Lifestyle

WHO Susun Panduan Makanan Ultra-Proses, Benarkah Tidak Sehat?

codex-62478c165f8c41a38cd6fb72780d6c22

WHO Mulai Menyusun Panduan Konsumsi Pangan Ultra-Proses

Tajuknusa.com – Perhatian terhadap makanan ultra-proses atau ultra-processed food (UPF) semakin menguat seiring langkah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang memulai penyusunan panduan konsumsi kelompok pangan tersebut pada 2025. Isu ini penting karena produk pangan modern hadir luas dalam kehidupan sehari-hari, mulai dari makanan siap saji hingga produk dengan formulasi khusus.

Berbagai kajian ilmiah telah menghubungkan konsumsi UPF yang tinggi dengan sejumlah risiko kesehatan. Tinjauan besar di BMJ pada 2024, misalnya, menemukan keterkaitan antara asupan UPF dan obesitas, diabetes tipe 2, penyakit kardiovaskular, gangguan kesehatan mental, serta kematian akibat berbagai penyebab.

Meski begitu, keterkaitan tersebut tidak otomatis berarti semua produk yang dikelompokkan sebagai ultra-proses pasti buruk bagi kesehatan. Penilaian pangan tetap perlu mempertimbangkan kandungan gizinya, susunan bahan, keamanan, tujuan penggunaan, serta porsi dan frekuensi konsumsi dalam pola makan sehari-hari.

Mengenal Pengelompokan NOVA

Salah satu metode yang sering dipakai untuk membedakan pangan berdasarkan pengolahannya adalah sistem NOVA. Sistem ini membagi makanan ke dalam empat kelompok: pangan tidak diproses atau minim diproses, bahan kuliner olahan, pangan olahan, dan pangan ultra-proses.

Namun, tingkat pengolahan tidak selalu cukup untuk menjelaskan kualitas akhir sebuah produk. Pengolahan pangan dapat dilakukan untuk banyak alasan, seperti menjaga keamanan produk, memperpanjang masa simpan, meningkatkan daya cerna, atau membentuk karakteristik tertentu yang dibutuhkan konsumen.

Pemanasan, pasteurisasi, sterilisasi, fermentasi, pengeringan, maupun pembekuan adalah contoh proses yang tidak serta-merta menjadikan pangan tidak sehat. Teknologi tersebut juga dapat membantu mempertahankan mutu dan memudahkan ketersediaan bahan pangan dalam kondisi tertentu.

Guru Besar Ilmu dan Teknologi Pangan IPB University, Purwiyatno Hariyadi, menilai kompleksitas proses produksi tidak dapat dijadikan satu-satunya dasar untuk menilai mutu pangan.

“Tidak ada dasar ilmiah untuk menyimpulkan bahwa semakin kompleks atau semakin banyak tahapan pengolahan suatu pangan, maka kualitas pangan tersebut pasti semakin buruk. Yang perlu dinilai adalah proses apa yang dilakukan, pada kondisi seperti apa, perubahan apa yang ditimbulkannya, dan atribut mutu apa yang terdampak,” ujar dia.

Ia juga menyoroti bahwa kategori UPF belum memiliki batas atau parameter yang sepenuhnya jelas tentang titik ketika suatu makanan dapat disebut ultra-proses. Klasifikasi itu turut memperhitungkan formulasi dan jenis bahan, padahal proses pengolahan dan formulasi merupakan dua hal yang berbeda.

Fungsi Pengolahan dan Reformulasi

Dalam praktiknya, pengolahan dapat memberikan fungsi yang relevan bagi kebutuhan masyarakat. Fortifikasi, misalnya, memungkinkan produsen menambahkan vitamin atau mineral ke dalam suatu produk. Reformulasi juga dapat dipakai untuk mengurangi atau meniadakan komponen tertentu yang berpotensi meningkatkan risiko kesehatan.

Pengendalian formulasi, tekstur, keamanan, dan kandungan zat gizi menjadi semakin penting pada produk untuk kebutuhan khusus. Bayi, anak usia dini, serta orang dengan kondisi medis atau kebutuhan nutrisi tertentu dapat memerlukan pangan yang dirancang dengan spesifikasi lebih ketat.

International Special Dietary Foods Industries (ISDI) memandang pengelompokan UPF yang terlalu lebar dapat memasukkan produk dengan fungsi serta profil gizi yang sangat berbeda ke dalam satu kategori. Karena itu, label “ultra-proses” perlu dibaca secara lebih cermat, bukan sebagai penilaian tunggal atas kelayakan suatu makanan.

Pakar gizi masyarakat dari IPB, Ali Khomsan, menekankan pentingnya melihat pangan dalam konteks pola makan yang utuh.

“Penilaian pangan tidak bisa hanya dilihat dari tingkat pengolahannya. Yang lebih penting adalah kandungan zat gizi, keamanan, serta bagaimana pangan tersebut dikonsumsi dalam pola makan yang seimbang,” jelasnya.

Contoh pada Produk Susu

Perbedaan tujuan pengolahan dapat terlihat pada berbagai produk susu. Susu UHT menggunakan suhu tinggi dalam waktu singkat untuk membantu meningkatkan keamanan dan memperpanjang masa simpannya. Yoghurt dibuat melalui proses fermentasi, sedangkan susu fortifikasi memperoleh tambahan zat gizi tertentu.

Ketiga produk tersebut memiliki komposisi dan fungsi yang tidak sama. Karena itu, menilai semuanya hanya dari derajat pengolahan berisiko mengabaikan informasi penting mengenai nilai gizi, tujuan konsumsi, serta peran produk dalam menu harian.

Bagi konsumen, meningkatnya pembahasan mengenai UPF dapat menjadi pengingat untuk membuat pilihan pangan dengan lebih sadar. Membaca daftar komposisi, memperhatikan informasi nilai gizi, dan menyesuaikan porsi dengan kebutuhan pribadi merupakan langkah yang lebih berguna daripada langsung menghindari seluruh makanan dalam satu kategori.

Cermat Memilih Pangan Kemasan

Pada pangan olahan dalam kemasan, prinsip Cek KLIK dari BPOM dapat diterapkan sebagai panduan sederhana. Konsumen dianjurkan memeriksa Kemasan, Label, Izin Edar, dan Kedaluwarsa sebelum membeli atau mengonsumsi produk.

Label pangan dapat membantu pembeli memahami bahan yang digunakan serta informasi kandungan gizinya. Data tersebut dapat dipertimbangkan bersama kebutuhan rumah tangga, kondisi kesehatan, dan kebiasaan makan secara keseluruhan.

Pembahasan tentang UPF pada akhirnya bukan sekadar perdebatan tentang makanan yang diproses atau tidak diproses. Tantangan yang lebih besar adalah memastikan masyarakat memperoleh informasi yang jelas agar dapat memilih makanan yang aman, bergizi, dan sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Frequently Asked Questions

What is WHO Susun Panduan Makanan Ultra Proses?

WHO Susun Panduan Makanan Ultra Proses is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does WHO Susun Panduan Makanan Ultra Proses matter?

WHO Susun Panduan Makanan Ultra Proses matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *