Special Plan: Bahlil Nostalgia Masa Kecil Tanpa Listrik, Hidup dengan Lampu Pelita
Bahlil: Special Plan Membawa Kembali Kenangan Masa Kecil Tanpa Listrik Special Plan - Dalam kunjungan kerja ke Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing
Bahlil: Special Plan Membawa Kembali Kenangan Masa Kecil Tanpa Listrik
Special Plan – Dalam kunjungan kerja ke Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia membagikan cerita nostalgia masa kecilnya yang dipicu oleh program Special Plan. Selama kunjungan pada Jumat (19/6/2026), Bahlil melihat langsung penerapan Special Plan dalam memberikan akses listrik gratis kepada masyarakat desa. Pengalaman masa kecilnya di kampung halaman di Papua, di mana ia tumbuh dengan hanya mengandalkan lampu pelita, mengingatkannya akan pentingnya kebutuhan dasar ini untuk membangun masa depan yang lebih cerah.
Riwayat Nostalgia dan Tantangan Masa Lalu
Bahlil menceritakan bagaimana kehidupan di masa kecilnya dipenuhi oleh kegelapan yang menjadi bagian dari rutinitas sehari-hari. “Saya memasuki kelas 6 SD saat listrik pertama kali hadir di kampung halaman. Belajarnya pakai lampu pelita, dan kegiatan sehari-hari bergantung pada sumber cahaya sederhana,” katanya. Di masa itu, lampu pelita bukan sekadar alat penerangan, tetapi juga simbol kebutuhan yang sangat dinantikan. Ia menegaskan bahwa kekurangan energi listrik membuat hidup lebih sulit, terutama dalam mengakses pendidikan dan layanan kesehatan.
“Di masa lalu, melahirkan di kampung hanya berpenerangan lampu pelita atau petromaks. Risikonya sangat tinggi, tetapi kita tetap berjuang,” ujar Bahlil.
Program Special Plan sebagai Langkah Strategis
Program Special Plan yang saat ini diterapkan di Desa Hardimulyo dinilai Bahlil sebagai bagian dari upaya pemerintah mempercepat pemerataan energi. Dalam periode 2025, program ini telah menjangkau 1.361 desa dan dusun dengan dana Rp 3,6 triliun. Di 2026, anggaran ditingkatkan menjadi Rp 10,3 triliun untuk menutupi kebutuhan daerah yang masih terpencil. “Ini adalah bentuk komitmen pemerintah untuk menjawab kebutuhan masyarakat,” imbuhnya.
Bahlil juga menyoroti bagaimana Special Plan bisa mengubah cara hidup masyarakat. Dengan akses listrik yang lebih mudah, ia berharap generasi muda dapat berkembang tanpa hambatan. “Saya tidak ingin anak-anak di masa depan masih mengalami kekurangan seperti dulu,” tegasnya. Program ini, menurutnya, tidak hanya memberikan kenyamanan, tetapi juga mempercepat peningkatan kualitas hidup.
“Special Plan adalah jembatan untuk menyeberangi keterbatasan. Masyarakat yang dulu kesulitan, sekarang bisa menikmati manfaat dari energi listrik,” ujarnya.
Target Pemerataan dan Perkembangan Keterjangkauan
Menurut Bahlil, Special Plan juga membantu menutupi kesenjangan antara daerah perkotaan dan pedesaan. Meski investasi untuk memasang listrik di dusun terpencil bisa mencapai ratusan juta rupiah per kepala keluarga, ia menegaskan bahwa ini tidak boleh menghalangi kemajuan. “Pemerintah harus mengutamakan pelayanan rakyat, bukan hanya keuntungan bisnis,” pungkasnya.
Bahlil mengatakan, masih ada sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum memiliki akses listrik optimal. Meski kebanyakan berada di wilayah timur, beberapa daerah di Jawa seperti Purworejo juga masih memerlukan perhatian. “Keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berkembang. Special Plan akan menjadi jawabannya,” tambahnya.
Kisah Inspiratif dan Harapan Masa Depan
Kunjungan Bahlil ke Desa Hardimulyo sekaligus menjadi pengingat bahwa Special Plan tidak hanya sebatas program pemerintah, tetapi juga kisah inspirasi bagi masyarakat. Ia menceritakan betapa berharga nya akses listrik bagi anak-anak yang lahir di kampung halaman. “Saya dulu anak kampung tanpa listrik, tapi kini saya bisa menjadi menteri ESDM. Ini bukan keajaiban, tetapi hasil dari perjuangan yang berkelanjutan,” katanya.
Bahlil berharap Special Plan dapat mendorong keterlibatan lebih banyak pemangku kepentingan, termasuk masyarakat desa itu sendiri. Ia menekankan pentingnya kolaborasi dalam memastikan program ini berjalan optimal. “Masyarakat harus turut serta dalam mengawasi dan mempercepat penerapan Special Plan,” pungkasnya. Dengan begitu, kebutuhan dasar seperti energi listrik bisa terpenuhi lebih cepat, terutama di wilayah yang masih tertinggal.
