TajukNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

PBB Diminta Ubah Bentuk Peta Dunia, Ini yang Berubah

Published September 8, 2026 · Updated September 8, 2026 · By Joseph Wilson - tajuknusa.com

Foto : Joseph Wilson - tajuknusa.com

Proyeksi Peta Dunia Dipertanyakan: Togo Dorong PBB Tinggalkan Mercator demi Representasi yang Adil

Tajuknusa.com – Sebuah inisiatif yang berpotensi mengubah cara miliaran orang memandang bentuk dan ukuran benua di muka bumi kini memasuki fase diplomasi tingkat tinggi. Dari ibu kota Lome, pemerintah Togo secara terbuka menyerukan agar Perserikatan Bangsa-Bangsa meninggalkan proyeksi Mercator yang telah mendominasi ruang kelas, atlas, dan aplikasi pemetaan selama lebih dari empat abad. Sebagai gantinya, mereka menggaungkan adopsi proyeksi Equal Earth, sebuah model kartografis yang dirancang untuk menampilkan luas setiap wilayah secara lebih proporsional terhadap realitas geografisnya.

Akar Masalah: Distorsi Visual yang Membentuk Persepsi

Proyeksi Mercator, yang dikembangkan pada awal abad ke-17 untuk keperluan navigasi pelayaran, memiliki karakteristik matematis yang membuat wilayah semakin menjauh dari garis khatulistiwa tampak membengkak secara visual. Akibatnya, Greenland dan Eropa Utara tergambar jauh lebih masif daripada ukuran sebenarnya, sementara Afrika serta negara-negara di sekitar ekuator terkontraksi hingga terlihat jauh lebih kecil. Distorsi ini bukan sekadar anomali teknis; selama berabad-abad ia telah meresap ke dalam kurikulum sekolah, buku teks, dan representasi visual sehari-hari, membentuk gambaran mental yang keliru tentang skala relatif antarwilayah.

Pemerintah Togo menilai bahwa warisan visual tersebut telah berkontribusi terhadap marginalisasi perseptual Afrika di panggung global. Dalam kerangka kampanye #CorrectTheMap yang mereka pelopori, distorsi Mercator bukan lagi persoalan akademis semata, melainkan isu yang menyentuh martabat dan posisi strategis sebuah benua dalam percakapan internasional.

Equal Earth: Solusi Kartografis yang Lahir dari Kolaborasi Internasional

Proyeksi Equal Earth pertama kali dipublikasikan pada tahun 2018 oleh tim kartografer lintas negara. Berbeda dengan Mercator yang mengorbankan akurasi luas demi mempertahankan bentuk sudut, Equal Earth mengutamakan proporsionalitas area. Dalam peta berbasis Equal Earth, perbandingan luas antar benua dan negara ditampilkan mendekati kondisi sebenarnya, sehingga Afrika tidak lagi tampak sebagai benua "kecil" yang terpinggirkan secara visual.

Transisi dari satu proyeksi ke yang lain bukan perubahan sepele. Ia menyentuh fondasi cara institusi pendidikan, media, dan platform teknologi menyajikan informasi geografis kepada publik. Perubahan tersebut berpotensi menggeser narasi yang selama ini menempatkan wilayah ekuatorial dalam posisi subordinat visual terhadap wilayah lintang tinggi.

Dimensi Politik: Lebih dari Sekadar Garis di Atas Kertas

Associate senior perusahaan penasihat risiko geopolitik JS Held yang berkantor di London, JJ Enoch, menegaskan bahwa proyeksi Mercator secara visual telah mengecilkan ukuran sebenarnya Afrika selama berabad-abad. Ia menilai kampanye #CorrectTheMap juga mencerminkan ambisi negara-negara Afrika untuk memperluas pengaruh di lembaga-lembaga internasional serta merebut kendali atas cara benua mereka direpresentasikan di panggung global.

"Penerapan peta dengan luas wilayah yang setara akan memberikan dasar yang lebih akurat bagi pendidikan dan pemahaman publik, sekaligus menegaskan pentingnya Afrika dari sisi demografi, ekonomi, dan geopolitik yang tidak lagi boleh dilihat melalui konvensi lama yang penuh distorsi."

Konteks politik kampanye ini semakin jelas jika dilihat dari dinamika resolusi PBB yang didukung Uni Afrika pada Maret 2026. Resolusi yang disponsori Ghana untuk menyebut perdagangan budak sebagai "kejahatan paling berat terhadap kemanusiaan" mendapat persetujuan 123 negara, dengan tiga negara menolak dan 52 negara memilih abstain. Keberhasilan pemungutan suara tersebut menjadi sinyal bahwa blok Afrika semakin mampu mengartikulasikan agenda kolektif di forum multilateral, dan inisiatif peta dunia menjadi bagian dari momentum yang sama.

Jalan ke Depan: Pertemuan Lome dan Implementasi Teknis

Pemerintah Togo telah merencanakan pertemuan tingkat tinggi di Lome pada kuartal pertama tahun 2027. Forum tersebut akan mempertemukan perwakilan Unesco, Uni Afrika, serta perusahaan teknologi pemetaan seperti Google Maps untuk membahas langkah konkret implementasi perubahan proyeksi peta dunia. Kehadiran perusahaan teknologi menjadi krusial karena sebagian besar interaksi publik dengan peta digital saat ini dimediasi oleh platform komersial yang masih mengandalkan proyeksi Mercator atau varian turunannya.

Menteri Luar Negeri Togo Robert Dussey menyatakan bahwa momentum untuk perubahan representasi geografis Afrika sudah berada di titik yang tidak dapat dihindari lagi.

"Kepada mereka yang bertanya mengapa sekarang, saya katakan, mengapa tidak? Ketika kita melihat peta dunia, sudah waktunya bagi kita untuk mengubah narasi."

Dussey juga menekankan bahwa Afrika tidak boleh menunggu izin dari pihak luar untuk memperbaiki representasinya sendiri.

"Sudah waktunya bagi kami di Afrika untuk mengambil tanggung jawab dan mengubah apa yang bisa kami ubah sendiri."

Implikasi bagi Pendidikan dan Literasi Geografis Global

Jika adopsi Equal Earth benar-benar terealisasi di kurikulum dan platform digital, dampaknya akan melampaui perubahan visual semata. Generasi pelajar yang tumbuh dengan peta proporsional akan memiliki pemahaman yang lebih akurat tentang skala ekonomi, populasi, dan kapasitas strategis Afrika. Hal ini berimplikasi langsung pada cara negara-negara menyusun kebijakan perdagangan, kerja sama pembangunan, dan diplomasi yang selama ini mungkin terpengaruh oleh bias visual warisan Mercator.

Di sisi lain, transisi proyeksi juga menuntut penyesuaian teknis yang tidak trivial. Setiap aplikasi pemetaan, sistem informasi geografis, dan materi pendidikan yang telah terintegrasi dengan koordinat Mercator akan memerlukan pembaruan algoritma dan validasi ulang. Proses ini memerlukan koordinasi lintas sektor antara lembaga pendidikan, regulator teknologi, dan komunitas kartografi internasional.

Yang jelas, perdebatan tentang bentuk peta dunia bukan lagi urusan sepihak para ahli kartografi. Ia telah menjadi instrumen diplomasi, alat pendidikan, dan cermin relasi kuasa global. Dari Lome, pesan yang disampaikan Togo dan Uni Afrika sederhana namun tegas: cara dunia menggambar dirinya sendiri menentukan cara dunia memahami dirinya sendiri, dan saatnya gambar itu diperbaiki.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is PBB Diminta Ubah Bentuk Peta Dunia?

PBB Diminta Ubah Bentuk Peta Dunia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does PBB Diminta Ubah Bentuk Peta Dunia matter?

PBB Diminta Ubah Bentuk Peta Dunia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.