Sarwendah Tegaskan Video Ruben Onsu Bukan Rekayasa AI
Sarwendah Tegaskan Video Ruben Onsu Bukan Rekayasa AI
Tajuknusa.com – Sarwendah Tegaskan Video Ruben Onsu yang beredar di media sosial bukan merupakan rekayasa kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI). Klarifikasi itu disampaikan setelah sejumlah warganet mempertanyakan keaslian video yang menampilkan Ruben Onsu bersama seorang pria.
Menurut Sarwendah, video tersebut memang mengalami proses penyuntingan. Namun, penyuntingan yang dilakukan hanya untuk memangkas durasi rekaman asli yang mencapai 27 menit agar lebih ringkas saat dibagikan kepada publik. Ia menegaskan tidak ada perubahan pada isi maupun kronologi kejadian dalam video tersebut.
Cuplikan yang diunggah Sarwendah dimaksudkan sebagai pelengkap atas penjelasannya mengenai rekaman CCTV yang sebelumnya dibagikan Ruben Onsu. Dengan adanya video itu, ia berharap masyarakat dapat memahami konteks peristiwa secara lebih utuh dan tidak hanya menilai dari potongan informasi yang tersebar di media sosial.
“Karena banyak yang meragukan video klarifikasi yang saya unggah, di mana saya menjelaskan dan meluruskan konteks kejadian dalam CCTV yang diunggah RO, supaya publik bisa memahami apa yang sebenarnya terjadi secara utuh,” jelas Sarwendah.
Video Dipotong untuk Mempersingkat Durasi
Dalam penjelasannya, Sarwendah tidak menutupi bahwa video tersebut telah disunting. Ia justru menjelaskan bahwa rekaman asli berdurasi cukup panjang, yakni 27 menit, sedangkan materi yang dibagikan hanya beberapa menit. Pemotongan dilakukan agar isi penjelasan lebih mudah diikuti oleh pengguna media sosial.
Sarwendah Tegaskan Video Ruben Onsu tersebut bukan video yang dibuat ulang, melainkan bagian dari rekaman yang sudah ada. Ia membedakan penyuntingan teknis dengan manipulasi isi. Baginya, mempersingkat durasi tayangan tidak sama dengan mengubah fakta atau menciptakan kejadian baru.
“Memang benar video itu disunting karena rekaman aslinya berdurasi 27 menit. Sementara yang saya tampilkan hanya beberapa menit sebagai pelengkap penjelasan saya sebelumnya,” tuturnya.
Penjelasan itu disampaikan di tengah meningkatnya perhatian publik terhadap konten digital yang diduga menggunakan AI. Teknologi kecerdasan buatan memang dapat membuat foto, suara, dan video tampak semakin meyakinkan. Karena itu, keraguan terhadap materi visual yang beredar di internet kerap muncul, terutama ketika melibatkan figur publik dan isu yang ramai diperbincangkan.
Meski demikian, keberadaan proses editing tidak serta-merta membuktikan sebuah video sebagai rekayasa AI. Penyuntingan dapat dilakukan untuk berbagai kebutuhan, termasuk memotong bagian yang terlalu panjang, menyesuaikan format unggahan, atau menyusun penjelasan agar lebih mudah dipahami. Yang menjadi perhatian dalam kasus ini adalah apakah substansi rekaman berubah, dan Sarwendah menegaskan hal tersebut tidak terjadi.
“Yang dipotong adalah durasinya, bukan rekayasa isi kejadiannya,” katanya.
Persilakan Video Diuji melalui Forensik Digital
Sarwendah Tegaskan Video Ruben Onsu juga dengan membuka kemungkinan pemeriksaan secara profesional bagi pihak yang masih meragukan keasliannya. Ia mempersilakan siapa pun yang menganggap video itu palsu, dibuat dengan AI, atau dimanipulasi untuk membuat laporan kepada kepolisian.
Menurutnya, langkah tersebut dapat membuka jalan bagi pemeriksaan forensik digital. Pengujian semacam itu dapat menelusuri aspek teknis dari sebuah file video, termasuk jejak penyuntingan dan indikasi perubahan yang relevan untuk menilai keaslian rekaman. Dengan pemeriksaan berbasis data, penilaian tidak hanya bertumpu pada dugaan atau kesan dari potongan video yang beredar.
“Kalau ada yang meyakini video tersebut palsu, dibuat menggunakan AI, atau dimanipulasi untuk memfitnah. Silakan laporkan ke polisi agar keasliannya dapat diperiksa melalui forensik digital,” tutup Sarwendah.
Respons tersebut menunjukkan bahwa perdebatan mengenai video di media sosial kini semakin berkaitan dengan pentingnya verifikasi. Konten dapat menyebar dalam waktu singkat, sementara konteks lengkapnya belum tentu ikut tersebar. Akibatnya, satu cuplikan dapat memunculkan beragam tafsir sebelum publik memperoleh penjelasan yang menyeluruh.
Dalam klarifikasinya, Sarwendah menempatkan video itu sebagai bahan pendukung atas penjelasan sebelumnya. Ia berharap publik dapat membedakan antara video yang dipersingkat untuk kebutuhan penyampaian informasi dengan konten yang sengaja direkayasa untuk mengubah suatu peristiwa.
FAQ Seputar Klarifikasi Video Ruben Onsu
Apakah video yang diunggah Sarwendah dibuat menggunakan AI?
Tidak. Sarwendah menyatakan video tersebut bukan hasil rekayasa AI. Ia mengakui adanya penyuntingan, tetapi menegaskan bahwa yang dipotong hanya durasi rekaman, bukan isi kejadian.
Berapa durasi video asli yang disebut Sarwendah?
Menurut penjelasannya, rekaman asli memiliki durasi 27 menit. Video yang dibagikan kepada publik merupakan cuplikan yang lebih singkat.
Mengapa video itu disunting?
Penyuntingan dilakukan untuk mempersingkat tayangan agar penjelasan lebih ringkas dan mudah diikuti di media sosial. Video tersebut juga disebut sebagai pelengkap konteks atas rekaman CCTV yang sebelumnya dibagikan Ruben Onsu.
Bagaimana jika publik masih meragukan keaslian video?
Sarwendah mempersilakan pihak yang meragukan video tersebut untuk menempuh jalur hukum agar rekaman dapat diperiksa melalui forensik digital. Pemeriksaan tersebut dapat membantu menilai unsur teknis video berdasarkan data, bukan sekadar dugaan yang beredar di linimasa.