Skip to content
After Dark
Agustus 3, 2026
Ekonomi

Meeting Results: Tekanan Belum Selesai, Rupiah Kembali Tembus Rp 17.800 Per Dolar AS

Sarah Smith - tajuknusa.com 3 mins read

Tekanan Belum Selesai, Rupiah Tembus Rp17.800 Per Dolar AS Meeting Results – Jakarta, Beritasatu.com – Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS

Meeting Results: Tekanan Belum Selesai, Rupiah Kembali Tembus Rp 17.800 Per Dolar AS

Tekanan Belum Selesai, Rupiah Tembus Rp17.800 Per Dolar AS

Meeting Results – Jakarta, Beritasatu.com – Rupiah kembali mengalami tekanan terhadap dolar AS dalam sesi perdagangan Jumat (19/6/2026), dengan nilai tukar mencapai level psikologis Rp 17.800 per dolar AS. Penguatan dolar AS yang terus berlanjut di pasar global menjadi faktor utama yang memengaruhi tren ini, terutama setelah meeting results yang diumumkan oleh Federal Reserve (The Fed) menimbulkan optimisme pasar terhadap kenaikan suku bunga.

Analisis Pasar Terhadap Penguatan Dolar AS

Berdasarkan data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 47 poin atau 0,26% ke Rp 17.841 per dolar AS pada pagi hari Jumat. Penurunan ini mengikuti tren negatif yang terjadi pada hari sebelumnya, Kamis (18/6/2026), ketika rupiah ditutup pada Rp 17.794 per dolar AS. Dalam meeting results terakhir, The Fed mempertahankan suku bunga di rentang 3,50%-3,75%, namun pasar masih mengharapkan kemungkinan penyesuaian yang lebih agresif.

Penyesuaian kebijakan hawkish The Fed mengancam akan memicu terobosan bullish untuk dolar AS. Kevin Warsh, anggota The Fed, memulai masa kepemimpinannya dengan agenda peninjauan kebijakan yang lebih ketat. Analis mata uang senior MUFG, Lee Hardman, menilai bahwa meeting results menciptakan penyesuaian ekspektasi suku bunga jangka pendek AS yang tajam, sehingga memberikan tekanan terhadap rupiah.

Indeks dolar AS naik 0,45% menjadi 100,80 pada Kamis (18/6/2026), mencapai level tertinggi sejak Mei 2025. Kenaikan ini berlanjut setelah indeks dolar melonjak 0,85% pada sesi sebelumnya, yang menjadi penguatan harian terbesar dalam lebih dari tiga bulan. Penguatan dolar AS tidak hanya memengaruhi rupiah, tetapi juga menyebabkan beberapa mata uang utama dunia seperti yen Jepang dan euro mengalami tekanan signifikan.

Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan terhadap penguatan dolar AS, terutama dalam konteks meeting results yang memperkuat sikap konservatif The Fed. Kebijakan moneter AS yang ketat memberikan dampak besar terhadap aliran modal ke pasar Asia, termasuk Indonesia. Dalam konteks ini, rupiah mengalami tekanan karena ekspektasi kenaikan suku bunga di masa depan yang dinilai masih terbuka.

“Meeting results yang diumumkan hari Rabu (16/6/2026) menunjukkan sinyal kebijakan yang lebih hawkish, sehingga mendukung penguatan dolar AS,” kata Lee Hardman. Menurutnya, penyesuaian ekspektasi suku bunga jangka pendek AS menciptakan momentum bullish yang berdampak pada keberlanjutan tren melemah rupiah.

“Dolar AS telah memperoleh dukungan dari penyesuaian tajam yang lebih tinggi untuk suku bunga jangka pendek AS, lebih dari mengimbangi dampak yang meredam dari pengumuman kesepakatan AS-Iran pada akhir pekan,” tambahnya.

“Ada ruang bagi dolar AS untuk menguat lebih lanjut,” ujar Sarah Ying, Kepala Strategi Valuta Asing CIBC Capital Markets. Pandangan serupa disampaikannya, menilai bahwa kebijakan moneter AS yang konsisten memberikan peluang untuk penguatan dolar.

Menurut data pasar, tekanan terhadap rupiah juga didorong oleh dinamika ekonomi global. Penguatan dolar AS mencerminkan kepercayaan investor terhadap kebijakan moneter AS, yang dianggap lebih stabil dibandingkan negara-negara lain. Sementara itu, ekonomi Indonesia yang masih menghadapi tekanan inflasi dan pertumbuhan yang lambat membuat rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling rentan.

Join the discussion