Kemenpar Bidik Gen Z lewat Wisata Berbasis Pengalaman
Wisata Berbasis Pengalaman Jadi Strategi Baru Menarik Generasi Z
Tajuknusa.com – Kementerian Pariwisata mendorong pengembangan pemasaran wisata yang menempatkan pengalaman sebagai pusat perjalanan. Strategi ini dirancang agar kunjungan ke Indonesia tidak berhenti pada aktivitas melihat destinasi, melainkan memberi kesan yang personal, autentik, dan bernilai bagi wisatawan sekaligus masyarakat di daerah tujuan.
Langkah tersebut juga menjadi cara untuk memperluas dampak ekonomi pariwisata. Ketika wisatawan tinggal lebih lama, mencoba aktivitas yang beragam, menikmati kuliner lokal, memilih akomodasi, serta membeli produk daerah, manfaat perjalanan dapat menjangkau lebih banyak pelaku usaha dan komunitas setempat.
Wakil Menteri Pariwisata Ni Luh Puspa menekankan bahwa kekuatan Indonesia bukan hanya terletak pada banyaknya pilihan destinasi. Budaya, karakter daerah, serta keramahan warga perlu diolah menjadi rangkaian pengalaman yang membuat perjalanan memiliki nilai lebih tinggi dan mampu bersaing di pasar wisata global.
“Bagaimana agar pengalaman tinggal dari wisatawan kita di Indonesia semakin berkualitas dan juga manfaat yang bisa dirasakan lebih luas oleh masyarakat Indonesia,” ujar Wakil Menteri Ni Luh kepada wartawan, Kamis (1/10/2025).
Ukuran Keberhasilan Tidak Hanya Jumlah Kunjungan
Dalam pendekatan ini, jumlah kedatangan wisatawan bukan lagi satu-satunya ukuran pertumbuhan sektor pariwisata. Wisatawan diharapkan terdorong untuk memperpanjang masa tinggal, mengunjungi lebih dari satu lokasi, dan memanfaatkan lebih banyak layanan selama berada di destinasi.
Pengalaman perjalanan dapat hadir dalam banyak bentuk. Seseorang dapat mengikuti kelas memasak makanan khas, menyaksikan pertunjukan seni, menyusuri kawasan bersejarah dengan berjalan kaki, mengenal proses pembuatan wastra, atau menikmati kegiatan bahari. Aktivitas seperti ini memberi kesempatan bagi wisatawan untuk memahami suatu daerah secara lebih dekat, bukan hanya mengambil foto di lokasi populer.
Konsep tersebut juga relevan bagi kegiatan MICE, yaitu pertemuan, insentif, konferensi, dan pameran. Peserta sebuah acara bisnis dapat melanjutkan agenda utama dengan mencicipi kuliner, mendatangi atraksi lokal, atau mengikuti kegiatan budaya di daerah penyelenggaraan. Dengan begitu, perjalanan kerja dapat menghasilkan pengalaman yang lebih lengkap dan memberi perputaran ekonomi tambahan di luar ruang acara.
Program Go Beyond Ordinary dan Lima Minat Khusus
Pemasaran wisata berbasis pengalaman menjadi bagian dari arah program Go Beyond Ordinary yang dijalankan Kementerian Pariwisata. Fokusnya tidak semata memperkenalkan nama tempat, tetapi memperlihatkan hal-hal yang dapat dilakukan wisatawan ketika tiba di sana.
Pemerintah turut menguatkan lima segmen wisata minat khusus melalui Program Pariwisata Berkualitas. Kelimanya mencakup gastronomi, bahari, wellness, wastra, serta art and design tourism. Setiap segmen menawarkan ruang bagi daerah untuk mengembangkan kekhasannya menjadi aktivitas yang dapat dinikmati pengunjung.
Gastronomi, misalnya, tidak hanya berkaitan dengan makan di restoran, tetapi dapat mencakup pengenalan bahan pangan lokal dan tradisi kuliner. Wisata bahari memberi peluang untuk menghubungkan aktivitas di pesisir dan laut dengan pengalaman destinasi. Sementara wellness dapat menawarkan perjalanan yang berorientasi pada kebugaran dan ketenangan, sedangkan wastra serta seni-desain membuka akses untuk mengenal karya, keterampilan, dan identitas budaya daerah.
Deputi Bidang Pemasaran Kementerian Pariwisata Ni Made Ayu Marthini menyampaikan bahwa kecenderungan mencari pengalaman cukup kuat pada wisatawan muda. Dalam kajian Indonesia Tourism and Mice Outlook 2027, sekitar 52% wisatawan Generasi Z melakukan perjalanan dengan tujuan memperoleh pengalaman.
Potensi yang telah tersedia di berbagai wilayah dapat dirangkai menjadi produk wisata yang lebih menarik bagi kelompok ini. Seni dan budaya dapat dipadukan dengan pengalaman wastra, kegiatan bahari, ataupun walking tour. Kombinasi semacam itu memungkinkan wisatawan menemukan alasan baru untuk menjelajahi sebuah daerah.
“Yang kita dorong adalah wisata yang non-konvensional, non-ordinary, supaya aktivitas pariwisata bisa tersebar lebih banyak,” ujarnya.
Teknologi MaiA Mendampingi Perjalanan Wisatawan
Penguatan strategi tersebut didukung pemanfaatan teknologi melalui MaiA, singkatan dari Meticulous Artificial Intelligence of Indonesia. Asisten perjalanan berbasis kecerdasan buatan ini tersedia di indonesia.travel dan menjadi bagian dari pengembangan Tourism 5.0.
MaiA dirancang untuk menemani wisatawan pada lima tahap perjalanan: dreaming, planning, booking, experiencing, dan sharing. Dukungan 19 bahasa asing diharapkan membantu calon pengunjung dari berbagai negara dalam mencari informasi dan merencanakan perjalanan di Indonesia.
Informasi yang disediakan tidak terbatas pada pilihan destinasi. Wisatawan dapat memperoleh gambaran mengenai aktivitas, makanan, penginapan, acara, hingga produk wisata yang sesuai dengan minat mereka. Pelaku industri juga dapat memasukkan pengalaman yang ditawarkan ke dalam platform agar lebih mudah ditemukan oleh calon pengunjung.
“Ketika wisatawan mencari experiential tourism di Indonesia, MaiA akan memberikan rekomendasi,” tambahnya.
Sistem rekomendasi ini dapat membantu wisatawan memperluas rencana perjalanan. Seseorang yang semula datang untuk menghadiri konferensi, misalnya, dapat menemukan pilihan aktivitas gastronomi, budaya, atau bahari di sekitar lokasi acara maupun di wilayah lain. Pola tersebut sejalan dengan tujuan pemerataan aktivitas wisata agar kunjungan tidak hanya terkonsentrasi pada beberapa titik.
Bagi wisatawan, pendekatan berbasis pengalaman menawarkan perjalanan yang lebih sesuai dengan minat pribadi. Bagi destinasi, strategi ini membuka peluang untuk mengangkat kekuatan lokal melalui kegiatan yang terhubung dengan budaya, produk, dan kehidupan masyarakat. Dengan pengemasan yang tepat, pengalaman menjadi jembatan antara perjalanan yang berkesan dan manfaat ekonomi yang lebih luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Kemenpar Bidik Gen Z lewat Wisata?Kemenpar Bidik Gen Z lewat Wisata is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Kemenpar Bidik Gen Z lewat Wisata matter?Kemenpar Bidik Gen Z lewat Wisata matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.