Meeting Results: Demo Tolak LGBT di Palu, Massa Desak Bentuk Satgas Perilaku Seksual
Demo Penolakan LGBT di Palu, Peserta Aksi Meminta Pembuatan Perda dan Bentuk Satgas Perilaku Seksual Meeting Results - Sejumlah warga muda Kota Palu menggelar
Demo Penolakan LGBT di Palu, Peserta Aksi Meminta Pembuatan Perda dan Bentuk Satgas Perilaku Seksual
Meeting Results – Sejumlah warga muda Kota Palu menggelar aksi demonstrasi di depan gedung DPRD Sulawesi Tengah, Jumat (26/6/2026), sebagai bagian dari seruan nasional penolakan praktik keberagaman seksual. Aksi ini merupakan hasil meeting results yang diadakan sebelumnya, di mana peserta menekankan pentingnya regulasi daerah untuk menangani isu LGBT. Demonstran mengecam pergeseran nilai sosial dan budaya yang, menurut mereka, semakin terpengaruh oleh komunitas lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT). Mereka juga menekankan kebutuhan pembentukan Satuan Tugas (Satgas) Perilaku Seksual guna mencegah penyebaran konsep identitas seksual yang dianggap bertentangan dengan norma agama.
Tuntutan Massa dalam Meeting Results
Dalam meeting results yang menjadi dasar aksi, massa menyampaikan tujuh poin utama. Pertama, membatasi ruang bagi kelompok LGBT di lingkungan publik dan pendidikan. Kedua, memperketat pencegahan kekerasan seksual melalui penguatan aturan hukum. Ketiga, memperkuat pendidikan karakter sejak usia dini dengan pendekatan nilai-nilai sosial dan agama. Keempat, melarang promosi LGBT di media massa dan platform digital. Kelima, membentuk Satgas Perilaku Seksual yang akan mengawasi keberadaan kelompok tersebut. Keenam, melakukan pendeteksian dini terhadap individu dengan orientasi seksual di luar norma. Ketujuh, mengacu pada nilai-nilai keagamaan dalam penyusunan perda.
Kami telah merencanakan pembuatan perda mengenai isu LGBT. Dengan dukungan dari para peserta aksi, kita bersama-sama dapat memerangi praktik ini. Saat ini, Sulawesi Tengah, terutama Kota Palu, mengalami peningkatan kasus HIV/AIDS,” ujar Muamar Khadafi, koordinator aksi, dalam meeting results.
Dalam meeting results, peserta aksi juga menyebutkan bahwa penyebaran ideologi keberagaman seksual dianggap sebagai ancaman terhadap tradisi dan nilai masyarakat. Mereka menekankan perlunya partisipasi aktif dari tokoh agama dan masyarakat setempat dalam mengawasi pelaksanaan perda. Selain itu, massa menuntut adanya pengawasan terhadap media yang dianggap mendorong penyebaran LGBT, terutama melalui iklan dan konten edukasi.
Respons dari DPRD dan Pemprov
Arnila, Wakil Ketua I DPRD Sulawesi Tengah, menjelaskan bahwa pihaknya sedang merancang perda terkait perilaku seksual yang dianggap menyimpang. “Meeting results yang kami peroleh dari massa menjadi dasar untuk menyusun regulasi ini. Kami akan melibatkan berbagai pihak, termasuk masyarakat, lembaga legislatif, dan pemerintah daerah, dalam rapat dengar pendapat (RDP) untuk mendiskusikan rancangan perda,” katanya. DPRD juga menegaskan bahwa Satgas Perilaku Seksual akan dibentuk sebagai bagian dari upaya preventif dan edukatif.
Kami bangga dengan adik-adik semua, karena kehadiran mereka memperkuat kami sehingga kami bisa membuat Perda terkait penyimpangan ini. Tentunya kita tidak hanya membuat Perda, tetapi juga mengatur sanksinya,” ujar Arnila, dalam meeting results terkini.
Aksi demonstrasi di Palu diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komitmen masyarakat dalam menegakkan nilai-nilai sosial yang dianggap relevan. Selain itu, meeting results ini juga menjadi referensi bagi daerah lain di Indonesia yang ingin mengambil langkah serupa. Pemprov Sulawesi Tengah menargetkan pembahasan perda akan segera dimulai dalam beberapa minggu mendatang, dengan pembagian tugas antara lembaga legislatif dan eksekutif.
Meeting results ini mencerminkan kekhawatiran masyarakat terhadap pengaruh global terhadap budaya lokal. Kelompok yang berdemo menyatakan bahwa peningkatan angka HIV/AIDS di Kota Palu dikaitkan dengan keberadaan komunitas LGBT. Mereka berharap perda dapat menjadi alat untuk mengurangi risiko penyakit menular seksual dan mengarahkan generasi muda ke arah yang lebih sehat secara sosial dan seksual. Aksi ini juga menjadi ajang bagi masyarakat untuk mengekspresikan pendapat mereka melalui jalur demo yang dianggap efektif.
