Baru 15 Persen Rakyat RI yang Nikmati Internet Terjangkau dan Konsisten
Akses Internet Terjangkau Masih Dinikmati Sebagian Kecil Masyarakat
Tajuknusa.com – Konektivitas digital di Indonesia telah menjangkau sebagian besar penduduk, tetapi kualitas dan keterjangkauannya belum dirasakan secara merata. Utusan Khusus Presiden RI Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, menyampaikan bahwa sekitar 80% masyarakat sudah memiliki sambungan internet. Namun, hanya 15% yang dapat menikmati layanan internet dengan biaya terjangkau serta koneksi yang stabil sepanjang hari.
Kesenjangan tersebut menjadi perhatian karena internet kini bukan lagi sekadar sarana komunikasi. Akses digital yang andal menentukan kemampuan masyarakat untuk belajar, bekerja, menjalankan usaha, memperoleh layanan, dan terhubung dengan pasar yang lebih luas. Ketika harga layanan masih membebani atau jaringan tidak tersedia secara konsisten, manfaat ekonomi digital belum dapat dirasakan secara penuh.
Hashim mengangkat isu itu dalam Investor Daily Summit (IDS) 2026 di Jakarta, Rabu (7/10/2026). Ia menempatkan penguatan konektivitas sebagai salah satu unsur yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia, bersamaan dengan pengembangan sektor perumahan dan konstruksi.
“Menurut McKinsey dan Bank Dunia, setiap 10% populasi suatu negara yang terhubung dengan internet terjangkau dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi sekitar 0,7% hingga 1,3% per tahun,” kata Hashim.
Bukan Hanya Soal Jaringan Tersedia
Persoalan akses internet tidak berhenti pada ada atau tidaknya sinyal. Sebuah wilayah dapat tercakup jaringan, tetapi penggunanya belum tentu memperoleh koneksi yang cukup stabil untuk digunakan secara berkelanjutan. Ketersediaan layanan sepanjang hari menjadi penting bagi kegiatan yang mengandalkan komunikasi cepat, transaksi daring, pembelajaran digital, hingga pengelolaan usaha.
Hashim menekankan bahwa angka kepemilikan koneksi yang tinggi tidak serta-merta menggambarkan kualitas pengalaman pengguna. Banyak orang telah terhubung, tetapi masih menghadapi keterbatasan dalam menggunakan layanan internet secara konsisten.
“Memang, sekitar 80% masyarakat memiliki konektivitas atau sambungan internet. Namun, koneksi tersebut belum tentu tersedia secara konsisten sepanjang hari,” ujar Hashim.
Ia membandingkan kondisi Indonesia dengan Korea Selatan, yang disebut memiliki sekitar 99% penduduk terhubung ke internet modern. Perbandingan itu menggambarkan besarnya ruang perbaikan yang masih tersedia, terutama dalam memastikan koneksi tidak hanya hadir secara teknis, tetapi juga dapat diakses dengan mutu dan biaya yang sesuai kemampuan masyarakat.
Biaya Data Menjadi Hambatan bagi Pelajar dan UMKM
Harga akses internet melalui telepon seluler menjadi salah satu tantangan yang perlu diperhatikan. Pengeluaran untuk data mungkin terasa ringan bagi kelompok tertentu, tetapi situasinya berbeda bagi warga dengan daya beli terbatas. Mahasiswa, pelajar, serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah dapat merasakan beban lebih besar ketika internet dibutuhkan setiap hari untuk aktivitas produktif.
“Bagi kita yang berada di ruangan ini, biaya tersebut mungkin tidak terasa mahal. Namun, bagi sebagian besar masyarakat, persoalannya berbeda,” katanya.
Bagi mahasiswa, koneksi yang terjangkau membantu kelancaran akses bahan pembelajaran, komunikasi akademik, dan pengembangan keterampilan. Sementara itu, UMKM membutuhkan internet untuk menjawab pelanggan, memasarkan produk, menerima pesanan, memperluas jaringan pemasok, serta menjangkau calon pembeli di luar lingkungan terdekatnya.
Karena itu, pembahasan konektivitas tidak hanya menyangkut pembangunan jaringan telekomunikasi. Aspek harga, kestabilan layanan, dan kemampuan masyarakat untuk memakai teknologi secara rutin juga menentukan apakah transformasi digital benar-benar membuka peluang ekonomi yang lebih luas.
Konektivitas dan Arah Ekonomi Digital
Ekonomi modern semakin terhubung dengan teknologi digital. Internet yang memadai memungkinkan masyarakat menggunakan layanan berbasis digital secara lebih efektif, sedangkan dunia usaha memperoleh ruang untuk mengembangkan kegiatan komersial dan memperluas pasar. Dalam konteks ini, akses yang murah dan konsisten dapat menjadi pendukung produktivitas di berbagai lapisan ekonomi.
Hashim juga mengaitkan penguatan konektivitas dengan perkembangan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) serta pusat data. Kedua bidang tersebut menjadi bagian penting dalam perkembangan ekonomi digital, tetapi memerlukan pasokan energi yang besar. Artinya, perluasan layanan digital perlu berjalan seiring dengan kesiapan infrastruktur dan ketersediaan energi.
Perkembangan pusat data dan pemanfaatan AI tidak dapat dilepaskan dari kebutuhan listrik yang stabil. Ketika aktivitas digital meningkat, kebutuhan terhadap sistem energi yang mampu menopang infrastruktur tersebut juga ikut bertambah. Oleh sebab itu, strategi pertumbuhan digital perlu mempertimbangkan kapasitas energi secara berkelanjutan.
Indonesia memiliki peluang pertumbuhan melalui sejumlah sektor, termasuk perumahan, konektivitas internet, dan pengembangan teknologi. Namun, potensi itu membutuhkan dukungan infrastruktur yang cukup agar manfaatnya tidak hanya terkonsentrasi pada kelompok atau wilayah tertentu. Perluasan akses internet yang layak dapat membantu lebih banyak masyarakat masuk ke ekosistem ekonomi digital.
Pertumbuhan Ekonomi dan Pertimbangan Lingkungan
Di tengah dorongan untuk mempercepat pertumbuhan, Hashim mengingatkan pentingnya menjaga keseimbangan dengan aspek lingkungan. Pengembangan infrastruktur digital dan kebutuhan energi harus dirancang dalam arah yang selaras dengan keberlanjutan.
“Indonesia perlu mengejar pertumbuhan ekonomi tinggi tanpa mengabaikan aspek lingkungan hidup dan strategi pertumbuhan ekonomi harus dijalankan secara berimbang, termasuk melalui pengembangan energi terbarukan,” tegas Hashim.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa akses internet yang lebih baik bukan tujuan yang berdiri sendiri. Konektivitas dapat menjadi penggerak ekonomi, tetapi efektivitasnya bergantung pada kemampuan Indonesia menghadirkan layanan yang terjangkau, stabil, dan didukung oleh infrastruktur energi yang memadai.
Dengan jumlah masyarakat yang telah memiliki sambungan internet cukup besar, tantangan berikutnya adalah meningkatkan kualitas pengalaman pengguna. Jika lebih banyak warga dapat mengakses internet secara konsisten tanpa beban biaya berlebihan, ruang bagi pendidikan, usaha kecil, inovasi teknologi, dan kegiatan ekonomi digital dapat berkembang lebih luas.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Baru 15 Persen Rakyat RI?Baru 15 Persen Rakyat RI is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Baru 15 Persen Rakyat RI matter?Baru 15 Persen Rakyat RI matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.