,” katanya. Pemerintah menargetkan bahwa melalui kegiatan seperti ini, masyarakat dapat terlibat aktif dalam menciptakan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan.
Langkah Nyata dalam Pembinaan Anak
Salah satu inisiatif yang diperkenalkan dalam Topics Covered adalah pembuatan saluran pengaduan khusus untuk anak. Platform ini memudahkan anak-anak dan orang tua melaporkan kekerasan atau perlakuan tidak adil yang dialami. Pratikno juga menyoroti peran guru dan wali kelas dalam menjadi pengawas utama bagi pertumbuhan anak di lingkungan sekolah. “Kita perlu melibatkan semua pihak agar perlindungan anak tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi juga masyarakat secara luas,” lanjutnya.
Dalam Topics Covered ini, Pratikno menekankan pentingnya pendidikan karakter yang diberikan sejak dini. “Anak-anak harus diajarkan cara berinteraksi dengan teknologi secara seimbang, bukan terlalu berlebihan,” ujarnya. Selain itu, ia juga menyoroti perlu adanya pengawasan terhadap konten digital yang berdampak negatif pada anak. Pemerintah berharap melalui kegiatan seperti ini, nilai-nilai keamanan dan kebahagiaan anak dapat terbangun secara bersama.
“Anak-anak mempunyai hak untuk aman dan nyaman, baik di rumah, di satuan pendidikan, di ruang publik, maupun di ruang digital,” ujar Pratikno dalam acara tersebut. Ia menegaskan bahwa Topics Covered menjadi sarana mengingatkan bahwa perlindungan anak adalah tanggung jawab bersama. Dengan kerja sama yang baik, anak-anak dapat tumbuh menjadi generasi yang mandiri, berintegritas, dan berprestasi.”
