Minyak Mentah Mengintai Ambang US$100 di Tengah Eskalasi Hormuz
Tajuknusa.com – Pasar energi global kembali diuji pada Senin (7/9/2026) ketika harga minyak mentah dunia merangkak mendekati ambang psikologis US$100 per barel, menyentuh level tertinggi dalam hampir enam pekan. Pemicu utamanya bukan spekulasi makroekonomi, melainkan tembakan dan rudal yang menghantui Selat Hormuz serta perairan sekitarnya. Serangkaian serangan balasan antara Amerika Serikat dan Iran terhadap kapal-kapal tanker telah menggerus kepercayaan pelaku pasar terhadap kelancaran pasokan minyak dari Timur Tengah, kawasan yang selama puluhan tahun menjadi nadi utama perdagangan energi dunia.
Lonjakan Harga di Pasar Spot
Di pasar internasional, kontrak berjangka Brent tercatat naik 89 sen, setara 0,92 persen, dan ditutup di US$97,17 per barel. Pada sesi intraday, harga sempat menembus US$97,93 per barel, angka tertinggi sejak 24 Juli 2026. Di pasar domestik Amerika, kontrak West Texas Intermediate (WTI) menguat 79 sen ke US$92,27 per barel, juga mendekati puncak enam pekan terakhir. Kenaikan ini memperpanjang tren penguatan yang sudah berlangsung sejak pekan sebelumnya, ketika Brent melonjak sekitar 8 persen dan WTI melesat hampir 10 persen dalam satu minggu penuh gejolak.
Serangan di Selat Hormuz dan Sekitarnya
Komando Pusat Angkatan Bersenjata AS (Centcom) mengumumkan bahwa pada Sabtu (5/9/2026) pasukannya menargetkan tiga kapal tanker minyak milik Iran. Salah satu di antaranya berada di lepas pantai Pulau Kharg, simpul utama ekspor minyak Iran ke pasar internasional. Sebagai balasan, Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) menyatakan telah menghantam tiga kapal tanker yang melintasi rute tidak berizin di Selat Hormuz, ditambah tiga kapal lain yang memiliki keterkaitan dengan AS di wilayah perairan berbeda.
Di daratan Arab Saudi, kilang minyak Jazan milik Saudi Aramco dilaporkan menjadi sasaran serangan pada Senin. Tingkat kerusakan fasilitas tersebut masih dalam tahap penilaian. Informasi ini pertama kali diungkap oleh Financial Times yang mengutip dua sumber internal yang mengetahui langsung kejadian.
Dimensi Strategis Konflik
Perusahaan intelijen maritim Marisks menilai insiden Sabtu sebagai eskalasi besar dalam konflik yang sudah berlarut. Dalam pernyataan yang dikutip oleh Reuters, Marisks menegaskan:
“Kapal tanker komersial kini sengaja digunakan sebagai instrumen tekanan ekonomi timbal balik, sehingga semakin mengaburkan perbedaan antara konfrontasi militer dan pelayaran komersial.”
Pernyataan tersebut merangkum pergeseran yang mengkhawatirkan: jalur pelayaran komersial yang selama ini dianggap zona netral kini menjadi medan pertempuran de facto. Bagi industri pelayaran dan asuransi maritim, implikasinya langsung terasa dalam bentuk premi yang melonjak dan rute yang terpaksa dialihkan.
Korban dan Evakuasi
Sepekan sebelumnya, sebuah kapal tanker milik Arab Saudi juga menjadi sasaran serangan Iran. Pemerintah Arab Saudi mengonfirmasi dua awak kapal tewas dalam insiden itu. Pada Senin, Oman mengumumkan telah mengevakuasi 16 awak kapal Saudi bernama Sidr yang sebelumnya diserang, sebagai bagian dari upaya kemanusiaan di tengah situasi yang belum menentu.
Penurunan Lalu Lintas dan Sinyal Pasar
Data dari perusahaan analitik Kpler memperlihatkan kontraksi nyata dalam aktivitas pelayaran. Rata-rata hanya 10 kapal komoditas yang melintasi Selat Hormuz setiap hari selama 10 hari terakhir, angka terendah sejak Mei 2026. Selat selebar sekitar 33 kilometer itu secara normal menampung sekitar 20 persen pasokan minyak global, sehingga setiap gangguan di sana langsung beresonansi di seluruh rantai pasok energi dunia.
Head of Market Insights Phillip Nova, Priyanka Sachdeva, memberikan peringatan:
“Jika lalu lintas kapal tanker mulai melambat secara material, pasar dapat memperhitungkan guncangan pasokan yang jauh lebih besar. Dan sudah ada tanda-tanda hal tersebut terjadi.”
Proyeksi dan Langkah Berikutnya
Goldman Sachs memperkirakan harga minyak berpotensi melonjak hingga US$120 per barel apabila intensitas serangan terhadap kapal di kawasan Timur Tengah terus meningkat. Proyeksi tersebut menggarisbawahi kerentanan struktural pasar energi terhadap gangguan geopolitik di satu titik chokepoint.
Dari Teheran, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran Mohsen Rezaei menyatakan bahwa Iran akan mengumumkan zona terbatas baru di luar Selat Hormuz dalam beberapa hari mendatang. Langkah itu, jika terealisasi, akan memperluas area di mana kapal-kapal asing dapat dikenai pembatasan atau risiko militer, menambah lapisan ketidakpastian bagi operator tanker dan pembeli minyak di Asia, Eropa, dan Amerika.
Bagi konsumen akhir di berbagai negara, termasuk Indonesia yang masih mengimpor sebagian kebutuhan BBM dan bahan baku petrokimia, setiap kenaikan US$10 per barel di pasar internasional berpotensi diterjemahkan menjadi tekanan inflasi pada harga bahan bakar, logistik, dan komoditas turunan lainnya. Dalam konteks ekonomi global yang masih rapuh akibat ketidakpastian kebijakan moneter dan perlambatan pertumbuhan, eskalasi di Hormuz menjadi variabel yang sulit diabaikan oleh pembuat kebijakan di mana pun.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Harga Minyak Semakin Mendekati US 100?
Harga Minyak Semakin Mendekati US 100 is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Harga Minyak Semakin Mendekati US 100 matter?
Harga Minyak Semakin Mendekati US 100 matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

