TajukNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Pusat Miliarder Asia Ini Malah Tertinggal Booming AI

Published September 28, 2026 · Updated September 28, 2026 · By Jennifer Lopez - tajuknusa.com

Foto : Jennifer Lopez - tajuknusa.com

Hong Kong Tetap Jadi Pusat Miliarder Asia, tetapi Momentum AI Belum Mengangkat Jumlahnya

Tajuknusa.com – Hong Kong masih memegang posisi sebagai kota dengan populasi miliarder terbesar di Asia pada 2025. Akan tetapi, kota ini justru mencatat penyusutan jumlah miliarder ketika kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) memicu penciptaan kekayaan baru secara cepat di berbagai belahan dunia.

Catatan Billionaire Census 2026 dari Altrata menempatkan Hong Kong dengan 106 miliarder pada 2025. Angka itu turun dua orang dibandingkan setahun sebelumnya. Dalam peringkat global, Hong Kong berada di urutan kedua, di bawah New York yang menambah 12 miliarder hingga totalnya mencapai 164 orang.

Posisi berikutnya ditempati San Francisco dengan 99 miliarder. London, Singapura, serta Los Angeles juga masuk jajaran kota yang menjadi magnet bagi kekayaan individu terbesar dunia. Namun, di antara 15 kota dengan konsentrasi miliarder tertinggi, Hong Kong termasuk satu dari dua kota yang mengalami penurunan jumlah. Kota lain yang menghadapi tren serupa adalah London.

Kekayaan Bersih Masih Bertambah

Turunnya jumlah individu superkaya tidak berarti nilai kekayaan Hong Kong ikut menyusut. Total kekayaan bersih miliarder di kota tersebut tetap bertambah hingga US$ 319 miliar. Perubahan ini menunjukkan bahwa kenaikan aset pada sebagian tokoh kaya mampu menutup berkurangnya jumlah anggota kelompok miliarder.

Meski demikian, Hong Kong belum sepenuhnya menikmati dampak lonjakan valuasi perusahaan AI. Pelemahan yang berlangsung lama di sektor properti menjadi salah satu tekanan penting bagi kekayaan di kota itu. Di saat yang sama, portofolio para miliardernya dinilai memiliki paparan yang lebih kecil terhadap sektor-sektor yang mendapat dorongan besar dari perkembangan AI.

Kondisi tersebut kontras dengan pusat teknologi global, terutama kawasan yang menjadi rumah bagi perusahaan perangkat lunak, komputasi awan, semikonduktor, dan platform digital. Ketika valuasi perusahaan teknologi meningkat, kepemilikan saham para pendiri maupun pemegang saham utama dapat melonjak secara langsung.

AI Menjadi Mesin Baru Pembentukan Kekayaan

Sepanjang 2025, AI tampil sebagai salah satu faktor utama yang mempercepat pertumbuhan kekayaan miliarder di dunia. Dari 150 perusahaan terbuka yang memberi sumbangan paling besar terhadap harta kelompok miliarder, perusahaan dengan investasi AI besar mencatat kenaikan kapitalisasi pasar 23% lebih cepat daripada perusahaan yang tidak memiliki komitmen investasi serupa selama 2024 dan 2025.

Altrata mengategorikan investasi AI yang signifikan sebagai penanaman modal setidaknya US$ 30 juta dalam lima tahun terakhir. Definisi itu mencakup investasi yang cukup besar untuk memperlihatkan strategi nyata perusahaan dalam memanfaatkan teknologi tersebut.

Gelombang modal swasta yang mencetak rekor, penawaran saham perdana, dan meningkatnya valuasi perusahaan rintisan AI turut menciptakan deretan miliarder baru. Sumber pertumbuhan ini tidak hanya berasal dari satu jenis bisnis. Ruang lingkupnya mencakup foundation model, layanan cloud, robotika, sampai keamanan siber.

Bagi pembaca, perkembangan ini memperlihatkan bahwa AI bukan lagi sekadar tema teknologi. Teknologi tersebut telah menjadi faktor yang memengaruhi penilaian pasar terhadap perusahaan, arah pendanaan, dan distribusi kekayaan global. Perusahaan yang mampu mengembangkan, menyediakan infrastruktur, atau mendukung penggunaan AI memperoleh perhatian lebih besar dari investor.

Pendiri Teknologi Merasakan Dampak Langsung

Pendiri perusahaan teknologi dan pemegang saham besar berada di antara pihak yang paling diuntungkan oleh lonjakan AI. Kekayaan mereka umumnya terikat pada saham perusahaan. Karena itu, peningkatan harga saham dan valuasi bisnis dapat menaikkan nilai aset pribadi dalam waktu relatif singkat.

Dampak lainnya adalah konsentrasi kekayaan yang semakin kuat di puncak. Pada 2025, terdapat 29 miliarder dunia dengan kekayaan individual lebih dari US$ 50 miliar. Secara bersama-sama, mereka menguasai US$ 4,1 triliun atau 27,2% dari total harta seluruh miliarder global.

Proporsi itu jauh lebih besar dibandingkan 2017. Pada saat itu, kelompok dengan tingkat kekayaan setara hanya memegang sekitar 7,2% dari keseluruhan kekayaan miliarder dunia. Perubahan tersebut menggambarkan bagaimana lonjakan nilai perusahaan besar, terutama di sektor teknologi, dapat memperlebar jarak kekayaan di antara kelompok paling atas dan kelompok miliarder lainnya.

Asia Tetap Mengalami Pertumbuhan

Meski Hong Kong menghadapi tekanan tersendiri, Asia secara keseluruhan tetap mencatat ekspansi jumlah miliarder. Populasi miliarder di kawasan ini tumbuh 6,5% menjadi 881 orang. Penguatan saham teknologi dan perkembangan bisnis AI memberi kontribusi pada pertumbuhan tersebut.

Indeks KOSPI Korea Selatan, yang banyak diisi saham perusahaan teknologi, menjadi indeks saham utama dengan performa terbaik di dunia. Bursa Taiwan, Jepang, dan Hong Kong juga mencatat penguatan yang berarti. Pergerakan pasar ini membantu meningkatkan nilai kepemilikan saham para investor besar di kawasan Asia.

Hong Kong tetap relevan sebagai pusat keuangan dan basis kekayaan Asia. Namun, angka 2025 memperlihatkan tantangan yang harus dicermati: keberhasilan mempertahankan jumlah miliarder tidak hanya ditentukan oleh kekuatan finansial tradisional, tetapi juga oleh keterhubungan dengan sektor pertumbuhan baru seperti AI.

Rekor Baru Miliarder Global

Secara global, jumlah miliarder naik 8,2% menjadi 3.795 orang pada 2025. Ini merupakan pertumbuhan tercepat dalam lima tahun terakhir. Total kekayaan kelompok tersebut meningkat 12,8% hingga mencapai US$ 15,1 triliun.

Amerika Serikat masih menjadi negara dengan jumlah miliarder terbanyak, yakni 1.265 orang. Jumlah itu lebih dari tiga kali lipat dibandingkan China yang memiliki 363 miliarder. Kesenjangan tersebut menegaskan besarnya pengaruh pasar modal, inovasi teknologi, dan ekosistem perusahaan besar Amerika Serikat terhadap penciptaan kekayaan global.

Bagi Hong Kong, kenaikan total harta miliarder menjadi sinyal bahwa kapasitas kekayaannya belum hilang. Namun, penurunan jumlah orang yang masuk kategori miliarder di tengah ledakan AI juga menjadi pengingat bahwa pusat kekayaan global kini semakin dipengaruhi oleh kemampuan beradaptasi terhadap teknologi dan transformasi ekonomi baru.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Pusat Miliarder Asia Ini Malah Tertinggal?

Pusat Miliarder Asia Ini Malah Tertinggal is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Pusat Miliarder Asia Ini Malah Tertinggal matter?

Pusat Miliarder Asia Ini Malah Tertinggal matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.