Xi Jinping Desak BRICS Turun Tangan Hentikan Perang di Timur Tengah
Xi Jinping Serukan Peran Aktif BRICS untuk Meredakan Konflik Timur Tengah
Tajuknusa.com – Presiden China Xi Jinping meminta negara-negara BRICS meningkatkan upaya bersama guna mendorong perdamaian di Timur Tengah dan kawasan Teluk. Seruan itu disampaikan saat Konferensi Tingkat Tinggi BRICS di New Delhi, Sabtu (12/9/2026), ketika konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih berlangsung.
Perang tersebut telah menimbulkan dampak luas di berbagai wilayah Timur Tengah. Kerusakan tidak hanya menyasar fasilitas militer, tetapi juga infrastruktur sipil. Situasi di Selat Hormuz turut menjadi perhatian dunia karena blokade di jalur strategis itu menghambat distribusi energi global.
Xi menilai kelanjutan perang tidak membawa manfaat bagi masyarakat kawasan maupun komunitas internasional. Ia menekankan perlunya langkah yang lebih kuat untuk mencegah konflik berkembang semakin jauh dan memperbesar penderitaan warga sipil.
“Situasi di Timur Tengah dan kawasan Teluk terus berkembang, perang di sana telah menyebabkan kerugian serius bagi masyarakat di seluruh kawasan dan tidak sesuai dengan kepentingan bersama komunitas internasional.”
Kerja Sama untuk Stabilitas Kawasan
China menyatakan kesiapan untuk berkoordinasi dengan anggota BRICS dalam upaya menciptakan kondisi yang lebih damai di Timur Tengah serta kawasan Teluk. Pesan itu menempatkan BRICS sebagai salah satu forum yang didorong untuk mengambil peran diplomatik lebih besar dalam menghadapi krisis lintas negara.
Stabilitas Timur Tengah memiliki arti penting jauh melampaui batas kawasan. Gangguan terhadap keamanan jalur laut dan pasokan energi dapat memengaruhi biaya transportasi, perdagangan internasional, serta harga berbagai kebutuhan di banyak negara. Ketidakpastian yang berkepanjangan juga berpotensi memperumit pemulihan ekonomi di tengah tekanan global.
Selat Hormuz menjadi salah satu titik yang paling disorot karena memiliki peran penting bagi lalu lintas energi dunia. Ketika akses di wilayah itu terganggu, dampaknya dapat menjalar ke rantai pasok internasional. Negara-negara pengimpor energi menghadapi risiko kenaikan biaya, sementara pasar global harus berhadapan dengan ketidakpastian pasokan.
Dalam konteks tersebut, ajakan Xi kepada BRICS bukan hanya berkaitan dengan penghentian pertempuran. Seruan itu juga mencerminkan kepentingan menjaga ruang dialog, keamanan perdagangan, dan ketenangan regional agar dampak konflik tidak terus meluas ke sektor ekonomi maupun kehidupan masyarakat.
BRICS dan Tata Kelola Global
Selain membahas Timur Tengah, Xi mendorong BRICS memperkuat keterlibatan dalam tata kelola global. Ia menggambarkan kelompok tersebut sebagai salah satu wadah kerja sama paling berpengaruh bagi negara-negara dengan pasar berkembang dan negara berkembang.
BRICS didorong untuk memperluas peran dalam sejumlah bidang yang semakin menentukan masa depan hubungan internasional. Area yang disebut mencakup dunia maya, luar angkasa, serta laut dalam. Ketiganya berkaitan dengan teknologi, keamanan, akses sumber daya, dan aturan internasional yang terus berkembang.
Perhatian terhadap ruang siber menjadi penting karena aktivitas ekonomi, komunikasi, dan layanan publik semakin bergantung pada sistem digital. Sementara itu, luar angkasa dan laut dalam merupakan wilayah strategis yang memerlukan kerja sama serta kesepakatan internasional agar tidak menjadi sumber persaingan baru yang sulit dikendalikan.
Xi juga meminta BRICS memperkuat suara negara-negara Global Selatan dalam pembentukan kebijakan internasional. Gagasan tersebut berkaitan dengan dorongan agar kepentingan negara berkembang lebih diperhitungkan dalam pembahasan isu ekonomi, keamanan, teknologi, dan pembangunan.
Pesan Diplomasi di Tengah Ketegangan
KTT BRICS di New Delhi berlangsung ketika perhatian dunia tertuju pada eskalasi perang Amerika Serikat dan Iran. Konflik itu memperlihatkan bagaimana ketegangan di satu kawasan dapat memunculkan konsekuensi global, terutama ketika jalur perdagangan dan energi ikut terdampak.
Upaya perdamaian membutuhkan ruang diplomasi yang konsisten, komunikasi antarpihak, dan kesediaan untuk menahan perluasan konflik. Bagi masyarakat internasional, penghentian perang menjadi kebutuhan mendesak untuk mengurangi kerusakan, melindungi warga sipil, dan membuka jalan bagi pemulihan kawasan.
Seruan dari Beijing menegaskan keinginan agar BRICS tidak hanya berfungsi sebagai forum kerja sama ekonomi. Kelompok itu juga didorong menjadi saluran bagi dialog dan stabilitas dalam menghadapi persoalan global yang semakin rumit.
Dengan konflik Timur Tengah yang terus memengaruhi keamanan regional serta pasokan energi dunia, peran negara-negara besar dalam membangun jalan damai akan tetap menjadi perhatian utama. Tantangannya adalah mengubah seruan politik menjadi langkah nyata yang mampu meredakan ketegangan dan mengembalikan rasa aman di kawasan Teluk.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Xi Jinping Desak BRICS Turun Tangan?Xi Jinping Desak BRICS Turun Tangan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Xi Jinping Desak BRICS Turun Tangan matter?Xi Jinping Desak BRICS Turun Tangan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.