Skip to content
After Dark
Juni 20, 2026
Nusantara

Key Strategy: Waspada! 4 Wilayah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pascagempa M 6,7

Richard Wilson 4 mins read

Key Strategy: Waspada 4 Wilayah Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pasca Gempa M6,7 Key Strategy - Dari Jakarta, Beritasatu.com - Badan Geologi Kementerian Energi

Key Strategy: Waspada! 4 Wilayah di Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pascagempa M 6,7

Key Strategy: Waspada 4 Wilayah Sulteng Berpotensi Likuefaksi Pasca Gempa M6,7

Key Strategy – Dari Jakarta, Beritasatu.com – Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) baru saja mengeluarkan peta risiko yang menjadi Key Strategy dalam menghadapi ancaman likuefaksi di Sulawesi Tengah (Sulteng) setelah gempa bermagnitudo 6,7 terjadi pada Selasa, 16 Juni 2026. Kepala Badan Geologi Lana Saria menyampaikan bahwa daerah-daerah yang berpotensi mengalami likuefaksi perlu dipantau lebih ketat sebagai bagian dari Key Strategy mitigasi bencana. Peta ini memetakan empat kabupaten dan kota yang memiliki risiko tinggi, termasuk Kabupaten Sigi, Kota Palu, Kabupaten Parigi Moutong, dan sebagian Kabupaten Poso.

Wilayah Rentan Likuefaksi

Menurut Lana Saria, likuefaksi terjadi akibat guncangan kuat yang memicu pencairan tanah berpasir jenuh air. Fenomena ini bisa menyebabkan kerusakan infrastruktur seperti jembatan, gedung, dan permukiman. Peta risiko yang dirilis sebagai Key Strategy ini bertujuan untuk membantu pemerintah daerah dalam merencanakan langkah-langkah pencegahan. Wilayah yang berpotensi mengalami likuefaksi terutama berada di daerah dengan kemiringan lereng curam dan lapisan tanah yang rentan terhadap tekanan air.

“Peta ini bukan hanya untuk memperkirakan risiko, tapi juga sebagai alat Key Strategy dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan bahaya likuefaksi,” jelas Lana dalam konferensi pers Jumat, 19 Juni 2026, sebagaimana dilaporkan Antara.

Faktor Penyebab Likuefaksi

Lana menjelaskan bahwa likuefaksi dipengaruhi oleh beberapa faktor, termasuk jenis tanah, kedalaman lapisan pasir, dan intensitas gempa. Selain itu, keberadaan sesar aktif di sekitar wilayah tersebut juga menjadi penentu utama. “Tanah berpasir jenuh air memiliki sifat lembut dan mudah berubah tekstur saat terjadi guncangan, sehingga menjadi Key Strategy dalam evaluasi kelayakan bangunan,” kata dia. Dalam Key Strategy ini, Badan Geologi menekankan perlunya kolaborasi antara pemerintah dan masyarakat untuk meminimalkan dampak bencana.

Peta risiko juga memperlihatkan bahwa daerah-daerah dengan tanah lunak dan ketinggian air pori tinggi rentan terhadap likuefaksi. Lana menambahkan bahwa kondisi geologi di Sulteng memerlukan Key Strategy yang lebih intensif untuk mencegah kerusakan parah. Pemerintah daerah diimbau memperkuat sistem peringatan dini dan menjadikan peta risiko sebagai dasar dalam pengembangan infrastruktur.

Kerawanan Wilayah Tertentu

Dari data Badan Geologi, wilayah dengan kerawanan tinggi terhadap likuefaksi meliputi area seperti Dolo, Gumbasa, Marawola, dan Tanambulava di Kabupaten Sigi. Kota Palu juga masuk ke dalam zona rentan, dengan sejumlah kecamatan di Palu Barat, Palu Selatan, dan Palu Utara menjadi fokus perhatian. Wilayah-wilayah ini perlu diperkuat dengan bangunan berstruktur khusus dan sistem drainase yang efektif sebagai bagian dari Key Strategy mitigasi.

“Masyarakat di wilayah ini harus memahami bahwa likuefaksi bisa terjadi dalam hitungan menit setelah gempa,” imbuh Lana. “Dengan Key Strategy yang tepat, kita bisa mengurangi risiko dan mempercepat respons darurat.”

Badan Geologi juga menyebutkan bahwa daerah dengan risiko menengah hingga tinggi memerlukan survei lebih lanjut untuk mengevaluasi kebutuhan pemantauan dan perbaikan. Dalam Key Strategy yang diusulkan, pemerintah daerah dan lembaga terkait diminta untuk berkoordinasi dalam menyusun rencana tindakan darurat dan pembangunan kembali. Selain itu, pendidikan masyarakat tentang cara mengatasi likuefaksi menjadi faktor kunci dalam upaya penanggulangan bencana.

Kesiapan Masyarakat dan Pemerintah

Sebagai bagian dari Key Strategy nasional, masyarakat Sulteng kini lebih siap menghadapi risiko likuefaksi. Para ahli geologi dan pemangku kepentingan telah melakukan sosialisasi ke berbagai desa dan kelurahan, terutama di wilayah yang teridentifikasi rentan. Peta risiko ini juga diharapkan menjadi acuan untuk memperbaiki penataan ruang dan membangun infrastruktur yang tahan bencana.

“Kesiapan masyarakat adalah inti dari Key Strategy ini,” tegas Lana. “Dengan memahami potensi likuefaksi, mereka bisa mengambil langkah pencegahan sejak dini.”

Dalam beberapa bulan terakhir, Badan Geologi terus memperbarui data risiko berdasarkan hasil survei dan pengamatan di lapangan. Peta terbaru ini dirilis sebagai bagian dari Key Strategy mitigasi yang terintegrasi, dengan tujuan mengurangi dampak kerusakan akibat gempa dan likuefaksi. Selain itu, peta ini juga menjadi dasar bagi penelitian lebih lanjut mengenai ketergantungan geologi pada bangunan dan sistem transportasi di Sulteng.

Peran Peta Risiko dalam Pengelolaan Bencana

Peta risiko yang menjadi Key Strategy Badan Geologi ini tidak hanya memetakan wilayah berpotensi likuefaksi, tetapi juga memberikan gambaran mengenai intensitas kerawanan di setiap daerah. Dengan data ini, pemerintah daerah bisa mengambil kebijakan yang lebih tepat sasaran dalam upaya pencegahan dan penanggulangan bencana. Peta ini juga bisa digunakan sebagai alat komunikasi untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan potensi bencana yang mengancam.

“Kita harus memanfaatkan Key Strategy ini untuk membangun kebijakan yang berkelanjutan,” ujar Lana. “Peta risiko ini adalah bukti bahwa kita bisa mengelola risiko bencana secara lebih proaktif.”

Badan Geologi menekankan bahwa peta risiko adalah alat Key Strategy penting dalam meminimalkan kerugian akibat gempa. Dengan adanya data yang akurat, pemerintah daerah bisa menentukan daerah-daerah yang perlu diberikan prioritas dalam pembangunan kembali. Selain itu, peta ini juga bisa digunakan untuk menguji efektivitas kebijakan mitigasi bencana yang sudah dijalankan sebelumnya.

Join the discussion