Latest Program: Penerapan B50 Bisa Kurangi Penerimaan Devisa dari CPO
Penerapan B50 Bisa Kurangi Penerimaan Devisa dari CPO Latest Program - Jakarta, Beritasatu.com – Implementasi biodiesel B50 dianggap dapat mengurangi
Penerapan B50 Bisa Kurangi Penerimaan Devisa dari CPO
Latest Program – Jakarta, Beritasatu.com – Implementasi biodiesel B50 dianggap dapat mengurangi penggunaan bahan bakar minyak (BBM) impor. Namun, kebijakan ini berpotensi memengaruhi sektor ekspor kelapa sawit. Menurut Yusuf Rendy Manilet dari Center of Reform on Economics (CORE), penerapan wajib B50 perlu mempertimbangkan dampak peluang akibat penurunan ekspor minyak sawit mentah (CPO).
Analisis Yusuf Rendy Manilet
Yusuf menekankan bahwa evaluasi program harus lebih menyeluruh agar manfaat ekonominya terukur secara akurat. Ia mengatakan pemerintah tidak cukup sekadar menghitung penghematan dari penurunan impor solar, tetapi juga wajib memperhitungkan risiko berkurangnya penerimaan devisa dari ekspor CPO.
“Ukuran keberhasilan program tidak cukup hanya membandingkan penghematan impor dengan besarnya subsidi, melainkan juga harus memasukkan biaya peluang dari ekspor yang dikorbankan,” ujarnya dilansir dari Antara, Minggu (5/7/2026).
Proyeksi Pemerintah
Sebelumnya, pemerintah memproyeksikan bahwa penerapan B50 akan menghemat devisa melalui penurunan impor solar sebesar Rp 157,28 triliun pada 2026. Sementara itu, biaya insentif untuk biodiesel yang dielola Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) diperkirakan mencapai sekitar Rp 32 triliun.
Konsekuensi Pendanaan
Dari segi pendanaan, Yusuf menjelaskan bahwa program B50 didanai melalui BPDPKS, sehingga tidak langsung memberatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Namun, sumber dana BPDPKS berasal dari pungutan ekspor sawit. Dengan demikian, meningkatnya konsumsi CPO di dalam negeri berpotensi mengurangi volume ekspor yang menjadi pendapatan negara.
Peran Harga Global
Yusuf menambahkan bahwa keberhasilan fiskal program sangat tergantung pada dinamika harga komoditas internasional. Ketika harga minyak dunia tinggi dan harga CPO rendah, biodiesel akan lebih kompetitif, sehingga subsidi bisa berkurang. Sebaliknya, jika harga CPO naik atau harga minyak turun, biaya pelaksanaan program berpotensi meningkat.
Efektivitas Jangka Panjang
Menurut Yusuf, efektivitas B50 jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh besarnya subsidi, tetapi juga kualitas alokasi anggaran. “Jika sebagian besar dana terus dialokasikan untuk konsumsi biodiesel sementara investasi pada peningkatan produktivitas sawit rakyat terbatas, maka manfaat ekonomi jangka panjang berisiko tidak optimal,” tambahnya.
Artikel Terkait
Simak berita dan artikel lainnya di Google News. Ikuti yang terbaru melalui WhatsApp Channel Beritasatu. Iran Gelar Salat Jenazah untuk Ayatullah Ali Khamenei di Teheran. Badan Geologi Pastikan Video Erupsi Anak Krakatau yang Viral Hoaks. Harga Emas Dunia Diramal Bisa Tembus US$ 5.500. Polisi Tangkap Lagi Terduga Penyerang Aparat di Katingan. BPBD Banten Siaga Penuh Antisipasi Aktivitas Gunung Anak Krakatau. Tersangka Kasus Suap, Bupati Langkat Ditahan KPK. Kemensos dan Pemprov DKI Jakarta Tambah 1.000 Siswa Sekolah Rakyat. Audiensi B-Universe ke Kementrian Perumahan dan Kawasan Permukiman. HUT Investor Daily ke-25. Karut-marut Program MBG. Apa Konsekuensi Menjadi Anggota OECD? Keniscayaan Refurbishment ITS Giuseppe Garibaldi. Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional.
