Skip to content
After Dark
Agustus 3, 2026
Ototekno

New Policy: Survei Unicef: Anak Pakai AI 3 Kali Lebih Cepat daripada Orang Dewasa

David Hernandez - tajuknusa.com 4 mins read

New Policy: Survei Unicef Ungkap Anak-Anak Lebih Aktif Menggunakan AI New Policy - Jakarta, Beritasatu.com — Laporan terbaru dari United Nations Children's

New Policy: Survei Unicef: Anak Pakai AI 3 Kali Lebih Cepat daripada Orang Dewasa

New Policy: Survei Unicef Ungkap Anak-Anak Lebih Aktif Menggunakan AI

New Policy – Jakarta, Beritasatu.com — Laporan terbaru dari United Nations Children’s Fund (Unicef) mengungkap fakta mengejutkan bahwa anak-anak menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI) tiga kali lebih cepat dibandingkan orang dewasa. Survei yang dilakukan di sepuluh negara menunjukkan integrasi AI dalam kehidupan generasi muda menjadi tren yang signifikan, bahkan mengubah cara mereka belajar, bermain, dan berinteraksi dengan dunia. Menurut laporan ini, New Policy yang diusung oleh Unicef bertujuan untuk memberikan wawasan mendalam tentang dampak teknologi AI terhadap perkembangan anak, agar pemerintah dan pemangku kepentingan dapat merancang strategi pengelolaan yang lebih baik.

New Policy: AI Menjadi Bagian Penting dalam Kehidupan Anak

Dalam laporan New Policy, Unicef menjelaskan bahwa teknologi AI telah menjadi elemen kunci dalam rutinitas anak-anak, baik untuk pendidikan maupun hiburan. Survei ini mencakup wilayah Asia Tenggara, Afrika, dan Eropa, menunjukkan bahwa sekitar 20 juta anak secara aktif memanfaatkan AI dalam kegiatan sehari-hari. Data tersebut menegaskan bahwa anak-anak lebih cepat mengadopsi alat digital ini dibandingkan generasi sebelumnya, terutama karena keberadaan aplikasi edukasi berbasis AI yang menarik dan mudah diakses.

“AI bukan lagi sekadar alat teknologi, tetapi telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari anak-anak. Kecenderungan ini memperkuat kebutuhan untuk mengintegrasikan New Policy dalam pengelolaan teknologi, agar anak tidak hanya menjadi pengguna tetapi juga pelaku yang terpandu dengan pedoman yang jelas,” ujar representan Unicef dalam konferensi internasional.

New Policy: Perbedaan Pola Penggunaan AI Antara Generasi

Survei Unicef juga menyoroti perbedaan signifikan antara anak-anak dan orang dewasa dalam penggunaan AI. Sementara orang dewasa lebih fokus pada aplikasi AI dalam pekerjaan atau kehidupan profesional, anak-anak lebih mengandalkan AI untuk belajar, bermain, dan mengakses informasi secara instan. Menurut data, 10 persen dari 20 juta responden anak menggunakan AI untuk menyelesaikan masalah rutin, sedangkan sekitar 13 juta orang lain menggunakannya untuk percepatan proses belajar, termasuk mengerjakan tugas sekolah atau latihan soal.

Hal ini mengisyaratkan bahwa anak-anak lebih terbiasa dengan interaksi cepat dan responsif dari AI, sehingga kebiasaan ini perlu dikelola secara proporsional. New Policy dari Unicef juga menyoroti pentingnya memahami bagaimana penggunaan AI oleh anak-anak bisa memengaruhi kognisi, emosi, dan kebiasaan belajar mereka di masa depan.

New Policy: Risiko yang Perlu Diperhatikan

Seiring dengan meningkatnya penggunaan AI, Unicef mengingatkan bahwa ada risiko yang perlu diantisipasi. Anak-anak, yang lebih sering berinteraksi dengan sistem AI, cenderung kurang mampu memahami mekanisme kerja atau dampak jangka panjang dari teknologi ini. New Policy bertujuan untuk mengurangi risiko seperti eksploitasi data pribadi, ketidakseimbangan informasi, dan penggunaan AI dalam konten yang memengaruhi perilaku anak.

Lebih dari itu, survei ini menunjukkan bahwa anak-anak terpapar lebih dini pada desain model bisnis dan algoritma yang digunakan oleh AI. Dengan New Policy, Unicef mengusulkan adanya standar keamanan digital khusus untuk anak-anak, serta kebijakan penggunaan AI yang lebih transparan, agar mereka tidak hanya menjadi korban tetapi juga bisa mengambil peran aktif dalam memanfaatkan teknologi ini.

New Policy: Langkah Penguatan Kebijakan

Untuk menghadapi kecepatan adopsi AI oleh anak-anak, New Policy mengusulkan tiga langkah utama: (1) peningkatan kesadaran masyarakat tentang potensi dan risiko AI, (2) penguatan regulasi digital yang melindungi hak anak, dan (3) penerapan sistem AI yang ramah anak. Dalam implementasi, Unicef bekerja sama dengan pemerintah dan organisasi teknologi untuk memastikan bahwa AI tidak hanya menjadi alat pendidikan, tetapi juga bantuan dalam pembelajaran yang bermakna.

Salah satu fokus New Policy adalah memastikan anak-anak mendapat akses setara ke teknologi AI, sekaligus dilengkapi kemampuan mengkritik dan mengevaluasi dampaknya. Dengan menggabungkan kebijakan teknologi dan pendidikan, Unicef berharap mampu menciptakan lingkungan digital yang lebih aman dan bermanfaat bagi generasi muda.

New Policy: Dampak Jangka Panjang

Dalam menyusun New Policy, Unicef memperhatikan dampak jangka panjang penggunaan AI oleh anak-anak. Teknologi ini tidak hanya berdampak pada aspek akademik, tetapi juga mengubah pola komunikasi, interaksi sosial, dan cara berpikir generasi muda. Survei menunjukkan bahwa anak-anak yang lebih dini mengakses AI cenderung memiliki kebiasaan belajar yang lebih independen, namun juga lebih rentan terhadap kecanduan atau keputusan yang tidak rasional.

Untuk menjaga keseimbangan, New Policy menekankan pentingnya pendidikan digital yang seimbang, termasuk pelatihan anak-anak dalam mengelola waktu dan konten digital. Dengan pendekatan ini, Unicef berharap mampu memastikan bahwa AI tidak hanya menjadi alat bantu, tetapi juga penggerak utama dalam pengembangan potensi anak-anak secara holistik.

“New Policy ini adalah langkah penting dalam mengubah cara kita melihat AI. Dengan memahami bahwa anak-anak lebih cepat mengadopsi teknologi, kita perlu memastikan bahwa peran mereka dalam penggunaan AI tidak diabaikan, tetapi justru diperkuat melalui kebijakan yang tepat,” tambah perwakilan Unicef.

Join the discussion