TajukNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Penataan Prodi di Era AI Harus Tekankan Kelayakan Akademik

Published Oktober 10, 2026 · Updated Oktober 10, 2026 · By Joseph Wilson - tajuknusa.com

Foto : Joseph Wilson - tajuknusa.com

Penataan Program Studi Perlu Menjawab Perubahan Teknologi

Tajuknusa.com – Perkembangan kecerdasan buatan dan keamanan siber mendorong perguruan tinggi untuk meninjau kembali arah pengembangan program studi. Tantangannya bukan hanya memenuhi kebutuhan tenaga kerja baru, melainkan memastikan setiap program memiliki mutu akademik, sumber daya, serta kesiapan institusi yang memadai.

Ketua Pengurus Yayasan Edukasi Siber Indonesia (YESI), Julia Rezeki, menilai penataan program studi perlu dilakukan secara seimbang. Kampus perlu memiliki ruang untuk menutup atau mengevaluasi bidang yang tidak lagi relevan, menggabungkan program yang memiliki kedekatan keilmuan, sekaligus membuka disiplin baru apabila kelayakannya dapat dibuktikan.

“Penataan program studi idealnya tidak dipahami sebagai pilihan antara memperbanyak atau mengurangi jumlah program studi semata.”

Pernyataan itu disampaikan Julia pada Jumat, 9 Oktober 2026. Ia menekankan bahwa tata kelola pendidikan tinggi tidak semestinya berhenti pada hitungan jumlah prodi. Penilaian perlu mencakup kualitas kurikulum, kesiapan dosen, dukungan fasilitas, serta kemampuan program studi memberi sumbangan nyata bagi kemajuan pengetahuan dan teknologi.

Relevansi Kerja Bukan Satu-satunya Ukuran

Kebutuhan industri terhadap lulusan yang memahami AI, data, dan keamanan digital memang terus meningkat. Namun, orientasi terhadap pasar kerja tidak cukup untuk menjadi dasar tunggal dalam pembentukan sebuah program studi. Pendidikan tinggi juga memikul tugas membangun daya pikir kritis, kreativitas, etika, karakter, dan kemampuan belajar sepanjang hayat.

Dalam konteks perubahan teknologi yang cepat, lulusan tidak hanya perlu siap memasuki jenis pekerjaan yang tersedia saat ini. Mereka juga perlu memiliki fondasi yang memungkinkan mereka beradaptasi saat perangkat, metode kerja, dan kebutuhan profesional berubah. Karena itu, pembukaan prodi baru harus dipandang sebagai keputusan akademik jangka panjang, bukan sekadar respons terhadap istilah yang sedang populer.

“Persyaratan tersebut harus menjadi instrumen untuk memastikan program studi yang dibuka benar-benar memiliki kemampuan menghasilkan pendidikan bermutu,” tegas Julia.

Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi menjadi salah satu dasar penyelenggaraan pendidikan tinggi di Indonesia. Cakupannya meliputi pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pendidikan vokasi, serta pembukaan dan pengelolaan program studi. Kerangka tersebut menempatkan kampus bukan hanya sebagai penyedia tenaga kerja, tetapi juga sebagai ruang pengembangan keilmuan.

Mutu Harus Didukung Kesiapan Nyata

Julia menyoroti pentingnya sistem penjaminan mutu dan kepatuhan terhadap aturan dalam pengembangan pendidikan berbasis teknologi. Regulasi yang relevan mencakup Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi. Selain itu, terdapat Peraturan Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, yang disebut telah mengalami perubahan melalui Peraturan Menteri Nomor 10 Tahun 2026.

Penerapan standar mutu tidak dapat sekadar ditunjukkan melalui nama program studi atau dokumen administratif. Kampus perlu menyiapkan kurikulum yang jelas, tenaga pengajar berkompeten, laboratorium, perangkat komputasi, metode pembelajaran praktik, serta cara yang terukur untuk menilai hasil belajar mahasiswa.

Hal tersebut sangat penting bagi program studi yang berhubungan dengan AI. Bidang ini membutuhkan lebih dari sekadar pelatihan penggunaan aplikasi. Mahasiswa perlu memperoleh pemahaman dasar matematika, algoritma, pemrograman, pengolahan data, pembelajaran mesin, keamanan sistem, dan etika teknologi.

“Program studi harus mampu membangun penguasaan keilmuan yang mendasari teknologi tersebut.”

Dengan fondasi seperti itu, lulusan diharapkan tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Mereka dapat memiliki kapasitas untuk merancang, memelihara, menguji, dan meningkatkan keandalan sistem. Kemampuan tersebut juga penting agar penggunaan teknologi dilakukan secara bertanggung jawab, terutama ketika AI semakin hadir dalam kegiatan pendidikan, bisnis, layanan publik, dan kehidupan sehari-hari.

AI Tidak Cukup Menjadi Label Baru

Pengembangan prodi AI dan bidang digital lain perlu ditempatkan dalam kebutuhan pendidikan nasional yang lebih luas. Dukungan infrastruktur dan penguasaan dasar keilmuan akan menentukan apakah lulusan mampu memahami cara kerja suatu sistem, mengenali risiko, serta melakukan pengujian secara tepat.

Penataan program studi pada akhirnya merupakan upaya menjaga keseimbangan antara relevansi dan kualitas. Kampus perlu berani melakukan evaluasi terhadap prodi yang tidak lagi efektif, tetapi juga tidak boleh menghambat lahirnya bidang baru yang memiliki dasar akademik dan kesiapan yang kuat.

“Indonesia membutuhkan program studi yang tepat, bermutu, relevan, dan mampu menghasilkan manusia yang siap menghadapi perkembangan teknologi,” pungkas Julia.

AI dapat menjadi kesempatan untuk memperkuat kualitas pendidikan dan kemandirian bangsa. Namun, peluang itu hanya akan memberi hasil apabila pengembangannya didukung tata kelola yang baik, mutu pembelajaran yang terjaga, serta komitmen kampus untuk membangun kompetensi yang mendalam. Kecerdasan buatan perlu diperlakukan sebagai bidang keilmuan yang menuntut kesiapan serius, bukan hanya sebagai tambahan nomenklatur dalam pendidikan tinggi.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Penataan Prodi di Era AI Harus?

Penataan Prodi di Era AI Harus is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Penataan Prodi di Era AI Harus matter?

Penataan Prodi di Era AI Harus matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.