Yaman Terbakar Kembali: Pertempuran Berdarah di Jalur Laut Merah Klaim Ratusan Nyawa
Tajuknusa.com – Yaman barat daya kembali menjadi medan pertempuran paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. Sejak Kamis, 3 September 2026, bentrokan sengit antara pasukan pemerintah pusat dan milisi Houthi yang mendapat dukungan militer dari Iran telah menewaskan lebih dari 300 kombatan serta sejumlah warga sipil. Skala kekerasan ini menempatkan konflik tersebut di antara pertempuran paling mematikan di Yaman sejak gencatan senjata tahun 2022 ambruk pada Juli lalu.
Korban dan Pengungsian Massal
Angka korban terus bertambah seiring berjalannya operasi militer. Dalam rentang waktu Sabtu hingga Minggu pagi, 84 prajurit pemerintah dilaporkan gugur, sebagian besar akibat hantaman rudal. Di sisi lain, empat sumber militer Houthi mengonfirmasi 57 pejuang mereka tewas dalam periode yang sama. Agregasi data dari berbagai kanal militer dan medis kedua belah pihak menegaskan bahwa total korban jiwa telah melampaui 300 orang, termasuk warga sipil yang terjebak di zona tembak.
Dampak kemanusiaan tidak kalah berat. Badan Koordinasi Urusan Kemanusiaan PBB (OCHA) memperkirakan sedikitnya 1.790 keluarga terpaksa meninggalkan rumah mereka akibat penembakan dan bentrokan berat di kawasan Maqbanah dan Jabal Habashi, Provinsi Taiz. Pada Sabtu, 5 September 2026, gelombang pengungsi internal itu berbondong-bondong menuju kamp Al-Bareen. Banyak di antara mereka membawa kasur, ternak, dan barang-barang rumah tangga untuk mendirikan tempat berlindung sementara di kamp-kamp lain di wilayah tersebut.
Suara dari Jalur Lari
Rawdhah Hasan, warga yang terpaksa meninggalkan Maqbanah, menggambarkan pengalaman mengerikan saat melarikan diri:
“Penembakan itu datang dari atas dan dari bawah. Mereka mengepung kami dari segala arah, kami melarikan diri bersama anak-anak kami tanpa sempat memakai sepatu.”
Nimah Saif, pengungsi dari distrik Jabal Habashi, menuturkan bahwa sejumlah warga tewas dan terluka akibat pertempuran. Ia menyaksikan tubuh-tubuh tergeletak di tanah tanpa mampu memberikan pertolongan.
“Kami melihat mereka tergeletak di tanah, tetapi kami tidak dapat membantu siapa pun. Sekarang kami terdampar di sini, kelaparan, tanpa ada makanan.”
Manuver Militer dan Geografi Strategis
Objektif utama serangan Houthi yang dilancarkan Kamis adalah memutus akses menuju kota pelabuhan Mokha, yang berada di bawah kendali pemerintah pusat. Mokha telah menjadi sasaran serangan berulang selama beberapa pekan sebelumnya. Setelah berhasil menekan jalur tersebut, milisi kemudian bergerak menuju wilayah yang berbatasan langsung dengan Selat Bab Al-Mandab, pintu masuk selatan Laut Merah.
Seorang pejabat militer pemerintah mengonfirmasi bahwa pemberontak berhasil memutus jalan penghubung Taiz–Mokha pada Sabtu malam. Pertempuran baru mereda pada Minggu dini hari. Pasukan pemerintah dilaporkan mampu membangun posisi bertahan di utara distrik Hays setelah melakukan kemajuan di kawasan itu. Hays sendiri merupakan distrik garis depan yang berjarak kurang dari 30 kilometer dari pesisir Laut Merah.
Di sisi lain, Houthi disebut telah bergerak ke arah barat Taiz, selatan Hays, dalam upaya mencapai Bab Al-Mandab. Farea Al-Muslimi, pengamat Timur Tengah dari Chatham House yang berbasis di Inggris, menilai bahwa milisi memanfaatkan kelemahan garis depan di Mokha untuk memutus banyak jalur antara Taiz, Bab Al-Mandab, dan Mokha secara simultan.
“Jika mereka memiliki kesempatan untuk sepenuhnya mengambil alih Bab Al-Mandab, mereka tidak akan ragu sedetik pun,”
ujarnya, merujuk pada ambisi Houthi menguasai koridor pelayaran paling vital di kawasan.
Dimensi Geopolitik: Hormuz, Suez, dan Bab Al-Mandab
Pentingnya Selat Bab Al-Mandab kini meningkat drastis. Setelah Iran menutup Selat Hormuz bagi kapal-kapal komersial, jalur sempit di selatan Laut Merah menjadi alternatif utama yang menghubungkan Asia dan Eropa melalui Terusan Suez. Siapa pun yang mengendalikan Bab Al-Mandab pada hakikatnya memegang kendali atas salah satu arteri perdagangan global. Inilah yang membuat setiap pergerakan militer di kawasan tersebut tidak hanya persoalan internal Yaman, melainkan juga isu keamanan maritim internasional.
Respons Internasional
Juru bicara Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menyatakan keprihatinan mendalam atas eskalasi militer yang sedang berlangsung. Ia memperingatkan adanya dampak politik, ekonomi, dan keamanan yang menghancurkan bagi Yaman dan rakyatnya. Pernyataan itu menegaskan bahwa komunitas internasional memandang konflik ini bukan sekadar pertikaian lokal, melainkan ancaman terhadap stabilitas kawasan dan rantai pasok global.
Akar Konflik: Runtuhnya Gencatan 2022
Gencatan senjata antara Houthi dan pemerintah Yaman yang telah bertahan sejak 2022 akhirnya runtuh pada Juli 2026. Pemicunya adalah penyambutan pesawat Iran di ibu kota Sanaa oleh pihak pemberontak, sebuah tindakan yang dianggap pemerintah pusat sebagai pelanggaran kedaulatan dan provokasi terbuka. Insiden itu memicu serangkaian serangan balasan yang kini berujung pada pertempuran berskala besar di jalur menuju Laut Merah.
Bagi jutaan warga Yaman yang sudah bertahun-tahun hidup dalam bayang-bayang konflik, gelombang pengungsian terbaru ini menambah daftar panjang penderitaan yang belum menemukan ujungnya. Sementara dunia menatap Selat Hormuz dan Terusan Suez, nasib mereka di kamp-kamp pengungsian Taiz tetap menjadi pengingat bahwa di balik setiap peta geopolitik, ada manusia yang kehilangan rumah, makanan, dan rasa aman.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Perang Yaman vs Houthi 300 Orang?
Perang Yaman vs Houthi 300 Orang is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Perang Yaman vs Houthi 300 Orang matter?
Perang Yaman vs Houthi 300 Orang matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

