TajukNusa
Fast mobile article powered by Nexiamath-SEO AMP.
AMP Article

Harga Minyak Dunia Turun, WTI Tinggalkan Level US$ 100

Published September 21, 2026 · Updated September 21, 2026 · By Richard Gonzalez - tajuknusa.com

Foto : Richard Gonzalez - tajuknusa.com

Harga Minyak Melemah saat Ekspor Arab Saudi Mulai Pulih

Tajuknusa.com – Harga minyak dunia bergerak turun pada perdagangan Senin, 21 September 2026, setelah pasar melihat tanda pemulihan pengiriman minyak dari Arab Saudi. Perkembangan ini menjadi perhatian utama pelaku pasar di tengah serangan Houthi yang masih menjaga risiko geopolitik di Timur Tengah pada level tinggi.

Minyak Brent untuk kontrak berjangka turun 81 sen, setara 0,78%, menjadi US$ 103,06 per barel. Pada penutupan perdagangan Jumat, 18 September 2026, Brent juga telah melemah 0,91%.

Tekanan serupa terjadi pada minyak West Texas Intermediate atau WTI. Kontrak minyak acuan Amerika Serikat itu turun 89 sen atau 0,89% ke US$ 99,41 per barel, sehingga kembali berada di bawah ambang US$ 100 per barel. Pada sesi sebelumnya, WTI terkoreksi 1,58%.

Peralihan Jalur Ekspor Saudi

Pasar mencermati kemampuan Arab Saudi mengalihkan pengiriman minyak setelah gangguan terhadap jaringan pipa East-West milik Saudi Aramco. Gangguan tersebut membuat sebagian penyaluran melalui Yanbu dihentikan dan mendorong peningkatan pengapalan lewat Selat Hormuz pada September serta Oktober 2026.

Data sementara dari perusahaan analitik Kpler memperlihatkan ekspor minyak Saudi sepanjang September telah kembali sedikit melampaui 4 juta barel per hari. Jumlah itu melonjak dari 2,4 juta barel per hari pada Agustus 2026, yang merupakan titik terendah setidaknya sejak 2013.

Pulihnya volume ekspor ini memberi sinyal bahwa aliran pasokan dari produsen besar Timur Tengah belum terhenti sepenuhnya, meski risiko terhadap infrastruktur dan rute pengiriman masih ada. Bagi pasar minyak, kemampuan menjaga volume ekspor sangat penting karena perubahan pasokan dapat cepat memengaruhi harga energi global.

“Arus minyak Timur Tengah tetap sangat kuat meski terjadi gangguan pada jalur pipa East-West Arab Saudi,” kata analis JPMorgan dalam catatan tertanggal 18 September 2026.

JPMorgan menghitung rata-rata aliran minyak mencapai 17,1 juta barel per hari dalam 10 hari terakhir. Volume tersebut berada 6,1 juta barel per hari di bawah rata-rata sepanjang 2025.

“Perubahan paling penting datang dari Arab Saudi,” kata analis tersebut.

Data satelit menunjukkan rata-rata pengiriman minyak Saudi melalui Selat Hormuz mencapai 2,9 juta barel per hari dalam enam hari terakhir. Angka itu jauh lebih tinggi dibandingkan sekitar 700.000 barel per hari pada Agustus 2026.

Serangan Houthi Tetap Memperbesar Risiko

Walaupun pasokan Saudi menunjukkan pemulihan, ketegangan kawasan belum mereda. Kelompok Houthi yang didukung Iran menyatakan telah menyerang sejumlah titik yang disebut sebagai fasilitas sensitif di Riyadh, Arab Saudi, pada Sabtu, 19 September 2026, menggunakan rudal dan drone.

Kelompok tersebut juga mengklaim menargetkan fasilitas Saudi Aramco di Yanbu, salah satu pusat ekspor minyak penting di kawasan Laut Merah. Yanbu memiliki peran strategis karena menjadi jalur alternatif bagi pengiriman minyak Saudi yang tidak melalui Teluk Persia.

Serangan terhadap fasilitas energi maupun jaringan pipa berpotensi memengaruhi biaya pengiriman, ketersediaan kapal, dan persepsi risiko di pasar. Namun, penurunan harga pada awal pekan menunjukkan investor juga mempertimbangkan respons logistik Arab Saudi dalam mempertahankan arus ekspornya.

China, Iran, dan AS dalam Sorotan

Situasi regional turut melibatkan China, Iran, dan Amerika Serikat. China disebut meminta Iran membantu mendorong Houthi menghentikan serangan, setelah Arab Saudi meminta dukungan Beijing. Permintaan itu diketahui dari tiga sumber Iran yang memahami persoalan tersebut.

Di sisi lain, hubungan Iran dan Amerika Serikat masih berada dalam kebuntuan. Kedua negara kembali saling melontarkan ancaman pada Minggu, 20 September 2026, sementara upaya membuka kembali jalur diplomasi terus menjadi perhatian pasar.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan terbuka untuk bertemu Presiden Iran Masoud Pezeshkian, yang diperkirakan berada di New York pada pekan ini untuk menghadiri Sidang Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Iran juga telah menyampaikan sejumlah syarat kepada mediator untuk kembali terlibat dalam pembicaraan yang diarahkan pada penghentian perang dengan Amerika Serikat. Kepala keamanan Iran Mohsen Rezaei menyampaikan pernyataan itu dalam wawancara pada Sabtu, 19 September 2026.

Bagi pasar energi, pergerakan harga dalam beberapa hari ke depan akan dipengaruhi dua faktor yang saling berlawanan: keberhasilan Arab Saudi memulihkan ekspor dan kemungkinan eskalasi baru di Timur Tengah. Jika pengiriman tetap lancar, kekhawatiran atas kekurangan pasokan dapat berkurang. Sebaliknya, gangguan lanjutan terhadap infrastruktur atau jalur pelayaran berpotensi kembali memicu volatilitas harga minyak.

Related Reading

Frequently Asked Questions

What is Harga Minyak Dunia Turun WTI Tinggalkan?

Harga Minyak Dunia Turun WTI Tinggalkan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Minyak Dunia Turun WTI Tinggalkan matter?

Harga Minyak Dunia Turun WTI Tinggalkan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.