Nasional

Puan Minta Usulan Peleburan BMKG-Badan Geologi Dikaji

khrisna-gen-1788920540-6fbf2441e3

Kajian Mendalam Disyaratkan Sebelum BMKG dan Badan Geologi Digabung

Tajuknusa.com – Wacana penggabungan dua lembaga negara yang selama ini menangani aspek berbeda dari mitigasi bencana kini mendapat sorotan tajam dari parlemen. Ketua DPR Puan Maharani secara tegas meminta agar pemerintah tidak terburu-buru merealisasikan rencana peleburan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dengan Badan Geologi di bawah Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM). Langkah penggabungan tersebut, menurutnya, harus melewati proses kajian komprehensif terlebih dahulu sebelum dieksekusi.

Dua Mandat yang Berbeda Akar

BMKG selama ini berfokus pada pemantauan cuaca, iklim, dan fenomena geofisika seperti gempa bumi, tsunami, serta aktivitas vulkanik. Lembaga ini menjadi rujukan utama masyarakat dan pemerintah daerah dalam peringatan dini bencana alam. Di sisi lain, Badan Geologi ESDM memiliki mandat yang lebih berorientasi pada pemetaan geologi, survei bawah permukaan, serta dukungan teknis bagi eksplorasi sumber daya mineral dan energi. Perbedaan orientasi tugas inilah yang menjadi alasan utama Puan menolak langkah penggabungan tanpa analisis mendalam.

“Kami meminta itu untuk dikaji dahulu apakah itu diperlukan karena penugasannya dan tugasnya itu berbeda-beda,” ujar Puan kepada wartawan di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (8/9/2026).

Kondisi Dukungan Parlemen

Walaupun demikian, Puan tidak menutup pintu bagi kemungkinan penggabungan. Ia menegaskan bahwa DPR pada prinsipnya bersedia mendukung langkah tersebut apabila hasil kajian menunjukkan bahwa integrasi kedua lembaga akan meningkatkan efektivitas pelaksanaan tugas secara nyata. Syarat utamanya adalah kajian itu sendiri harus menghasilkan rekomendasi yang benar-benar membawa manfaat bagi pelayanan publik, bukan sekadar perubahan struktural tanpa dasar teknis.

“Kalau itu dianggap memang akan lebih efektif, ya tentu saja DPR akan mendukung hal tersebut. Jadi lebih baik dikaji dahulu dan pengkajiannya itu harus memang bermanfaat,” tegasnya.

Kinerja sebagai Tolok Ukur Utama

Puan menekankan bahwa setiap perubahan struktur kelembagaan di sektor kebencanaan harus diukur dari dampaknya terhadap kualitas pelayanan dan respons pemerintah terhadap potensi bencana. Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan lebih dari 500 gunung api aktif dan jalur subduksi yang membentang dari barat hingga timur, menghadapi beban risiko bencana yang sangat tinggi. Dalam konteks tersebut, setiap penataan ulang organisasi yang menyentuh rantai peringatan dini dan pemetaan risiko harus memastikan bahwa kecepatan respons tidak terganggu dan koordinasi lintas sektor tetap terjaga.

Aspek kinerja, lanjut Puan, harus menjadi pertimbangan sentral dalam setiap diskusi mengenai peleburan lembaga. Perubahan yang hanya bersifat administratif tanpa peningkatan substansial pada output pelayanan justru berisiko melemahkan kapasitas negara dalam menghadapi ancaman bencana.

Anggaran BNPB: Besar Bukan Berarti Efektif

Di luar isu peleburan lembaga, Puan juga menyoroti usulan penambahan alokasi anggaran bagi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Ia mengingatkan bahwa setiap tambahan dukungan fiskal harus selaras dengan kebutuhan riil lembaga dan diukur dari peningkatan kinerja yang dapat dipertanggungjawabkan. Peningkatan angka anggaran tanpa korelasi langsung terhadap perbaikan layanan kebencanaan tidak akan mendapat dukungan parlemen.

“Alokasi anggaran selama itu memang bermanfaat bagi kami tidak apa-apa. Namun, harus manfaatnya harus lebih baik daripada sebelumnya,” katanya.

Puan menilai bahwa efektivitas penggunaan dana menjadi parameter krusial agar peningkatan dukungan fiskal benar-benar bertransformasi menjadi dampak nyata pada pelaksanaan tugas pemerintah, mulai dari kesiapsiagaan, respons darurat, hingga rehabilitasi pascabencana.

Implikasi bagi Tata Kelola Kebencanaan Nasional

Posisi Puan ini sejalan dengan prinsip tata kelola yang menekankan bahwa restrukturisasi organisasi publik harus berlandaskan bukti empiris, bukan sekadar pertimbangan politik atau administratif. Bagi masyarakat yang tinggal di kawasan rawan gempa, banjir, atau erupsi vulkanik, kejelasan mandat dan kecepatan respons lembaga terkait merupakan faktor keselamatan yang tidak bisa dikompromikan oleh perubahan struktur tanpa kajian memadai. Proses pengkajian yang diminta DPR diharapkan menghasilkan rekomendasi berbasis data operasional kedua lembaga, sehingga keputusan akhir—baik penggabungan maupun pemisahan—dapat dipertanggungjawabkan secara teknis dan memberikan perlindungan maksimal bagi warga negara.

Frequently Asked Questions

What is Puan Minta Usulan Peleburan BMKG Badan?

Puan Minta Usulan Peleburan BMKG Badan is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Puan Minta Usulan Peleburan BMKG Badan matter?

Puan Minta Usulan Peleburan BMKG Badan matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *