Ekonomi

Harga Cabai Rawit Merah Naik 26,22 Persen di Tingkat Grosir

Harga Cabai Rawit Merah Menguat di Pasar Grosir dan Eceran

Tajuknusa.com – Harga cabai rawit merah mengalami kenaikan tajam dalam sepekan terakhir, terutama di tingkat grosir. Kenaikan tersebut terjadi saat pasokan ke Pasar Induk Kramat Jati menyusut, sementara produksi di sejumlah sentra menghadapi tekanan akibat berkurangnya area tanam, cuaca kering, serangan hama, hingga naiknya biaya distribusi.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, dan Pertanian (KPKP), Hasudungan Sidabalok, menyampaikan bahwa penurunan penanaman cabai rawit merah pada Februari sampai Juli 2026 ikut memengaruhi ketersediaan komoditas pada paruh kedua tahun ini. Area tanam tercatat berkurang 14%, sehingga produksi pada Agustus hingga Desember 2026 ikut menurun.

Dampaknya terlihat pada arus pasokan di Pasar Induk Kramat Jati. Pada pekan kelima Agustus 2026, volume cabai rawit merah yang masuk ke pasar induk tersebut turun 10,4%, dari sebelumnya 144 ton menjadi 129 ton.

“Hal tersebut berimbas pada pasokan cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati pada minggu kelima Agustus 2026 yang turun 10,4%, dari 144 ton menjadi 129 ton,” kata Hasudungan di Jakarta, Rabu (9/9/2026).

Kenaikan Harga dalam Sepekan

Di pasar grosir, harga cabai rawit merah meningkat 26,22% dalam satu minggu. Nilainya bertambah Rp10.714 dan mencapai Rp51.571 per kilogram. Perubahan harga di tingkat grosir penting diperhatikan karena menjadi salah satu mata rantai yang dapat memengaruhi harga yang diterima konsumen di pasar-pasar ritel.

Pada tingkat eceran, harga naik 8,13% atau Rp4.919 per kilogram hingga berada di angka Rp65.426 per kilogram. Selisih harga antara grosir dan eceran mencerminkan adanya biaya penanganan, pengangkutan, serta distribusi sebelum cabai tersedia bagi pembeli akhir.

Pergerakan harga secara bulanan juga menunjukkan tekanan yang cukup besar. Harga cabai rawit merah di tingkat grosir melonjak 30,56% menjadi Rp41.686 per kilogram. Sementara itu, harga eceran bertambah 3,03% hingga mencapai Rp60.153 per kilogram.

Cabai rawit merah merupakan bahan pangan yang kerap dibeli dalam jumlah kecil, tetapi perubahan harganya mudah terasa dalam pengeluaran rumah tangga maupun biaya operasional usaha makanan. Ketika pasokan berkurang, harga dapat bergerak cepat karena komoditas ini perlu segera disalurkan dalam kondisi segar.

Kemarau dan Hama Menekan Produksi

Selain penurunan luas penanaman, kondisi puncak musim kemarau menjadi faktor penting yang membebani budidaya cabai. Ketersediaan air yang terbatas dapat menghambat pertumbuhan tanaman. Dalam situasi tersebut, bunga cabai berisiko rontok dan pembentukan buah tidak berlangsung secara maksimal.

Tekanan terhadap tanaman juga meningkat akibat serangan kutu kebul, thrips, tungau, dan ulat. Gangguan hama dapat menurunkan kualitas maupun kuantitas hasil panen, khususnya apabila terjadi bersamaan dengan kondisi tanaman yang mengalami kekurangan air.

“Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak turut memicu peningkatan biaya operasional produksi dan distribusi pangan,” papar Hasudungan.

Kenaikan biaya bahan bakar memberi dampak di beberapa tahap, mulai dari kegiatan produksi hingga pengangkutan pangan menuju pasar. Pada komoditas hortikultura yang harus didistribusikan secara cepat, biaya logistik menjadi salah satu unsur yang perlu dijaga agar tekanan harga tidak makin besar di tingkat konsumen.

Langkah Menjaga Ketersediaan Cabai

Pemerintah menyiapkan sejumlah upaya untuk membantu menjaga stabilitas harga cabai rawit merah. Salah satu pendekatan yang dijalankan ialah pengembangan pertanian perkotaan, yang dapat mendekatkan produksi pangan dengan wilayah konsumsi.

Sepanjang 2026, lahan pertanian perkotaan yang ditanami cabai rawit merah telah mencapai 11,46 hektare. Dari area tersebut, hasil panen tercatat sebesar 45,59 ton. Produksi ini menjadi bagian dari upaya memperkuat ketersediaan pangan di tengah perubahan kondisi pasokan dari daerah produksi.

Dinas KPKP juga menggelar pelatihan diversifikasi olahan cabai dan bawang di seluruh kota serta kabupaten administrasi. Pengolahan pangan dapat menjadi pilihan bagi masyarakat untuk memanfaatkan komoditas ketika tersedia, sekaligus memperluas bentuk konsumsi cabai dan bawang.

Dalam menjaga akses masyarakat terhadap bahan pangan, Pemerintah Provinsi melalui Perumda Pasar Jaya turut menyediakan cabai rawit merah melalui kegiatan pangan murah keliling. Program tersebut diarahkan agar warga tetap memiliki pilihan memperoleh kebutuhan pangan dengan harga yang lebih terjangkau saat pasar menghadapi kenaikan.

“Pemprov melalui Perumda Pasar Jaya turut menyediakan komoditas cabai rawit merah dalam kegiatan pangan murah keliling untuk memastikan masyarakat tetap mendapatkan akses pangan dengan harga terjangkau,” ujar Hasudungan.

Perubahan harga cabai rawit merah memperlihatkan eratnya hubungan antara musim tanam, kondisi cuaca, kesehatan tanaman, biaya produksi, dan kelancaran distribusi. Pemantauan pasokan serta keberadaan jalur pangan terjangkau menjadi penting agar gejolak harga dapat direspons secara lebih terukur dan masyarakat tetap memperoleh kebutuhan dapur dengan akses yang memadai.

Frequently Asked Questions

What is Harga Cabai Rawit Merah Naik 26 22?

Harga Cabai Rawit Merah Naik 26 22 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Harga Cabai Rawit Merah Naik 26 22 matter?

Harga Cabai Rawit Merah Naik 26 22 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *