Skip to content
After Dark
Agustus 2, 2026
Nusantara

Main Agenda: Jembatan Enang-Enang Bangkit dari Bencana Berkat Gotong Royong Warga

Sarah Smith - tajuknusa.com 3 mins read

Jembatan Enang-Enang Bangkit dari Bencana Berkat Gotong Royong Warga Main Agenda menjadi sorotan utama setelah Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah

Main Agenda: Jembatan Enang-Enang Bangkit dari Bencana Berkat Gotong Royong Warga

Jembatan Enang-Enang Bangkit dari Bencana Berkat Gotong Royong Warga

Main Agenda menjadi sorotan utama setelah Jembatan Enang-Enang di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, kembali berfungsi setelah mengalami kerusakan parah akibat banjir bandang dan longsor pada November 2025. Bencana tersebut menghancurkan jalur nasional Bireuen-Takengon, yang menjadi akses kritis bagi masyarakat setempat. Melalui gotong royong, warga berusaha mengembalikan kondisi jembatan, menunjukkan ketahanan dan semangat kerja sama dalam menghadapi krisis.

Pelaksanaan Bencana dan Dampak yang Memburuk

Pada akhir November 2025, banjir bandang dan longsor menghancurkan Jembatan Enang-Enang, mengakibatkan kerusakan signifikan pada struktur bangunan dan badan jalan. Luapan air sungai serta material tanah longsor menyebabkan gangguan akses transportasi yang parah, mengisolasi sejumlah kecamatan dan menghambat distribusi hasil pertanian dari dataran tinggi Gayo ke daerah pesisir. Sebagai bagian dari Main Agenda, jembatan ini menjadi simbol ketergantungan masyarakat pada infrastruktur nasional.

Gotong Royong sebagai Pendorong Pemulihan

Setelah bencana, warga terus berupaya memperbaiki jembatan secara mandiri. Meski masih menunggu perbaikan permanen dari pemerintah, gotong royong tetap menjadi pilihan utama untuk mengatasi situasi darurat. Upaya ini melibatkan perantau, donatur, dan kelompok masyarakat seperti HPBM Banda Aceh, yang memastikan akses darurat tetap terbuka. Semangat gotong royong menjadi pilar dalam Main Agenda pemulihan infrastruktur setelah bencana.

“Kita tidak bisa menunggu pemerintah untuk menyelesaikan semua. Warga harus saling bantu agar akses yang menjadi urat nadi perekonomian bisa segera pulih,” kata Rifki Hasan Gayo, Sekretaris Umum HPBM Banda Aceh, pada 1 Juni 2026. Ia menekankan pentingnya kepastian teknis dari pihak terkait untuk mempercepat Main Agenda rekonstruksi.

Pada pertengahan Juni 2026, BPJN Aceh mengumumkan bahwa pembangunan Jembatan Enang-Enang akan dimulai di tahun 2027. Pelaksana Tugas Kepala BPJN Aceh, Zulkarnaini, menyatakan bahwa kajian teknis terlebih dahulu dibutuhkan karena lokasi jembatan berada di lereng gunung yang rentan perubahan kondisi tanah. Meski ada keterlambatan, Main Agenda ini tetap menjadi prioritas dalam upaya memperkuat ketahanan wilayah.

Sebelumnya, BPJN Aceh sempat meminta kegiatan gotong royong dihentikan, dengan alasan keselamatan bagi pekerja. Namun, warga menilai upaya mereka membantu mengurangi dampak isolasi. Zulkarnaini memastikan bahwa akses jembatan tetap terbuka untuk pejalan kaki dan kendaraan ringan, sementara truk berat diimbau tidak melintas untuk menghindari risiko kerusakan tambahan. Hal ini menunjukkan koordinasi yang lebih baik dalam Main Agenda pemulihan.

Gerakan gotong royong terus berlanjut meski pemerintah belum menyelesaikan perbaikan permanen. Tokoh masyarakat Sahrial Abadi menjadi penggerak utama dalam penggalangan dana untuk akses darurat, termasuk pemeliharaan jembatan secara sementara. Dengan semangat gotong royong, masyarakat berharap Main Agenda rekonstruksi dapat berjalan lebih cepat, seiring permintaan dari kelompok masyarakat yang terus meningkat.

Secara keseluruhan, dari 16 jembatan nasional yang terdampak bencana, hanya 12 yang telah pulih sementara. Jembatan Weihni Enang-Enang, yang merupakan salah satu dari tiga ruas yang belum selesai, tetap menjadi fokus dalam Main Agenda perbaikan. Pemulihan ini tidak hanya menyangkut infrastruktur, tetapi juga kesadaran kolektif warga tentang pentingnya kerja sama dalam mengatasi krisis.

Join the discussion